Foto: Ngasiran
Rangkaian Ajahn Brahmali Tour: Dhamma Inside Indonesia mencapai puncaknya dengan acara penutupan yang meriah di Gedung Yustinus, Universitas Atma Jaya, Jakarta, pada Minggu (9/11/2025).
Tour yang digelar oleh Ehipassiko Foundation ini merupakan bagian dari perjalanan panjang Ajahn Brahmali dalam berbagi kebijaksanaan Dhamma kepada umat Buddha di berbagai kota Indonesia. Sebelumnya, Dhamma Inside telah diselenggarakan di Pekanbaru, Medan, dan Padang, selalu disambut dengan antusiasme dan kehangatan umat.
Ajahn Brahmali, bhikkhu dengan 29 vassa kelahiran Norwegia, dikenal luas sebagai penerjemah Vinaya Pāḷi terlengkap di dunia, sekaligus guru Dhamma dan meditasi yang rendah hati. Murid dari Ajahn Brahm ini kini menetap di Australia dan telah mengajar di berbagai negara. Sosoknya dikenal tegas dalam disiplin monastik, tetapi penuh kelembutan dan humor ketika berbicara tentang kehidupan sehari-hari.

Suasana Hangat Penuh Kebersamaan
Sejak tengah hari, para peserta mulai berdatangan, memenuhi area booth Ehipassiko Foundation yang menampilkan berbagai suvenir dan buku-buku terbitan mereka. Suasana ramai namun tetap tertib. Umat dari berbagai latar belakang agama dan usia tampak saling bertegur sapa, mencerminkan semangat kebersamaan dan keterbukaan.
Ajahn Brahmali tampak ramah melayani peserta yang datang, menandatangani buku, dan meluangkan waktu untuk berfoto bersama. Senyum hangatnya membuat suasana pertemuan terasa akrab dan penuh semangat kebersamaan.
Salah satu yang menarik perhatian peserta adalah boneka “Hello Yellow”, maskot resmi Dhamma Inside. Boneka berwarna kuning cerah itu menjadi suvenir favorit pengunjung. Namun, di balik tampilannya yang menggemaskan, Hello Yellow membawa misi mulia — seluruh hasil penjualannya disalurkan untuk membantu penderita kanker di Indonesia melalui Yayasan Cancer Care Indonesia, di bawah naungan Ehipassiko Foundation.
Pendiri Ehipassiko, Romo Handaka Vijjananda, bahkan turun langsung melayani para pengunjung. Dengan penuh semangat, ia membantu peserta memilih suvenir sambil sesekali berbincang dan berfoto bersama. Aksi sederhana namun penuh makna itu menunjukkan semangat kepedulian yang menjadi napas utama dalam setiap kegiatan Ehipassiko.

Dhamma Talk yang Menyentuh Hati
Menjelang sesi utama, acara dipandu oleh Moderator Romo Handaka Vijjananda dan penerjemah Romo Tasfan Santacitta, yang dengan hangat membawa suasana akrab sebelum Ajahn Brahmali menyampaikan Dhamma Talk.
Dalam pembabaran Dhamma-nya, Ajahn Brahmali mengajak peserta untuk tidak berhenti pada pemahaman intelektual semata, tetapi benar-benar menghidupkan Dhamma dalam keseharian.
“Kadang kita ingin terlihat pandai menjelaskan Dhamma. Tapi yang jauh lebih penting adalah menjadikannya nyata dalam kehidupan sehari-hari — dalam kesabaran, kebajikan, dan welas asih.”
— Ajahn Brahmali, Dhamma Inside, Universitas Atma Jaya, Minggu, 9 November 2025
Ajahn Brahmali juga menyinggung tentang kesadaran (mindfulness) yang sejati bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan atau dibuat-buat. Menurutnya, kesadaran muncul dari ketenangan batin dan sikap menerima kehidupan sebagaimana adanya.
“Ketenangan bukan berarti tidak ada masalah, tetapi kemampuan untuk tetap jernih di tengah apa pun yang terjadi. Saat kita tidak lagi bereaksi, di situlah kebijaksanaan tumbuh.”
Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa praktik Dhamma yang sejati justru tampak dalam tindakan-tindakan sederhana — seperti berbicara dengan lembut, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan membantu orang lain tanpa pamrih.
“Seseorang yang hidup dengan Dhamma tidak selalu terlihat berbeda dari luar. Tapi di dalam dirinya, ada kedamaian yang tidak tergoyahkan.”
Pesan Dhamma yang disampaikan dengan nada lembut dan penuh ketulusan itu menggema di hati para peserta. Banyak yang terdiam, merenung, bahkan meneteskan air mata saat Ajahn Brahmali berbicara tentang kebahagiaan sejati yang lahir dari kebersahajaan dan hati yang penuh cinta kasih.

Kebajikan dan Kepedulian yang Nyata
Acara tidak hanya menjadi ruang pembabaran Dhamma, tetapi juga wadah menumbuhkan kepedulian. Melalui berbagai kegiatan sosial, Ehipassiko Foundation menunjukkan bahwa praktik Dhamma bisa diwujudkan dalam aksi nyata.
Ajahn Brahmali memuji semangat ini dengan mengatakan bahwa kebajikan kecil, bila dilakukan dengan niat tulus, memiliki daya yang luar biasa:
“Kita tidak perlu menunggu momen besar untuk berbuat baik. Setiap senyum, setiap bantuan kecil, adalah benih kebajikan yang suatu hari akan berbuah menjadi kebahagiaan.”
































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































