• Tuesday, 2 September 2025
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Ngasiran

Raut bahagia tampak jelas di wajah umat Buddha Vihāra Giri Santi Loka, Dukuh Guwo, Desa Blingoh, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, pada Sabtu, 30 Agustus 2025. Senyum, haru, dan kebanggaan bercampur jadi satu. Di tengah alam pegunungan Jepara Utara, umat Buddha merayakan sebuah momen bersejarah: Puja Bakti Āsāḷha sekaligus Abhiseka Dhammāsālā Terbuka.

Dhammāsālā baru itu berdiri megah di halaman vihāra. Bukan sekadar tempat untuk berkumpul, melainkan sebuah mahakarya spiritual. Di dalamnya terdapat Buddharūpa dalam posisi berjalan membabarkan Dhamma, didampingi dua murid utama, serta dua relief batu alam yang sarat makna.

Sejak sore hari, rangkaian perayaan dimulai dengan puja bakti di Goa Meditasi, sekitar satu kilometer dari vihāra. Jalan setapak yang melintasi pepohonan menjadi saksi ratusan umat Buddha, bhikkhu Saṅgha, sāmaṇera, hingga para sesepuh Dukuh Guwo yang berkumpul dengan penuh khidmat. Dipimpin Bhikkhu Khemadiro, lantunan paritta suci menggema, memantul di dinding goa, menyatu dengan keheningan alam. Suasana terasa begitu sakral, seolah alam ikut memberi restu.

Dari goa itu, umat kemudian memulai perjalanan puja, pujayātrā. Barisan panjang bergerak anggun melewati sawah dan perbukitan. Di barisan depan, Sang Merah Putih berkibar, diikuti pembawa stūpa, cakka, dan sarana puja. Para sesepuh dengan tenang membawa kendi berisi air. Di tengah barisan, Buddharūpa berjalan membabarkan Dhamma, bersama dua murid utama, ditandu dengan penuh hormat. Di belakangnya, gunungan hasil bumi melambangkan kemakmuran, diikuti Bhikkhu Saṅgha, pengurus Keluarga Buddhis Theravāda Indonesia (KBTI), dan umat Buddha.

Meski tandu Buddharūpa dan gunungan hasil bumi cukup berat, senyum umat tak pernah pudar. Lantunan puja terus mengalun sepanjang perjalanan hampir satu jam. Saat barisan tiba di vihāra, matahari sudah tenggelam. Senja menorehkan warna keemasan di langit, menambah indah suasana. Ribuan umat dari berbagai vihāra se-Karesidenan Pati sudah menunggu. Ada yang menaburkan bunga di jalan, ada pula yang berañjali dengan penuh hormat. Sore itu, Vihāra Giri Santi Loka benar-benar menjadi pusat kebahagiaan dan berkah.

Jejak Awal Umat Buddha di Dukuh Guwo

Cikal bakal agama Buddha di Dukuh Guwo mulai tumbuh sejak 1965, dan resmi hadir setahun kemudian pada 1966. Saat itu Kasbu dari Dusun Senggrong, bersama Kalam dan Karni dari Desa Tunahan, mulai mengajarkan puja bakti dari rumah ke rumah. Karena sulit menghafal paritta, Kasbu menggunakan cara sederhana dengan mengubah lafal menjadi ungkapan lokal, seperti “Gedang Selirang Pangani” untuk mengingat Buddhaṃ Saraṇaṃ Gacchāmi.

Pada 1967 umat bergotong-royong mendirikan cetiya sederhana di lahan warga, berdinding bambu, beratap daun welit, dan berlantaikan tanah. Saat puja bakti, umat membawa tikar dari rumah masing-masing sebagai alas duduk. Hingga 1980, bangunan cetiya ini berpindah-pindah sebanyak empat kali.

Tahun 1982 menjadi tonggak penting. Umat berhasil membeli sebidang tanah seharga Rp 80 ribu untuk mendirikan vihāra permanen. Pembangunan sempat tertunda, namun pada 1985 umat kembali bergotong-royong membangun cetiya baru yang kemudian dikenal sebagai Vihāra Gendong. Nama ini muncul karena seluruh material pembangunan digendong dari Desa Blingoh yang berjarak lebih dari tiga kilometer. Pembangunan berlangsung hingga 1990, dengan atap masih dari welit, namun lantainya sudah ditegel.

“Saya mendengar dari Bhante Dhiracitto, pada awalnya membangun vihāra ini tidak mudah. Jalan yang ada hanya jalan setapak. Umat membawa material pembangunan dengan digendong dari Sima. Karena itu, vihāra ini juga dikenal sebagai vihāra gendong,” ujar Bhante Paññavaro sebelum memulai pesan Dhamma. Bhante Sri Paññavaro hadir khusus dalam acara ini sebagai bentuk dukungan kepada umat Buddha Jepara.

Dhammacarikā di Relief Batu

Tak hanya itu, Bhante Sri Paññavaro juga yang membantu merancang Dhammāsālā Terbuka Vihāra Giri Santi Loka hingga tampil megah, indah, dan sarat dengan makna spiritual. “Karena umat semakin banyak dan ruang kebaktian tidak lagi memadai, muncul ide untuk membuat Dhammāsālā Terbuka. Awalnya hanya panggung sederhana. Kemudian Bhante Dhiracitto berinisiatif membangun panggung ini, hingga menjadi Dhammāsālā yang indah dengan Buddharūpa dan relief dari batu alam, sama dengan batu Candi Borobudur, bukan dari semen. Relief seperti ini belum pernah dibuat di vihāra lain, dan Giri Santi Loka yang pertama mengangkat tema ini,” tutur beliau.

Menurut Bhante, relief itu sendiri bukan sekadar hiasan, melainkan pengajaran. Pada panel relief di sebelah kiri terpahat kisah Brahmā Sahampati yang memohon kepada Buddha agar membabarkan Dhamma, khotbah pertama kepada lima murid, hingga peristiwa Magha di mana 1.250 arahanta berkumpul mendengarkan Ovada (petunjuk) dari Buddha Gotama.

Menurut Bhante, relief tersebut adalah Dhammacarikā, perjalanan Buddha Gotama membabarkan Dhamma selama 45 tahun.

Bhikkhu Sri Paññāvāro menekankan bahwa relief yang dihadirkan di Vihāra Giri Santi Loka sangatlah tepat. Relief itu bukan sekadar hiasan, melainkan cerminan semangat umat Dukuh Guwo yang sejak lama tidak hanya berbakti di kampung halaman, tetapi juga berkelana demi Dhamma. Dari Guwo telah lahir banyak generasi yang mengabdi di berbagai bidang: ada yang berkarya sebagai staf vihāra, ada pula yang dipercaya menjadi Pembimas Buddha di Papua, ada yang menekuni dunia akademik hingga menjadi dosen dan rektor di Institut Nalanda, bahkan ada yang terjun di bidang jurnalistik.

Semua capaian itu, menurut Bhante, merupakan buah jasa besar umat dan para bhikkhu yang lahir dari Guwo, terutama Bhikkhu Dhiracitto yang dengan penuh kesetiaan terus membimbing umat.

“Semua ini adalah hasil dari benih kebajikan yang ditanam dengan tekun. Vihāra ini bukan hanya bangunan, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang hidup dalam diri umat,” pesan Bhikkhu Sri Paññāvāro Mahāthera menegaskan.

Malam itu, suasana di Vihāra Giri Santi Loka begitu khidmat. Perayaan Āsāḷha, Abhiseka Dhammāsālā, dan mengenang kembali perjalanan Vihāra Gendong berpadu menjadi satu. Lebih dari sekadar seremoni, momentum ini menjadi pengingat akan ketekunan, perjuangan, dan cinta umat terhadap Buddha Dhamma.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *