Foto: Ana Surahman
Sebanyak 700 umat Buddha dari berbagai penjuru Jawa Tengah memadati Vihara Watu Gong, Semarang, pada Minggu (9/11/2025) untuk mengikuti Talk Show bertajuk “Perfeksionis dalam Keyakinan”. Acara yang digelar oleh Keluarga Buddhis Theravada Indonesia (KBTI) ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai organisasi, termasuk Pengurus Daerah dan Cabang Magabudhi, Wandani, Patria, penyuluh agama, pengurus vihara, mahasiswa, anak asuh Wandani, serta pemuda-pemudi Buddhis.
Fenomena pernikahan yang seringkali diiringi dengan pindah agama di kalangan muda-mudi Buddhis menjadi latar belakang diselenggarakannya acara ini. Ketua Panitia, Sukhitta Dewi, menjelaskan bahwa hal tersebut diduga akibat pemahaman dan pengamalan Dhamma yang belum optimal.
“Tujuan kegiatan adalah memberikan pemahaman tentang konsep perfeksionis dalam konteks kehidupan modern, menjelaskan perbedaan antara perfeksionis duniawi dan pencapaian kesempurnaan dalam ajaran Buddha, serta menginspirasi peserta untuk mengembangkan perfeksionis berkeyakinan yang sehat dan penuh kesadaran serta kebijaksanaan,” ujar Dewi dalam sambutannya.
Acara ini mendapat sambutan positif dari Ketua PD Magabudhi Jawa Tengah, PMd. Wirya Purwasamudra Wiharja. Ia menekankan pentingnya fondasi keyakinan yang kokoh.
“Kesempurnaan sejati adalah menumbuhkan kesadaran untuk terus berlatih dan memperbaiki diri dalam setiap langkah. Menjadi perfeksionis dalam keyakinan berarti mempunyai tekad yang kokoh dan konsisten, bukan hanya dalam ajaran kebajikan, namun juga bijaksana dan penuh cinta dalam menghadapi diri sendiri maupun orang lain,” kata Wirya.
Apresiasi juga disampaikan oleh Karbono, Pembimas Buddha Provinsi Jawa Tengah. Ia melihat ketabahan umat Buddha Indonesia dalam mempertahankan keyakinannya.
“Saat ini umat Buddha, walaupun prosentasenya hanya di angka satu persen di Indonesia, adalah insan-insan yang sudah teruji keyakinan dan ketakwaannya terhadap ajaran Buddha. Kenapa? Karena kita tetap berkeyakinan kepada Buddha Dhamma di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Buddhis. Bahkan, ajaran Buddha saat ini mulai diminati oleh umat agama lain, terutama tentang meditasi,” ungkap Karbono.

Talk show menghadirkan dua pembicara utama dan dimoderatori oleh Rendy Tunggeleng. Narasumber pertama, Bhante Santacitto, adalah ahli Pali lulusan S1 hingga S3 dari Universitas Kelaniya, Sri Lanka, yang kini menjabat sebagai Ketua STAB Kertarajasa, Batu, Malang. Bhante Santacitto menekankan bahwa keyakinan dalam Buddha Dhamma haruslah didasari oleh pemahaman, bukan kepercayaan membabi buta.
“Mengapa keyakinan penting kita kembangkan? Ada dua karakteristik keyakinan. Pertama, keyakinan terhadap Triratna mendorong kita untuk terus berjalan di jalan Dhamma. Keyakinan kuat, maka seseorang akan terus terdorong untuk mempraktikkan Dhamma dalam kondisi apa pun. Itulah keyakinan sebagai Bija atau bibit, dan akan semakin berkembang dan kokoh bila dihujani dengan praktik Dhamma itu sendiri,” jelas Bhante Santacitto.
“Kedua, keyakinan juga punya kekuatan untuk menjernihkan batin. Karakteristiknya, batin menjadi jernih setiap keyakinan itu muncul. Artinya, pada saat kita mengingat Sang Buddha, mengingat Dhamma, muncul keyakinan, sehingga apa pun kekotoran batin, pikiran-pikiran buruk akan lenyap,” tambahnya.

Narasumber kedua, Wenny Lo, Ketua Umum WANDANI yang juga seorang pengusaha dan relawan, membagikan kisah inspiratif perjalanan spiritualnya dalam menemukan Buddha Dhamma. Kegelisahan akan pertanyaan-pertanyaan mendalam tentang hidup membawanya memeluk agama Buddha sejak SMA.
“Saya pergi ke vihara sendiri. Setelah melihat Buddha Rupang, saya menangis karena merasakan keteduhan dan kedamaian. Lalu, saya jatuh cinta kepada Buddha Rupang. Saya bertemu dengan seorang guru yang mengajarkan tentang Karma, dan di situlah saya mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul: kenapa ada yang terlahir cantik, jelek, sehat, sakit, miskin, kaya, dan berbagai perbedaan lainnya. Di situlah saya memutuskan untuk memilih Buddha Dhamma,” ungkap Wenny Lo.
Acara talk show ini diharapkan dapat memperkuat keyakinan dan pemahaman umat Buddha, khususnya generasi muda, dalam mengaplikasikan Dhamma secara benar di tengah tantangan kehidupan modern.


















































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































