• Wednesday, 24 September 2025
  • Ngasiran
  • 0

Foto: SS Ngasiran

Suasana hening penuh khidmat terasa sejak fajar, Senin (22/9/2025). Umat Buddha dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul secara daring mengikuti Atthasila Bersama yang kembali digelar oleh Wanita Theravada Indonesia (WANDANI). Dari layar gawai maupun laptop masing-masing, mereka mengikuti pengambilan delapan sila pada pukul 05.00 WIB yang dipandu oleh Bhante Santacitto.

Kegiatan ini bukan yang pertama. Sejak beberapa tahun terakhir, WANDANI secara konsisten menyelenggarakan Atthasila secara daring, bahkan saat masa pandemi. Konsistensi ini lahir dari komitmen organisasi untuk menyediakan ruang pembinaan spiritual bagi umat, khususnya kaum perempuan, agar tetap dekat dengan praktik Dhamma dalam keseharian.

“WANDANI ingin menjaga kesinambungan praktik sila, bukan hanya pada momen tertentu, melainkan menjadi bagian dari rutinitas spiritual umat Buddha,” salah turur Wenny Lo, Ketua Umum WANDANI, dalam kesempatan sebelumnya. Upaya ini sekaligus memperlihatkan peran WANDANI dalam mendukung pembinaan moral dan spiritual yang berakar pada ajaran Buddha.

Pesan Dhamma dari Bhante Santacitto

Selepas seharian menjalani praktik, malam harinya para peserta kembali berkumpul untuk mendengarkan uraian Dhamma dari Bhante Santacitto. Dalam pesannya, Bhante mengingatkan pentingnya kesungguhan menjaga sila.

“Sila itu bukan beban, melainkan pelindung. Dengan menjalankan sila, hati menjadi tenang, pikiran lebih jernih, dan hidup kita tidak mudah goyah oleh godaan duniawi,” ujar Bhante Santacitto.

Bhante lalu menegaskan bahwa sila tidak berhenti pada pengucapan atau prosesi formal, tetapi harus dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut beliau, sila adalah fondasi yang menopang dua aspek lain dari latihan Buddhis: samadhi (konsentrasi) dan panna (kebijaksanaan).

“Kalau kita bisa menjaga sila dalam setiap langkah, maka Dhamma hadir dalam hidup kita, bukan hanya saat di vihara atau saat acara khusus,” lanjut Bhante.

Beliau menjelaskan lebih jauh, ketika seseorang melanggar sila, batinnya akan diliputi rasa bersalah dan gelisah. Perasaan ini menjadi penghalang besar bagi ketenangan batin. Sebaliknya, sila yang terjaga menghadirkan perasaan lega, tenteram, dan bebas dari beban.

Bhante juga mengaitkan relevansi sila dengan kehidupan modern. Sila pertama, tidak membunuh, bisa dimaknai lebih luas sebagai kepedulian terhadap alam dan sesama makhluk hidup. Sila keempat, tidak berbohong, menjadi pengingat penting di era media sosial ketika kabar palsu dan ujaran kebencian begitu mudah menyebar.

“Setiap sila itu melindungi kita. Kalau kita menjaga ucapan, kita terhindar dari konflik. Kalau kita mengendalikan nafsu, kita terhindar dari penderitaan yang muncul karena keinginan yang tak pernah puas. Sila adalah cara Buddha menunjukkan jalan menuju kebahagiaan sejati,” jelas Bhante.

Ruang Spiritual Bersama

Konsistensi WANDANI dalam menggelar Atthasila bersama menjadi ruang spiritual yang mempertemukan umat lintas daerah. Dari kota besar hingga desa kecil, semua terhubung dalam semangat yang sama: melatih diri dalam sila, mendengarkan Dhamma, dan memperkuat batin.

Di tengah kesibukan modern, kegiatan ini memberi jeda yang menenangkan. Bagi banyak peserta, Atthasila daring WANDANI bukan sekadar acara, melainkan oase batin yang mengingatkan kembali pada inti ajaran Buddha: sila, samadhi, dan panna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *