• Wednesday, 10 December 2025
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Kunjungan sepuluh delegasi lintas agama dari Austria pertengahan bulan lalu menjadi momen berharga untuk mempelajari dan melihat secara langsung praktik kerukunan dalam masyarakat Indonesia, khususnya antarumat beragama dan antarmazhab dalam satu agama. Dialog hangat terjalin antara delegasi dengan perwakilan Sangha di Griya Vipasana Avalokitesvara, Mungkid, Magelang, pada Sabtu (15/11/2025), usai mereka mengunjungi Candi Borobudur.

Diskusi yang berlangsung sekitar satu jam itu menghadirkan tiga anggota Sangha dari mazhab berbeda: Suhu Phusan (Mahayana), Bhante Subhacaro (Theravada), dan Lama Karma Konchok Norbu (Vajrayana). Para delegasi tampak antusias mempelajari kehidupan bertoleransi, khususnya di kalangan internal umat Buddha.

Dalam sambutannya, Suhu Phusan menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut. Ia menekankan dukungan umat Buddha, meski secara jumlah minoritas, terhadap program kerukunan yang digalakkan pemerintah.

“Selamat datang di Magelang. Umat Buddha di Indonesia memang minoritas, tetapi kami sangat mendukung program toleransi dan kerukunan umat beragama,” ujar Suhu Phusan.

Ia kemudian mengarahkan perhatian pada Kabupaten Temanggung, yang disebutnya sebagai salah satu basis umat Buddha di Indonesia, berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Borobudur.

“Di sana banyak sekali vihara. Kerukunan terjalin harmonis. Saat umat Buddha membangun vihara, tidak ada penolakan. Umat Muslim dan Kristen justru turut membantu. Begitu pula sebaliknya, umat Buddha ikut mendukung pembangunan masjid atau musala,” jelasnya.

Penjelasan itu memancing keingintahuan seorang peserta mengenai faktor pendukung terciptanya toleransi di Temanggung. Bhante Subhacaro menjelaskan bahwa kesadaran masyarakat di sana sudah sangat maju.

“Kita saling memahami. Umat Buddha di Indonesia dikenal tidak menimbulkan masalah dengan keyakinan lain. Ajaran Buddhisme seperti metta (cinta kasih), karuna (kasih sayang), dan mudita (ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain) adalah dasarnya. Ini sejalan dengan filosofi Jawa, ‘yen ora gelem dilarani, aja nglarani’ (kalau tidak mau disakiti jangan menyakiti). Itulah salah satu sebab kerukunan di Temanggung,” papar Bhante Subhacaro.

Ketertarikan beralih kepada kerukunan internal umat Buddha yang terdiri dari berbagai mazhab. Prof. Gerhard Weissgrab, Ketua Austrian Buddhist Union, bertanya bagaimana komunikasi dan kerja sama yang baik dapat terjalin di tengah perbedaan perspektif.

Suhu Phusan menjawab dengan menelusuri akar sejarah Buddhisme di Indonesia pada era Sriwijaya dan Majapahit, sambil menekankan pentingnya ajaran dasar yang sama.

“Setiap sekte mungkin punya ritual dan bahasa kitab yang berbeda, tetapi benang merah kita sama yaitu ‘Jangan berbuat jahat, perbanyak kebajikan, dan sucikan hati dan pikiran’. Inilah kunci kerukunan dan kebersamaan kita,” tegas Suhu Phusan.

Gerhard menyimpulkan bahwa persatuan seperti ini telah menjadi kultur yang menarik. “Ini sesuatu yang baru dan menjadi pendekatan menarik. Tampaknya persatuan antar-sekte ini sudah membudaya, khususnya di Jawa,” kata Gerhard.

Bhante Subhacaro menambahkan bahwa peran organisasi payung seperti Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) juga penting dalam mempersatukan berbagai sekte.

Di akhir dialog, Mr. Alexander Rieger, Ketua Delegasi, menyampaikan kekagumannya atas praktik kerukunan di Indonesia dan apresiasi kepada Kementerian Agama.

“Kami sangat berterima kasih kepada Kementerian Agama Indonesia yang mendorong kerukunan antar semua keyakinan. Di Austria, dialog semacam ini baru kami mulai sekitar 2010. Melalui program ini, kami melihat langsung kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia. Meski umat Buddha hanya sekitar 2%, ada sesuatu yang luar biasa, mereka bisa hidup berdampingan dengan baik bersama agama lain,” ungkap Mr. Rieger.

Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran informasi, tetapi juga membuktikan bahwa kerukunan nyata dalam keberagaman bukan sekadar wacana, melainkan praktik hidup yang dijalani masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah seperti Temanggung dan Magelang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *