• Monday, 22 December 2025
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Dok. Wandani

Wanita Theravada Indonesia (WANDANI) genap berusia 30 tahun pada 19 Desember 2025. Didirikan pada 19 Desember 1995, WANDANI hadir sebagai wadah perempuan Buddhis Theravada Indonesia untuk berperan aktif dalam pembinaan Dhamma, penguatan keluarga Buddhis, serta pelayanan sosial kemasyarakatan. Sejak awal berdirinya, WANDANI menjadi bagian integral dari komunitas Buddhis Theravada Indonesia dan bekerja sama erat dengan Majelis Agama Buddha Theravada Indonesia (MAGABUDHI) serta Sangha Theravada Indonesia (STI).

Selama tiga dekade, WANDANI konsisten berkontribusi dalam pengembangan kualitas, kecerdasan, dan kebijaksanaan perempuan Buddhis melalui berbagai kegiatan, mulai dari seminar Dhamma, pembinaan keluarga, kunjungan kasih, anjangsana, hingga kegiatan bakti sosial dan kepedulian lingkungan. Perjalanan panjang ini menjadi bukti peran strategis perempuan Buddhis dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai Dhamma di tengah kehidupan modern.

Dalam peringatan 30 tahun WANDANI yang mengusung tema “Menguatkan Dhamma, Membangun Generasi”, Ketua Umum WANDANI, Wenny Lo, menegaskan kembali peran fundamental perempuan Buddhis, khususnya para ibu, dalam pendidikan karakter dan spiritual anak sejak dini.

“Tiga puluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Ini adalah perjalanan penuh dedikasi, perjuangan, dan keyakinan bahwa perempuan memiliki peran mulia dalam menjaga, menumbuhkan, dan meneruskan nilai-nilai Dhamma,” tulis Wenny Lo.

Ia menekankan bahwa perempuan Buddhis tidak hanya berperan sebagai istri atau ibu dalam pengertian biologis, tetapi juga sebagai pendidik pertama yang memperkenalkan cinta kasih, ketenangan, kebijaksanaan, dan jalan kebenaran kepada anak-anak.

“Para ibu Buddhis harus mampu mengajar dan mendidik anak-anaknya secara Buddhis. Dari kitalah mereka pertama kali mengenal cinta kasih, ketenangan, kebijaksanaan, dan jalan kebenaran,” tegasnya.

Menurut Wenny Lo, pendidikan Buddhis tidak semata-mata disampaikan melalui kata-kata atau ritual, melainkan melalui keteladanan hidup sehari-hari: kesabaran saat anak berbuat salah, kejujuran dalam tindakan, kemurahan hati dalam hal-hal kecil, serta pengendalian diri ketika menghadapi kesulitan.

“Inilah pendidikan Buddhis yang sesungguhnya—pendidikan yang hidup, pendidikan yang mengalir dari hati seorang ibu,” tulisnya.

Memasuki usia ke-30, WANDANI mengajak seluruh anggotanya untuk terus meningkatkan kualitas diri dengan memperdalam pemahaman Dhamma, mengembangkan karakter, dan menjadi panutan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Wenny Lo menegaskan bahwa ketika seorang ibu tumbuh dalam kebajikan dan kebijaksanaan, maka kedamaian akan tercipta dalam rumah tangga dan generasi penerus.

Peringatan 30 Tahun WANDANI dirayakan secara nasional di berbagai daerah, dari Jakarta hingga Papua. Puncak perayaan di Jakarta digelar pada Jumat, 19 Desember 2025, di Wisma Narada Lantai 8, Vihara Jakarta Dhammacakka Jaya. Selain itu, rangkaian kegiatan juga diisi dengan Bincang Dhamma Online yang menghadirkan Bhikkhu Uttamo Mahathera dan dr. Sim Mettasari Ishak, serta disiarkan melalui Zoom dan YouTube agar dapat diikuti umat secara luas.

Salah satu fokus kegiatan kebajikan dalam peringatan 30 tahun ini adalah penuangan Eco Enzym, sebagai wujud kepedulian WANDANI terhadap kelestarian lingkungan. Kegiatan ini mencerminkan praktik Dhamma yang diterapkan secara nyata melalui aksi ekologis, selaras dengan semangat cinta kasih dan tanggung jawab moral terhadap alam. Selain penuangan Eco Enzym, berbagai kegiatan kebajikan lain turut dilaksanakan, seperti dana makan kepada Bhikkhu Sangha, pembacaan Paritta dan pemberkahan, kunjungan kasih kepada para senior WANDANI, fangshen, serta beragam bakti sosial di daerah masing-masing.

Melalui peringatan 30 tahun ini, WANDANI meneguhkan tekad untuk terus menjadi wadah pemberdayaan perempuan Buddhis Theravada Indonesia—menguatkan praktik Dhamma dalam kehidupan sehari-hari, membangun generasi yang berakar pada moralitas dan kebijaksanaan, serta menghadirkan manfaat nyata bagi keluarga, masyarakat, dan semua makhluk tanpa kecuali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *