• Thursday, 22 January 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Dok. Vihara Mahasampatti

Sugito Sutarmin mengenakan busana serba putih saat menerima logam dari para bhikkhu sangha. Logam-logam itu merupakan hasil persembahan umat Buddha dari berbagai daerah di Sumatra, diserahkan dalam sebuah upacara sakral puja bakti pengecoran Rupang Buddha Nusantara di Vihara Mahāsampatti, Medan. Persembahan tersebut kemudian dilebur dalam bara api besar, menjadi bahan utama pembuatan Rupang Buddha Nusantara dalam rangka Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia (STI).

Sugito Sutarmin—akrab disapa Mas Gito—merupakan satu dari sedikit generasi muda yang menekuni seni pembuatan arca secara tekun dan berkelanjutan. Baginya, membuat rupang Buddha bukan semata kerja artistik, melainkan laku batin: perjumpaan antara disiplin, sejarah, dan niat untuk memberi manfaat.

Masa Kecil, Nyantrik, dan Jalan Pembentukan Diri

Mas Gito tumbuh di sebuah desa yang dikenal sebagai sentra pengecoran logam. Sejak kecil, ia telah akrab dengan dunia material dan bentuk. Masa kanak-kanaknya banyak dihabiskan bersama sang nenek—sosok yang ia kenang sebagai sumber kasih sayang dan fondasi pembentukan karakternya.

“Kehidupan itu membentuk karakter. Dan yang mengajarkan saya tentang kasih sayang itu nenek saya,” tuturnya.

Ketertarikan pada seni rupa muncul sejak dini. Dari tanah liat sawah, ia mulai membentuk figur-figur kecil. Ketertarikannya pada anatomi dan proporsi tumbuh perlahan, tetapi mengakar kuat.

Selepas lulus SMP pada 2004, ia memilih nyantrik kepada I Nyoman Muslim Mustofa, seniman besar pemilik Sanggar Nakula Sadewa di Muntilan. Di tempat inilah Mas Gito ditempa secara menyeluruh—bukan hanya keterampilan teknis, tetapi juga etos hidup dan kedisiplinan.

“Bangun pagi, kerja, menggambar, memahat. Kalau marah boleh, tapi jangan lama-lama, karena itu menguras energi,” kenangnya tentang ajaran Pakde Nyoman.

Pengalaman hidupnya semakin ditempa ketika ia diutus ke Bali hanya berbekal tiket bus, tanpa uang dan tanpa identitas yang memadai. Dari situ, daya tahan mental dan kemandiriannya sebagai seniman terbentuk.

Relasi Mas Gito dengan komunitas Buddhis terjalin melalui Pakde Nyoman. Ia kerap membantu pengerjaan karya seni yang berkaitan dengan Bhante Sri Paññāvaro. Dari kerja-kerja itu, kepercayaan perlahan tumbuh.

“Saya kenal Bhante Sri Paññāvaro sudah cukup lama, karena sering diajak Pakde Nyoman membantu beliau,” kata Mas Gito.

Kepercayaan tersebut menjadi fondasi penting hingga namanya direkomendasikan kepada Bhante Atthadhiro, Ketua Umum Peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia.

Pengecoran Buddha Rupang di Vihāra Vipassanā Giriratana, Gunung Sindur (2022); Foto: Hong Djie

Rupang Buddha Nusantara: Antara Sejarah, Filosofi, dan Persembahan

Rekomendasi tersebut sempat berlalu hingga tahun 2022, saat Vihāra Vipassanā Giriratana, Gunung Sindur, berencana membuat Rupang Buddha. Dalam proses pencarian pengrajin, Edwin Darius—kini Ketua Pelaksana Tahun Kencana Setengah Abad STI—menelusuri berbagai referensi hingga menemukan nama Sugito Sutarmin.

“Mas Edwin cari pengrajin lewat Google, YouTube, macam-macam. Akhirnya ketemunya saya,” ujar Mas Gito.

Dari proyek tersebut, Mas Gito dipercaya mengerjakan Rupang Buddha yang kemudian mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Kepercayaan itulah yang mengantarkannya pada proyek monumental berikutnya: Rupang Buddha Nusantara.

Proses pembuatan rupang ini diawali dengan survei ke Candi Sewu bersama Bhante Atthadhiro. Rupang secara sadar merujuk Buddha Candi Sewu dengan sikap bhūmisparśa-mudrā, simbol pencerahan dan kesaksian bumi.

Mas Gito mengamati secara cermat gestur, proporsi tubuh, hingga detail lipatan kain. Ia menemukan perbedaan mendasar dengan rupang Borobudur, terutama pada arah dan tumpukan selendang.

“Selendangnya beda. Di Candi Sewu numpuknya dari samping, tidak seperti Borobudur yang dari atas ke bawah,” jelasnya.

Dalam proses pembentukan master tanah liat, Mas Gito bekerja di bawah supervisi ketat Bhante Sri Paññāvaro, terutama dalam menjaga ketepatan bentuk dan makna simbolik. Bagian wajah—khususnya hidung—sempat direvisi agar kembali pada karakter Buddha Jawa Kuno: lembut, membumi, dan selaras dengan tradisi Nusantara.

Pembuatan master memakan waktu sekitar dua bulan untuk rupang setinggi tiga setengah meter dengan total struktur lima meter. Proses cepat, tetapi tetap melalui kajian dan peninjauan berulang.

Bagi Mas Gito, seni leluhur selalu berpijak pada semangat memberi.

“Zaman dulu orang berkarya itu bukan tentang apa yang mereka dapat, tapi apa yang ingin mereka berikan,” ujarnya.

Kesadaran itulah yang ia tanamkan dalam setiap lelehan logam Rupang Buddha Nusantara—sebuah karya yang tidak hanya berdiri sebagai arca, tetapi sebagai penanda kesinambungan nilai antara leluhur, masa kini, dan generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *