• Thursday, 3 November 2022
  • Surahman
  • 0

Mindfulness sekarang sudah menjadi istilah yang tidak asing. Bahkan kini menjadi trend dalam kehidupan manusia modern. Pada masa pandemi, kesadaran masyarakat menerapkan cara hidup mindfulness meningkat. Mindfulness dinilai bermanfaat dan memberikan ketenangan di tengah-tengah situasi mencekam.

Tidak hanya masyarakat di Indonesia, mindfulness juga menjadi gaya hidup di penjuru dunia. Bahkan banyak dokter yang juga memberikan tanggapan positif, bahwa salah satu teknik meditasi dalam Agama Buddha ini bisa bermanfaat untuk menjaga kesehatan mental maupun tubuh. 

Penjelasan lebih dalam tentang mindfulness ini juga dipaparkan oleh Bhante Nyanasila dalam sebuah acara Workshop Meditasi “Mindful Living” di atrium 6 Tunjungan Plaza, Surabaya, Kamis (13/10). Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian Mindful Festival yang diselenggarakan oleh Young Buddhist Association (YBA) dan gabungan mahasiswa Buddha Surabaya. Festival ini dilaksanakan selama lima hari dan Workshop Meditasi mengisi di hari kedua dengan diikuti oleh puluhan umat Buddha di Surabaya.

Sesuai dengan tema “Mindful Living” yang dimaknai sebagai praktik mindfulness dalam kehidupan sehari-hari, Bhante Nyanasila memberikan penjelasan dan cara mengaplikasikannya dalam setiap aktivitas keseharian. Menurut bhante, mindful  berbeda dengan meditasi tetapi merupakan salah satu teknik meditasi yang diajarkan oleh Buddha. Teknik yang digunakan untuk mengembangkan kemampuan hadir pada saat ini dan untuk bebas dari penderitaan. 

“Saya katakan teknik, karena ini adalah salah satu cara atau metode untuk melakukan meditasi. Dan mindfulness ini adalah suatu kemampuan, artinya ini adalah sesuatu yang harus dilakukan secara sengaja. Mindfulness itu bukan dilakukan dengan tanpa sengaja, tapi dengan sengaja,” paparnya mengawali penjelasan.

Bhante mengartikan mindful dengan istilah Satipatthana yang termuat dalam Maha Satipatthana. Satipatthana  memiliki dua akar kata yakni Sati dan Upatthana. Upatthana berarti hadir, sedangkan Sati adalah perhatian. Dengan kata lain mindfulness berarti menghadirkan perhatian penuh. 

“Ini teknik untuk meditasi dengan menghadirkan perhatian penuh,” imbuhnya.

Melanjutkan penjelasannya, bhante menyampaikan bahwa perhatian yang dimaksud mengacu kepada  mencermati dan  mengamati. Dimana dalam praktik mindfulness seorang meditator menghadirkan perhatian untuk membawa batin pada moment saat ini, untuk hanya mencermati dan mengamati segala kondisi yang muncul dengan tidak mengomentari, tidak mengintervensi. Artinya kondisi apapun yang muncul dijadikan objek untuk diamati dan dicermati karakteristiknya. 

“Misalkan muncul kegelisahan. Kegelisahan ini memiliki karakteristik secara esensi adalah berubah. Maka hanya diamati saja, karena teknik meditasi mindfulness atau Satipatthana kalau di dalam ajaran Buddha ini meditasi untuk empat kebenaran mulia. Memahami Dukkha,” bhante memberikan contoh. 

Empat Kualitas Mental dalam Mindfulness

Lebih jauh bhante menjelaskan bahwa dalam ajaran Buddha ada empat kualitas mental yang harus dihadirkan dalam mempraktikkan mindfulness. Kualitas pertama adalah upaya imbang yang dilakukan secara terus menerus. Dengan upaya dan latihan yang dilakukan secara konsisten maka akan membuahkan sebuah kemampuan untuk tetap menghadirkan perhatian penuh pada setiap moment maupun aktivitas dalam kehidupan sehari-hari. 

“Maka saya katakan ini sebagai sebuah kemampuan karena ini merupakan hasil dari sebuah latihan yang dilakukan secara terus menerus. Jadi ini satu kualitas batin pertama yang harus dimiliki oleh seseorang untuk mempraktikkan mindfulness. Upaya imbang secara terus menerus disebut sebagai atapi.

“Yang kedua adalah arti dari mindfulness itu sendiri yakni Sati, perhatian. Hadirnya perhatian pada setiap momen. Kemudian Sampajanna, itu tahu jelas. Artinya mengerti pergerakan batin kita, apakah batin terbawa masa lalu atau terbawa oleh masa depan atau sedang berada pada saat ini. Itu tahu jelas.”

Sementara kualitas yang keempat bhante menyebutnya dengan bebas.  Artinya bebas dari cengkeraman dan penolakan. Cengkeraman menjadi akar dari keserakahan, sementara penolakan ini akar dari kebencian, ketidaksukaan. Bisa diartikan kualitas batin keempat adalah bebas dari keserakahan dan kebencian.

Sehubungan dengan mindfulness adalah hasil dari latihan, bhante menganjurkan untuk mempraktikkan secara terus menerus hingga menjadi sebuah kebiasaan. Hal ini dikarenakan kondisi batin seseorang tidak bisa diam, yang menyebabkan munculnya ketidakbahagiaan. Oleh karenanya perlu upaya untuk menenangkan. Upaya inilah yang menurut bhante merupakan upaya benar dimana menjadi salah satu unsur dari delapan jalan tengah. 

“Batin kita ini tidak mau diam. Coba kita perhatikan batin kita, diajak untuk perhatian ke satu objek atau satu moment itu lari kemana-mana. Kalau tidak terbawa ke masa lalu, terbawa ke masa depan, atau terjebak oleh penolakan seperti menolak pengalaman yang tidak menyenangkan. Sehingga batinnya menjadi tidak bahagia, nanti ada kegelisahan, kecemasan muncul di sana. Atau ada hal yang menyenangkan, dia ingin terus mengejar, menikmati dan mempertahankan.”

“Dalam mindfulness itu empat karakteristik mental ini harus dihadirkan. Mulai dari upaya yang terus menerus dilakukan dan perlu fokus.  Karena sudah terlatih akhirnya kita bisa fokus terus menerus setiap saat. Jadi ketika anda duduk ya hanya duduk saja, ketika anda mendengar ya hanya mendengar saja, hanya mendengar. Dalam setiap aktivitas yang anda lakukan, anda bisa fokus dan mengamati apa adanya.”

Mindfulness Membawa Pada Realita

Bhante mengatakan betapa pentingnya mindfulness dalam menjalani kehidupan yang serba tidak pasti dan selalu berubah. Tanpa mindfulness, seseorang akan mudah goyah dan menderita menghadapi kondisi yang tidak diinginkan dalam kehidupannya. Baik kondisi yang ringan maupun yang berat. Mindfulness membawa seseorang untuk hidup dalam realita, bukan logika.

“Di sinilah pentingnya mindfulness, kita akan diajak untuk berada pada realita, bukan logika. Misalnya kalau kita terbawa dengan yang masa lalu, logikanya bakso itu rasanya seperti yang kemarin. Tetapi ketika kita makan bakso hari ini dan rasanya beda, kita akan kecewa. Ini contoh yang kecil. Kenapa kecewa, karena tidak bisa menyadari rasa bakso yang saat ini, tidak bisa menikmati, karena kita masih melekat rasa bakso yang kemarin. Itulah mengapa mindfulness mengajarkan kita untuk berada pada realita, supaya kita bisa tenang, bahagia dan menikmati setiap moment,” tegas bhante. 

“Mindfulness akan menjaga batin kita itu untuk tidak banyak menerima sampah dan mengolah sampah. Ketika sampah itu masuk, ada kemarahan dan lain sebagainya kita tahu, sampahnya diolah agar tidak busuk. Karena dalam konsep Buddhis, karma itu tidak harus berbuah.  Ketika ada kemarahan hadir, kegelisahan hadir, tidak harus berkembang kok, bisa diberhentikan saat itu juga. Nah mindfulness akan membantu kita di sana,” pungkasnya. [MM]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *