• Friday, 20 February 2026
  • Ngasiran
  • 0

Perayaan HUT ke-30 Wanita Theravada Indonesia (Wandani) digelar secara daring melalui Zoom dan YouTube dari Jakarta. Acara ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Bhikkhu Uttamo Mahathera dan dr. Sim Mettasari. Ratusan peserta dari berbagai daerah mengikuti acara ini sebagai wujud dukungan bagi kiprah Wandani dalam pembinaan keluarga Buddhis.

Dr. Sim Mettasari membuka pemaparannya dengan menyoroti paradoks zaman digital yang memudahkan akses belajar Dhamma, namun sering membuat orang hanya berhenti pada pemahaman teoritis. Ia menyampaikan, “Sekarang kita bisa belajar Dhamma dari mana saja, tapi sekadar tahu teori tidak membuat kita bijaksana.” Menurutnya, praktik nyata jauh lebih penting daripada sekadar menambah pengetahuan.

Ia menjelaskan bahwa pendidikan karakter tidak bisa dipisahkan dari peran orang tua sebagai teladan utama. “Membangun generasi itu seperti membangun rumah; perlu perencanaan matang dan tanggung jawab bersama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa komunikasi yang jujur, lembut, dan penuh empati menjadi dasar yang harus terus dibiasakan.

Selain soal komunikasi, dr. Sim menekankan pentingnya keteladanan dalam penggunaan gawai di rumah. Orang tua tidak hanya melarang, tetapi juga perlu menunjukkan disiplin dengan membatasi penggunaan ponsel di waktu-waktu penting seperti saat makan dan berbincang dengan anak. Menurutnya, konsistensi orang tua adalah kunci agar nilai-nilai Dhamma tertanam secara alami.

Bhikkhu Uttamo Mahathera melanjutkan dengan mengingatkan bahwa arah perkembangan moral anak ditentukan oleh bimbingan sejak usia sangat dini. Ia menegaskan, “Jangan biarkan anak tumbuh liar tanpa arahan. Pohon yang miring sejak kecil akan sulit ditegakkan ketika sudah besar.” Beliau menekankan bahwa membimbing anak bukan tugas sesaat, tetapi proses panjang yang memerlukan kesabaran.

Bhante juga menjelaskan bahwa pembiasaan berdana dapat menjadi sarana sederhana yang efektif untuk memperkenalkan Dhamma kepada anak. “Berdana bukan sekadar memberi barang, tetapi melepaskan kelekatan,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa latihan melepas ego dan keinginan akan membentuk anak menjadi pribadi yang lebih ringan dan penuh welas asih.

Beliau menekankan bahwa praktik Dhamma seharusnya diperkenalkan dalam suasana penuh kehangatan, bukan sebagai rangkaian larangan. Anak belajar lebih cepat melalui contoh dan kebiasaan harian yang mereka lihat dari orang-orang terdekat. Karena itu, Bhante mengajak para orang tua untuk “menjadi terang yang menuntun terang berikutnya.”

Menutup rangkaian acara, Ketua Umum Wandani, Wenny Lo, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pengurus yang telah mendukung perjalanan panjang organisasi. Ia menegaskan komitmen Wandani untuk terus memperkuat kapasitas para ibu melalui program pembinaan seperti Wandani Basic Dhamma dan Gercep. Acara diakhiri dengan doa bersama untuk kesembuhan Ibu Violi, salah satu pendiri Wandani, serta harapan agar organisasi ini terus menjadi ruang berkarya yang kreatif, profesional, dan membawa manfaat bagi keluarga Buddhis di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *