Foto: Ngasiran
Untuk ketujuh kalinya, The Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bersama BuddhaZine dan warga setempat menyelenggarakan Nyadran Perdamaian di Dusun Krecek-Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, dari Selasa hingga Jumat (13-16 Januari 2026), diikuti 38 peserta dari berbagai kota dan provinsi. Puncak acara adalah ritual Nyadran di pemakaman umum dusun pada hari terakhir.
Pembukaan dilaksanakan Selasa malam (13/1) di Pendopo Dusun Krecek. Acara dihadiri Bhikkhuni Thitacarini, Kepala Dusun Krecek-Gletuk, pengurus AMAN Indonesia, tokoh agama, sesepuh, Bhabinkamtibmas Desa Getas, peserta, dan warga.
Acara diawali menyanyikan Indonesia Raya dilanjutkan penampilan Karawitan anak-anak SMB Mudhita Dusun Krecek. Bandel, Kepala Dusun Gletuk, mengucapkan selamat datang kepada semua peserta Nyadran Perdamaian tahun ini.
“Selama tiga hari ke depan para peserta akan mengikuti banyak kegiatan, dan sebagai puncaknya akan mengikuti Nyadran pada hari Jumat. Semoga kesempatan ini memberikan pengalaman dan pembelajaran, khususnya mengenai kehidupan dan kebudayaan di sini,” ujar Bandel.
Program Manager AMAN Indonesia, Nanda Dwinta, menjelaskan filosofi Nyadran. Ia menekankan bahwa ritual ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan cara warga menjaga hubungan dengan leluhur, sesama, dan alam.
“Satu pembelajaran bagi kita bahwa di Dusun Krecek-Gletuk ini, perbedaan keyakinan tidak menghalangi persaudaraan. Dalam satu pemakaman, doa-doa dari berbagai agama dipanjatkan berdampingan. Inilah pelajaran besar bagi perdamaian yang lahir dari kearifan lokal, bukan dari paksaan, tapi dari kesadaran dan rasa saling menghormati,” jelas Nanda.
Tema tahun ini, “Merawat Alam dan Menjaga Ibu Bumi”, diangkat sebagai respons atas krisis lingkungan dan bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia.
“Masyarakat Krecek dan Gletuk telah lama mengajarkan bahwa alam bukan untuk dikuasai, tetapi dirawat, karena di sinilah kehidupan masa depan kita terus bertumbuh,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, AMAN Indonesia juga meluncurkan tiga buku yang mendokumentasikan kearifan lokal dusun. Executive Board AMAN Indonesia, Iha Sholihah, menyoroti pentingnya pendokumentasian.
“Saya ingat Mbah Sukoyo pernah bercerita tentang sesajen. Timbul pertanyaan, kenapa sesaji ditaruh di pinggir kali? Rupanya untuk menghormati binatang-binatang kecil, siapa tahu mereka tidak ada makanan. Mereka adalah penjaga ekosistem. Itu juga wujud permintaan maaf, siapa tahu saat bekerja di ladang ada yang tidak sengaja terinjak. Jadi, makhluk-makhluk hidup itu dipandang setara dengan manusia. Kearifan seperti itu sangat sayang kalau tidak dituliskan,” ungkap Iha.
Bhikkhuni Thitacarini Theri, yang hadir sebagai narasumber, membagikan pandangannya tentang kerukunan di Indonesia.
“Banyak di luar sana yang memahami bahwa Indonesia itu negara Islam. Dalam bayangan mereka, ketika tahu Indonesia mayoritas Muslim, mereka berpikir bahwa Agama Buddha akan sangat sulit di Indonesia. Kami sampaikan bahwa Indonesia adalah negara demokratis yang sangat menghargai setiap pemeluk agama,” ujarnya.
“Dan hari ini, kita semua duduk di sini, khususnya dari warga Dusun Krecek-Gletuk, ada yang berjilbab dan saya berjubah, tapi kita bisa duduk dengan penuh rasa persaudaraan tanpa ada rasa curiga dan was-was. Inilah indahnya Indonesia,” tambahnya.
Bhabinkamtibmas Desa Getas, Aipda Eko Wahyudi, yang telah mengikuti acara ini sejak bertugas di Kecamatan Kaloran pada 2017, mengapresiasi keunikan penyelenggaraannya.
“Dalam hal Nyadran di Kaloran ini, semua dusun mengadakan. Tapi yang mengemas dengan kegiatan seperti ini, ya hanya di Krecek ini,” kata Eko.
Ia juga menyatakan rasa syukurnya karena keamanan terkait SARA di wilayahnya tetap terjaga dengan baik. “Di Kaloran ini sangat majemuk sekali, berbagai perbedaan ada. Bersyukur, dari sejak saya di sini belum pernah ada kasus SARA,” tegasnya.
Acara dilanjutkan dengan pembukaan secara resmi kegiatan Nyadran Perdamaian dengan pemukulan Gong oleh Bhikkhuni Thitacarini, Mbah Sukoyo, Kadus Krecek, Kadus Gletuk, serta perwakilan dari AMAN Indonesia.
Di akhir acara diisi dengan perkenalan dan pengenalan ragam budaya peserta dan warga lokal di pandu oleh Program Staff – Progressive Voices Consolidation AMAN Indonesia, Neny Agustina Adamuka, kemudian ditutup dengan kendurian.










































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































