• Tuesday, 20 January 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Ngasiran

Vihāra Mahāsampatti, Medan, Minggu, 18 Januari 2026, menjadi tempat pelaksanaan pengecoran perdana Rupang Buddha Nusantara, sebuah peristiwa bersejarah yang menandai awal rangkaian peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia. Kegiatan ini tidak hanya memuat nilai spiritual dan seni, tetapi juga merekam perjalanan panjang umat Buddha Indonesia dalam membangun kemandirian spiritual dan budaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pūjā bakti yang diikuti oleh Bhikkhu Saṅgha dan umat Buddha. Pembacaan Paritta, Sutta, dan Gāthā mengiringi jalannya acara, menghadirkan suasana batin yang tenang dan penuh perhatian sebagai landasan spiritual sebelum memasuki rangkaian utama peringatan Tahun Kencana.

Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera, dalam pesan Dhamma menegaskan bahwa pengecoran perdana Rupang Buddha Nusantara memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam bagi perjalanan Saṅgha Theravāda Indonesia.

“Hari ini bukan sekadar pengecoran perdana pembuatan Rupang Buddha. Hari ini adalah awal rangkaian peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia. Umat Buddha, khususnya di Sumatera Utara dan Medan, mendapatkan kehormatan karena peringatan ini diawali di sini,” ujar beliau.

Bhante kemudian mengajak umat menengok kembali kondisi sekitar lima puluh tahun silam, ketika pembuatan Rupang Buddha di Indonesia masih sangat terbatas. Pada masa itu, Rupang Buddha buatan dalam negeri umumnya berukuran kecil dan dibuat dari bahan sederhana seperti gips, sementara sebagian besar Rupang Buddha harus didatangkan dari luar negeri.

“Lima puluh tahun yang lalu, sangat sulit mencari Rupang Buddha di Indonesia. Hampir tidak ada pengrajin Rupang Buddha di dalam negeri, sehingga sebagian besar Rupang Buddha harus didatangkan dari luar,” kenang Bhante.

Seiring perjalanan waktu, Saṅgha Theravāda Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan. Putra-putra bangsa kini telah mampu memproduksi Rupang Buddha secara mandiri, tidak hanya melanjutkan tradisi pembuatan Rupang Buddha sebelumnya, tetapi juga mengembangkannya dalam skala dan kualitas yang lebih besar.

“Sekarang umat Buddha Indonesia di tanah air sendiri sudah mampu membuat Rupang Buddha, bahkan mengirimkannya ke berbagai negara—ke Thailand, Vietnam, Myanmar, Bhutan, India, Sri Lanka, Amerika, Eropa, dan Australia,” tutur Bhante.

Rupang Buddha Nusantara yang mulai diwujudkan ini dirancang memiliki tinggi sekitar lima meter. Prototipenya mengambil inspirasi dari Rupang Buddha klasik Nusantara, khususnya dari kompleks Candi Sewu, yang menjadi bagian penting dari warisan seni Buddhis masa Wangsa Śailendra. Gaya rupa yang dihadirkan melanjutkan tradisi Rupang Buddha Nusantara sebelumnya, dengan karakter wajah yang tenang, proporsional, dan mencerminkan kedalaman spiritual khas Nusantara.

“Rupang ini kami namakan Rupang Buddha Nusantara karena berangkat dari warisan seni Buddhis Nusantara dan proses pengecorannya dilakukan di enam provinsi. Dengan demikian, Rupang Buddha ini mencerminkan kebersamaan dan partisipasi umat Buddha dari berbagai wilayah,” jelas Bhante.

Lebih jauh, Bhikkhu Sri Paññāvaro Mahāthera menekankan bahwa penghormatan terhadap Rupang Buddha tidak berhenti pada bentuk visual semata.

“Penghormatan kepada Buddha Paṭimā bukan semata pada bentuk rupa, melainkan sebagai pengingatan akan kesempurnaan kebajikan Sang Buddha—Paññāguṇa, Visuddhiguṇa, dan Karuṇāguṇa—yang menginspirasi umat dalam pengembangan diri tanpa keakuan,” tegasnya.

Pengecoran perdana Rupang Buddha Nusantara ini menjadi tonggak awal perwujudan karya spiritual dan budaya umat Buddha Indonesia, sekaligus membuka rangkaian kegiatan peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia. Tahap pengecoran berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 1 Februari 2026 di Vihāra Muladharma, Samarinda, sebagai representasi partisipasi umat Buddha di Pulau Kalimantan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *