Oleh: Muhammad Zaim
Aku mengenal Bhante Saddhanyano di Biara Zen Plum Village, Prancis, saat aku menjalani laku hidup sebagai seorang biarawan Zen. Bhante Saddha—begitu beliau biasa dipanggil—berperangai lembut, ramah, dan sangat bersahabat.
Beliau mengetahui bahwa aku seorang Muslim, tetapi kami tak pernah memandang diri kami sebagai dua pribadi yang berbeda.
Di Vihara Dharma Bhakti, Bhante Saddhanyano biasa tinggal bersama tiga orang muridnya. Beliau senantiasa melayani umat yang datang, baik untuk berkonsultasi maupun sekadar berdana makanan. Walaupun beliau adalah seorang bhiksu senior dan sangat dihormati di kalangan umat Buddha, kerendahan hatinya begitu terasa. Setiap kali aku berkunjung, beliau selalu menyambutku dengan penuh persahabatan—menjamu dengan makanan, camilan, teh, bahkan menyiapkan kopi.
Bhante Saddhanyano pun tak segan mengajakku ke ruang pribadinya yang terletak di loteng atas. Bangunan itu tidak begitu besar, namun sangat nyaman karena angin dapat berhembus bebas. Dindingnya tidak diplester semen, sengaja memperlihatkan bata merah yang memberi kesan alami. Di sekeliling bangunan masih terdapat ruang terbuka; pada malam hari, dari sana kita bisa menikmati langit Jakarta yang jarang menampakkan bintang akibat polusi cahaya.
Di beranda tempat itu, aku merasa seperti berada di Gombong mini—kampung kelahiran Bhante yang masih sangat asri. Di sisi kiri dan kanan gubuk tumbuh pepohonan hijau yang terawat dengan baik: kelapa mini, jambu, beberapa pohon mangga, dan pohon sawo. Udara terasa sejuk dan alami.
“Pohon mangga ini sudah berbuah tiga kali,” kata Bhante sambil menyentuh lembut daun mangga.
“Sejak ada tanaman di sini, setiap pagi banyak burung berdatangan. Ada prenjak, emprit, bahkan kutilang,” tambahnya.
Kata-kata itu membuatku termenung. Prenjak dan kutilang—di kampungku, kicauan burung-burung itu kini sudah jarang terdengar karena ketidakramahan penghuninya. Namun di Jakarta, kota dengan udara yang telah berselingkuh dengan polusi, mereka justru masih hidup. Aku kira, Bhante Saddhanyano telah menghadirkan mereka kembali melalui pohon-pohon yang ditanamnya. Jika burung-burung itu memiliki tangan, aku yakin mereka akan bersujud kepada Bhante sebagai tanda terima kasih karena telah menghadirkan rumah bagi mereka.
Di Jakarta, ada sebuah kawasan tempat kita tak akan menemukan tumbuhan sama sekali—hanya bangunan dan got penuh sampah. Barangkali para pengembang kawasan itu lebih menyukai hidup tanpa tanaman. Setiap kali melewati daerah tersebut, aku selalu merasa tercerabut dari alam.
Namun berada di tempat Bhante Saddhanyano memberiku ruang untuk sejenak melupakan penatnya kehidupan metropolitan. Jakarta memang kota besar, tempat para pengambil kebijakan belum sepenuhnya sampai pada kesadaran akan pentingnya alam—pohon dan tanaman. Yang ditanam sering kali hanya kawasan protokol, padahal mereka yang tinggal jauh dari sana pun sama-sama membutuhkan oksigen bersih.
Berada di tempat Bhante Saddhanyano membuatku sejenak lupa bahwa aku sedang berada di Jakarta—kota yang kerap terpisah dari alam.
Aku berasumsi, mungkin karena Siddharta Gautama menjalani tapa di bawah sebuah pohon, maka Bhante Saddhanyano pun menyukai pohon. Lebih dari itu, aku yakin karena beliau telah selaras dengan alam. Bhante Saddhanyano mencintai burung, tetapi tidak mengurungnya. Ia menanam pohon dan memberi ruang bagi mereka untuk singgah, atau kelak membuat sarang.
Jika kita mengaku sebagai pecinta burung, namun justru mengurungnya, barangkali kita perlu berkaca pada Bhante Saddhanyano. Benarkah kita mencintai burung—dengan membiarkannya hidup bebas sesuai sifat alaminya—atau sesungguhnya kita hanya ingin memilikinya?















































































































































































