Foto: Dok. MBI Meranti
Di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, umat Buddha merupakan komunitas terbesar kedua setelah umat Muslim. Mereka tersebar dari perkotaan hingga pelosok daerah terpencil, termasuk banyak suku asli seperti Suku Akit yang memeluk agama Buddha. Di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), pembinaan umat dimulai sejak 2015, ketika para penggiat Dharma turun langsung memperkenalkan ajaran Buddha.
Banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari minimnya pemahaman ajaran hingga persoalan administrasi seperti pernikahan yang hanya dilakukan secara adat tanpa pengesahan agama maupun negara. Menyikapi hal itu, pada 2017 Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) Kabupaten Kepulauan Meranti bekerja sama dengan berbagai pihak melaksanakan pemberkatan perkawinan massal. Program ini kemudian berkembang mencakup pelayanan pendidikan, pembangunan vihara, dan penyelenggaraan Sekolah Minggu Buddha. Hingga kini, sudah ada enam desa yang mulai memiliki vihara, cetiya, atau Sekolah Minggu Buddha, yaitu Renak Dungun, Sungai Baru, Semukut, Kundur, Tenan, dan Sesap. Sementara sebagian umat di desa binaan baru masih harus memanfaatkan balai sosial untuk kegiatan pembinaan.

Dua wilayah binaan yang kini menjadi prioritas adalah Desa Batin Suir dan Dusun Nerlang di Desa Sungai Tohor Barat. Batin Suir dihuni sekitar 50 kepala keluarga umat Buddha dengan 40 siswa Sekolah Minggu Buddha. Pada 19 Maret 2025, desa ini mencatat sejarah dengan pemberkatan perkawinan massal bagi delapan pasang pengantin. Prosesi berlangsung di Balai Desa karena hingga kini Batin Suir belum memiliki vihara atau cetiya.
Adapun Dusun Nerlang, Desa Sungai Tohor Barat, juga tengah menjadi fokus utama pembangunan dan pembinaan umat. Dusun ini memiliki 257 jiwa umat Buddha, yang pada 4 Agustus 2025 menggelar pernikahan massal bagi warganya, sekaligus memperkuat tekad untuk menghadirkan sarana keagamaan yang lebih baik bagi komunitas Buddha di sana.
Pemberkatan pernikahan di Batin Suir dan Nerlang menjadi tonggak penting bagi umat Buddha di Kepulauan Meranti. Ke depan, kedua wilayah ini sangat membutuhkan pembangunan vihara agar kegiatan keagamaan dan pembinaan Dharma dapat berlangsung lebih layak dan berkesinambungan.





































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































