• Friday, 6 March 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Di tengah hangatnya perbincangan tentang intoleransi yang kadang masih mewarnai panggung nasional, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, hadir sebagai oase yang menyejukkan. Bukan hanya sekadar hidup berdampingan, masyarakat di wilayah perbukitan ini telah membuktikan bahwa perbedaan adalah kekayaan yang dirawat turun-temurun.

Kecamatan Kaloran boleh disebut sebagai miniatur Indonesia. Di wilayah ini, agama Islam, Buddha, Kristen, Katolik, dan aliran kepercayaan tumbuh berdampingan. Bahkan, Kaloran dikenal sebagai basis umat Buddha di Kabupaten Temanggung dengan setidaknya 46 vihara yang tersebar di berbagai desa. Kerukunan yang terjalin begitu erat membuat pemandangan satu keluarga dengan keyakinan berbeda atau tempat ibadah yang saling berhadapan adalah hal yang lumrah.

Kini, nilai-nilai luhur itu mulai dirawat sejak usia dini melalui lingkungan pendidikan. Sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kecamatan Kaloran mewujudkan penguatan toleransi dengan cara konkret: membangun fasilitas keagamaan sesuai keyakinan siswa. Salah satunya adalah cetiya, tempat ibadah bagi siswa-siswi beragama Buddha, yang kini berdiri di lingkungan beberapa SD Negeri.

Berdasarkan penelusuran BuddhaZine pada Selasa (24/2/2026) dan wawancara dengan Ketua Kelompok Kerja Guru Pendidikan Agama Buddha (KKG-PAB) sekaligus Guru Agama Buddha di SD N 1 Gandon, Dwi Susanti, dari total 27 SD Negeri di Kecamatan Kaloran, setidaknya terdapat 14 sekolah yang kini telah memiliki bangunan cetiya maupun ruang khusus untuk altar. Sekolah-sekolah tersebut meliputi SD N 2 Kaloran, SD N 3 Kaloran, SD N 1 Kalimanggis, SD N 2 Kalimanggis, SD N 3 Kalimanggis, SD N 1 Gandon, SD N 3 Gandon, SD N 2 Getas, SD N 3 Getas, SD N 4 Getas, SD N 1 Tleter, SD N 2 Tleter, SD N Tempuran, dan SD N Tlogowungu.

“Sekolah saya sendiri membangun cetiya sejak 13 Juni 2009 dan masih bertahan hingga kini,” ujar Dwi saat ditemui di SD N 1 Gandon, Dusun Sembong, Selasa (24/2/2026).

Dwi menjelaskan bahwa pembangunan cetiya di sekolahnya berawal dari tawaran pihak sekolah. Tujuannya jelas, untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lekat akan suasana kebhinekaan serta menjadi wujud nyata implementasi toleransi di lingkungan pendidikan.

“Dulu sewaktu mendapatkan tawaran ini, saya langsung menghubungi para wali murid, kemudian menyebarkan informasi ke sejumlah donatur untuk penggalangan dana. Akhirnya, atas bantuan donatur dan juga iuran dari wali murid Buddha, tempat ini sekarang terbangun,” kenang Dwi.

Dwi menambahkan, keberadaan cetiya di sekolah-sekolah ini tidak hanya untuk mendorong keaktifan siswa dalam bidang agama, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang digalakkan pemerintah. Gerakan tersebut meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat.

“Jadi di cetiya ini, selain untuk puja bakti juga digunakan untuk kegiatan belajar mengajar pada jadwal pelajaran Agama Buddha,” jelas Dwi.

Toleransi yang Dirayakan Bersama

Keberadaan cetiya terbukti lebih mendekatkan para siswa dengan praktik Dhamma dan pembentukan karakter siswa Buddha melalui puja bakti dan meditasi. Jadwal puja bakti di cetiya sekolah ini berbeda-beda, seperti contoh di SD N 1 Gandon setiap hari Selasa dan Sabtu, di SD N 1 Kalimanggis setiap hari Jumat, sementara di SD N Tempuran bahkan setiap pagi sebelum bel masuk kelas berbunyi.

Di SD N 1 Kalimanggis, cetiya tidak hanya difungsikan sebagai tempat kegiatan keagamaan Buddha, tetapi juga menjadi sarana untuk lebih memperkuat toleransi antar siswa. Prastiti, Guru Agama Buddha di SD N 1 Kalimanggis, menceritakan bagaimana kebersamaan lintas iman dirayakan dengan sederhana namun penuh makna.

” Kalau pas hari raya Agama Buddha, kami merayakan di sini. Setelah puja bakti perayaan, biasanya semua siswa, tidak hanya yang Buddha, kami ajak ke cetiya untuk ikut makan bersama. Nanti kalau pas Hari Raya Idul Fitri, anak-anak yang Buddha ikut ke mushola untuk mengucapkan selamat dan makan-makan di sana,” cerita Prastiti.

Peran Aktif Sekolah dan Masyarakat

Pembangunan cetiya melibatkan tidak hanya pihak sekolah atau wali murid, tetapi juga dibantu oleh sejumlah aktivis Buddhis di wilayah Kecamatan Kaloran. Pembangunan ini juga tidak lepas dari peran besar pihak sekolah yang telah memberikan izin pembangunan.

Sawal, Kepala Sekolah SD N 1 Kalimanggis, menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas tersedianya cetiya bagi anak didiknya yang beragama Buddha. Ia berharap, dari sekolah, para siswa mendapatkan bekal untuk bermasyarakat dengan penuh rasa toleransi.

“Bagi siswa didik yang beragama Buddha, ini menjadi sarana untuk memperkuat keyakinan mereka serta menjaga praktik ajaran agama di lingkungan sekolah,” ugkap Sawal.

“Dengan adanya fasilitas ini, tentu anak-anak akan lebih banyak mengenal dan belajar apa itu perbedaan. Sehingga mereka bisa menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai. Kelak, ketika mereka dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat yang beragam agama, mereka sudah punya bekal untuk menerima dan bisa saling rukun berdampingan,” tambahnya.

Lebih dari sekadar bangunan fisik, cetiya di lingkungan sekolah-sekolah Kaloran adalah simbol nyata bahwa kebhinekaan merupakan kekayaan. Di sini, di wilayah perbukitan Temanggung, anak-anak Indonesia sejak dini belajar bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan bersama. Sebuah pelajaran berharga dari desa kecil untuk Indonesia yang besar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *