• Friday, 20 February 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Sutta Anuyoga

Sabtu, 14 Februari, ketika sebagian besar orang merayakan cinta dengan bunga dan cokelat, komunitas MyndfulAct justru memilih membahas tema yang kerap dianggap sebagai kebalikan dari cinta: kematian dan kerentanan. Bertempat di Jogja Village Inn, acara bertajuk “Love and Death: Celebrating Valentine and Honoring Vulnerability” ini menghadirkan tiga pembicara: Rev. Jotetsu Nemoto, Gelong Ugyen Pema Lundup, dan praktisi kesehatan mental Asta Dewanti. Tujuannya sederhana namun mendalam: membuka ruang aman untuk melihat bahwa mencintai juga berarti berani menghadapi kehilangan.

Rev. Nemoto, Biksu Zen Rinzai dari Jepang yang dikenal melalui film dokumenter The Departure, menekankan bahwa kematian adalah guru yang mengajarkan kita arti kehadiran. “Seringkali kita takut pada kegelapan, namun hanya dalam kegelapan kita bisa melihat bintang,” ujarnya. Dedikasinya mendampingi mereka yang berada di ambang keputusasaan memberi bobot emosional tersendiri pada diskusi ini.

Asta Dewanti melengkapi pembahasan dari sisi psikologi, terutama tentang bagaimana tubuh dan pikiran menyimpan memori luka. Ia mengingatkan, “Kita perlu memberikan ruang aman bagi diri sendiri sebelum bisa memberikan ruang itu bagi orang lain.” Sementara Gelong Ugyen Pema Lundup membawa perspektif spiritual Buddhis yang aplikatif dalam menghadapi transisi hidup dan tekanan emosional masa kini.

Di tengah perayaan Valentine yang sering berfokus pada kebahagiaan permukaan, acara ini mengajak peserta memandang kematian bukan sebagai lawan hidup, melainkan sebagai pengingat keterbatasan waktu. Kesadaran akan kefanaan (anicca) menjadi dasar cinta kasih yang lebih jujur dan mendalam. “Kita sering mengira cinta berarti memiliki selamanya. Padahal justru karena hidup terbatas, setiap momen jadi berharga,” ungkap salah satu pembicara.

Puncak acara adalah pemutaran film The Departure, yang menggambarkan keseharian Rev. Nemoto mendampingi mereka yang ingin mengakhiri hidup. Ruangan menjadi hening, beberapa peserta menyeka air mata. “Menonton film ini membuat saya sadar bahwa mendengarkan adalah bentuk tertinggi cinta kasih,” ujar seorang peserta. Setelah sesi emosional tersebut, acara dilanjutkan dengan meditasi terpandu untuk membantu peserta mengintegrasikan pengalaman batin yang muncul.

Melalui rangkaian dialog, film, dan praktik meditasi, MyndfulAct berhasil menciptakan ruang refleksi yang lembut namun jujur. Peserta diajak menghormati kerentanan sebagai bagian alami dari kehidupan, bukan sesuatu yang harus disembunyikan. Dalam suasana teduh pagi itu, Valentine berubah menjadi perjalanan pulang untuk mengenali sisi diri yang rapuh namun tetap berharga.

Acara ditutup dengan sesi refleksi bersama. Bagi banyak peserta, momen ini menjadi pengingat bahwa cinta bukan hanya tentang kebahagiaan yang dirayakan, tetapi juga keberanian menemani seseorang dalam kesedihan. Seperti yang disampaikan salah seorang peserta, “Terkadang, bentuk cinta tertinggi adalah mampu hadir tanpa berusaha mengubah apa pun.”

Di tengah riuh perayaan Valentine di Yogyakarta, mereka yang hadir di Jogja Village Inn pulang dengan pemahaman baru: bahwa kematian bukan untuk ditakuti, melainkan untuk mengajarkan kita mencintai kehidupan dengan lebih jernih dan sepenuh hati.

_

Artikel ini ditulis oleh: Ervina Sylani dan Dwi Lestari (Mahasiswa Magang di BuddhaZine).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *