• Wednesday, 14 January 2026
  • Surahman Ana
  • 0

Foto: Ana Surahman

Graha Palpung Padmasambhava di Magelang kembali menjadi tuan rumah Dharma Teaching pada Jumat (9/1/2026). Acara pembabaran Dharma dan bimbingan meditasi ini dipimpin langsung oleh Guru Vajradhara Yang Mulia (His Holiness) Chamgon Kenting Tai Situpa, yang juga dikenal sebagai Yang Mulia Kenting Tai Situ Rinpoche.

Dalam tradisi Buddha Vajrayana Tibet, Yang Mulia Tai Situpa diyakini sebagai inkarnasi Bodhisattva Maitreya dari Surga Tushita, yang dinobatkan sebagai Buddha masa depan oleh Buddha Sakyamuni. Beliau juga dipercaya sebagai inkarnasi Guru Padmasambhava.

Selain sebagai guru spiritual, Yang Mulia Tai Situpa adalah seorang cendekiawan, filsuf, penyair, seniman, arsitek, dan ahli geomansi. Karya tulisnya meliputi lebih dari 20 buku dalam bahasa Inggris, lebih dari 200 jilid dalam bahasa Tibet, serta 15 jilid tulisan lainnya. Beliau secara aktif mengajar dan mewariskan garis keturunan Dharma kepada murid-murid dari seluruh dunia, dengan pengikut yang tersebar luas di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

Ketua Majelis Palpung Indonesia, Prajna Murdaya, menyatakan bahwa Dharma Teaching kali ini mengangkat tema “Wisdom for a Meaningful Life” (Kebijaksanaan untuk Hidup yang Bermakna). Ia menyampaikan rasa syukur dan harapannya atas penyelenggaraan acara ini.

“Saya berharap energi dari tempat ini akan sangat kondusif bagi orang-orang untuk meningkatkan praktik mereka. Kami juga mendorong banyak orang untuk datang, mengadakan ceramah Dharma, melakukan berbagai kegiatan, dan berbuat baik bagi masyarakat, sehingga kita semua dapat bersama-sama mengumpulkan kebajikan untuk semua orang,” tutur Prajna.

Sementara itu, Yang Mulia Tai Situpa menekankan pentingnya setiap individu mengenali potensi diri. Tujuannya adalah untuk menggunakan potensi batin guna menjadi pribadi yang lebih baik dan bahagia. Sejalan dengan topik “Wisdom for a Meaningful Life”, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian Yang Mulia Kenting Situpa mengingatkan meskipun ada masa baik dan masa buruk, realita harus dihadapi, karena secara alami manusia adalah sempurna.

“Sesungguhnya ini adalah tentang bagaimana mengenali potensi diri sendiri, karena Anda, saya, dan setiap orang pada akhirnya semuanya adalah Buddha di masa depan menurut ajaran Buddha, atau kita semua adalah makhluk yang akan mencapai pencerahan. Jika Anda bukan penganut Buddha, Anda mungkin tidak menyebutnya Buddha. Tetapi setiap keyakinan memiliki harapan dan tujuan masing-masing menuju tujuan akhir. Jadi hal itu ada dalam diri kita, bukan datang dari luar, melainkan berasal dari dalam diri kita,” jelas Yang Mulia.

Acara ini tidak hanya dihadiri oleh umat Buddha dari Indonesia, tetapi juga oleh peserta dari mancanegara. Salah seorang peserta asal London, Wendy Ho, mengungkapkan alasan keikutsertaannya.

“Yang benar-benar saya harapkan, saya tidak berharap setelah mengikuti pemberdayaan dan ajaran ini saya akan langsung banyak berubah. Tapi saya berharap hal ini dapat membantu saya memiliki kesadaran dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Wendy.

Wendy juga menyampaikan harapannya untuk dapat menginspirasi orang lain. “Dan yang sungguh saya harapkan adalah, semoga melalui kontribusi dan pengetahuan saya yang masih minim, saya dapat menginspirasi orang lain untuk berbuat baik dalam hidup, tanpa memandang agama mereka. Karena itulah yang saya pelajari dari Yang Mulia,” imbuhnya.

Dharma Teaching ini diharapkan dapat terus menjadi sarana peningkatan spiritual dan kesadaran khususnya bagi umat Buddha di dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *