• Sunday, 8 March 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru Indonesia mengikuti peringatan Magha Puja di Taman Lumbini, Kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, pada Sabtu (7/3/2026). Perayaan yang berlangsung khidmat ini diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Catra Jinadhammo Magelang, dengan dukungan penuh dari Sangha Agung Indonesia (SAGIN).

Hadir dalam acara tersebut puluhan Bhikkhu Sangha dari lintas sekte, sejumlah Bhikkhu tamu dari Thailand dan Vietnam, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Supriyadi, serta ribuan umat. Meskipun hujan deras disertai angin sempat mengguyur saat pembukaan, hal itu tidak menyurutkan kekhidmatan jalannya acara hingga usai.

Ketua Panitia Pelaksana, Bhikkhu Thitavamso, menyampaikan bahwa ini adalah penyelenggaraan keempat kalinya. Ia juga memohon maaf atas segala kekurangan dan berharap acara serupa dapat terus ditingkatkan di masa mendatang.

“Walaupun ini yang keempat kalinya, tidak bisa dipungkiri setiap tahunnya selalu berubah dan berubah. Maka dari itu, kami mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyelenggaraan acara ini. Semoga ke depan, kami bisa melaksanakan acara dengan lebih baik lagi,” kata Bhante Thitavamso.

Pesan Damai di Tengah Ketegangan Global

Ketua Umum Sangha Agung Indonesia (SAGIN), Bhikkhu Khemacaro, dalam sambutannya mengajak umat Buddha untuk menjadikan momen Magha Puja sebagai sarana mengembangkan kebijaksanaan. Menurutnya, hal ini penting untuk menyikapi kondisi global yang saat ini diwarnai ketegangan dan konflik antar negara.

“Hendaknya kita tidak hanya mencibir, tidak hanya mengeluh, berprasangka buruk, tetapi benar-benar memposisikan diri kita dalam suasana saat ini. Umat Buddha harus cermat dalam mengikuti suasana kehidupan yang akhir-akhir ini membuat panas sendi-sendi kehidupan. Semoga umat Buddha bisa mendinginkan kekuatan-kekuatan negatif yang akan muncul dalam kehidupan ini,” terang Bhante Khemacaro.

Senada dengan itu, Dirjen Bimas Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, mengapresiasi penyelenggaraan Magha Puja sebagai momentum mengingatkan umat akan pentingnya menghargai keberagaman dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia mendorong umat Buddha untuk memegang teguh praktik ajaran agama guna mendukung kerukunan.

“Kita menyadari keberagaman Indonesia. Maka pemerintah, khususnya Kementerian Agama, mengedepankan sebuah program besar yang kita sebut Moderasi Beragama sebagai program prioritas yang terus kita gelorakan untuk tumbuh di tengah masyarakat. Bagi kita umat Buddha, moderasi beragama merupakan manifestasi dari ajaran luhur Guru Agung kita yakni Majjhima Pattipada (Jalan Tengah),” jelas Supriyadi.

“Oleh karena itu, mari kita hilangkan, kita tahan untuk tidak melakukan berbagai bentuk kebencian, berbagai bentuk intoleransi. Ketika menanamkan kebajikan, maka kita juga akan aktif berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan mempererat kerukunan umat beragama,” imbuhnya.

Simbol Pelita bagi Perdamaian Dunia

Usai sambutan, rangkaian acara dilanjutkan dengan puja bakti dan Dhammadesana (khotbah Dhamma) yang disampaikan oleh Suhu Nyanamaitri Mahastavira. Dalam wejangannya, ia menyoroti makna mendalam dari penyalaan pelita yang menjadi bagian dari peringatan Magha Puja.

“Dalam momen ini, kita juga melakukan penyalaan pelita yang merupakan simbol cahaya kebijaksanaan yang mampu mengusir kegelapan dan ketidaktahuan. Seperti ungkapan Sang Buddha, ‘Jadilah pelita bagi dirimu sendiri’. Ketika kita sedang menyalakan pelita, sesungguhnya kita mengingatkan diri kita bahwa cahaya kebijaksanaan harus terus dijaga, dipelihara di dalam batin kita,” terang Suhu.

Lebih lanjut, Suhu Nyanamaitri menjelaskan bahwa pelita juga menjadi simbol harapan bagi perdamaian dunia. Di tengah konflik dan peperangan yang masih terjadi, ajaran Sang Buddha tentang cinta kasih tanpa batas (Metta) relevan untuk diamalkan.

“Ketika pelita menyala malam ini, semoga cahaya itu juga menjadi doa bagi kedamaian dunia dan kebahagiaan seluruh makhluk,” lanjut Suhu.

Ia juga menekankan bahwa peringatan di Candi Borobudur memiliki signifikansi spiritual yang kuat. Menurutnya, Borobudur bukan sekadar monumen bersejarah, melainkan representasi perjalanan spiritual menuju pencerahan.

“Kehadiran kita di kawasan Candi Borobudur juga memiliki makna yang sangat dalam. Borobudur bukan sekadar bangunan megah dari batu, melainkan sebuah simbol perjalanan spiritual manusia menuju pencerahan. Struktur Borobudur melambangkan perjalanan dari dunia nafsu menuju kebijaksanaan, dari ketidaktahuan menuju pencerahan,” jelasnya.

“Borobudur telah berdiri selama berabad-abad sebagai saksi bahwa ajaran Buddha pernah menerangi Nusantara dengan cahaya kebijaksanaan. Dengan demikian, penyalaan pelita di Borobudur juga simbol menyambung kembali cahaya Dhamma yang telah menerangi tanah air sejak masa lampau,” pungkas Suhu.

Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan pelimpahan jasa dan pemercikan tirta paritta (air berkah). Sebagai puncak acara, seluruh umat yang dipimpin para Bhikkhu Sangha melakukan pradaksina (berjalan mengelilingi) Candi Borobudur. Dengan membawa setangkai bunga di tangan, mereka melangkah dalam keheningan, diiringi lantunan paritta penuh kesadaran, menutup rangkaian peringatan Magha Puja dengan suasana sakral dan penuh kedamaian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *