• Thursday, 3 December 2020
  • Surahman Ana
  • 0

Sebuah acara Talk Show bertema Buddhism: Arts of Giving diselenggarakan oleh Young Buddhist Association (YBA) Surabaya berkolaborasi dengan Indonesia Taiwan Buddhist Community (ITBC) pada Sabtu (28/11).

Acara ini mengupas seluk beluk berdana dengan cara terbaik dan hasil terbaik yang digelar secara online via Zoom meeting dan diikuti oleh kurang lebih 190 peserta baik dari kalangan mahasiswa maupun umum. Talk show disiarkan dalam dua bahasa yaitu bahasa Indonesia dan Mandarin.

Bhante Atthadhiro dan Venerable Ru In selaku narasumber utama yang dimoderatori oleh Isahito Norhatan. Sementara MC di isi oleh Agus Setia Budi berbahasa Indonesia dan Natasia Shanice Chanaka berbahasa Mandarin, translator Indonesia-Chinese adalah Dicky sedang untuk Chinese-Indonesia adalah Venerable Xian Jiao.

Sambutan ketua pelaksana Fanny Aprilia sebelum sesi pembicara utama menjadi pengantar bagi para peserta untuk mendengarkan penjelasan lebih lanjut dari narasumber.

“Acara ini berlatar belakang akan banyaknya pandangan masyarakat umum yang beranggapan bahwa pemberian dalam Buddhis hanya berupa materi, biasanya uang ataupun barang lainnya.

Untuk itu melalui penjelasan para narasumber nanti diharapkan para peserta akan lebih paham tentang apa itu berdana, berbagai bentuk dana, serta manfaat berdana baik bagi diri sendiri maupun orang lain,” ungkapnya.

Dana merupakan praktik awal

Bhikkhu Attadhiro yang saat ini menjabat sekretaris II Sangha Theravadha Indonesia (STI) sebagai pembicara pertama menjelaskan pengertian dana dalam ajaran Sang Buddha. Bhante menjelaskan bahwa Dana merupakan praktik awal ajaran Sang Buddha khususnya bagi perumah tangga.

“Di sini kita lebih dalam memaknai berdana dengan lebih spesifik, bukan hanya semata-mata tindakan memberi. Makanya sesuai dengan temanya yaitu seni dari memberi.

Saya mengutip dari guru yaitu Bhante Dhammasubho, seni itu sentuhan hati nurani. Berdana juga punya nilai seni. Selama seseorang punya niat baik, di dalam hati terdalam pasti ada dorongan untuk memberi atau berbuat baik,” terangnya mengawali penjelasan.

Berkenaan dengan seni dalam memberi, menurut Bhante dalam memberi pun harus memikirkan cara memberi dan juga cara memperoleh sesuatu untuk di berikan. Kadang kala untuk mendapatkan sesuatu untuk didanakan ada yang melakukannya dengan cara yang kurang baik.

Karena saking inginnya memberi justru ada yang menyakiti makhluk bahkan orang lain untuk mendapatkan sesuatu untuk diberikan. Jika hal itu yang dilakukan berarti pemberiannya tidak mempunyai nilai seni.

Seni memberi juga berarti memberi berdasarkan dorongan Metta, suatu dorongan atau niat untuk membuat orang lain bahagia. Selain itu memberi juga bisa dilakukan atas dasar dorongan Karuna (kasih sayang), harapannya supaya makhluk lain terbebas dari penderitaan. Dorongan atas dasar Karuna berarti objeknya harus ada yang menderita.

Dana juga langkah awal untuk mengakhiri penderitaan. Menekankan akan pengertian tersebut Bhante mengulas sebuah kutipan Dhammapada ayat 118.

“Ketika seseorang berbuat baik hendaknya ia mengulangi perbuatan baik itu dan bergembira dalam perbuatan baik itu. Sungguh membahagiakan buah dari perbuatan baik itu.”

Berdana sesungguhnya tidak hanya bermanfaat untuk orang lain tapi juga kembali kepada pelakunya. Ketika berbuat baik berusahalah untuk terus mengulangi perbuatan baik.

“Jadi berdana adalah salah satu sarana untuk mengumpulkan kebajikan. Dana juga untuk tujuan melepaskan. Tanpa ada kebajikan, kesempatan untuk berlatih mengembangkan diri amatlah sulit. Contohnya ketika umat ingin ikut meditasi, kalau tidak ada tabungan kebajikan ada saja kendalanya untuk bermeditasi.

Setiap kebajikan mempunyai dua arah, yaitu untuk mengumpulkan kebajikan dan untuk melepaskan. Praktik berdana yang paling tinggi adalah supaya kita bisa melepaskan.”

Lebih lanjut Bhante menjelaskan hal-hal yang harus dipahami oleh umat Buddha sebelum berdana. Mengutip dari penjelasan dalam Sappurisa Dana Sutta, ada lima hal yang harus dimengerti dengan baik berkaitan dengan dana:

1. Memberi dengan keyakinan, dasarnya mengerti tentang hukum perbuatan atau hukum Karma. Hukum tanam – tuai. Sesuai dengan benih yang ditabur demikianlah buah yang akan dipetik. Kebajikan berbuah kebahagiaan, kejahatan berbuah penderitaan. Ketika umat Buddha berdana bukan berarti kehilangan, tapi sebenarnya sedang mengumpulkan kebajikan dan itu yang akan mengabulkan keinginan.

Semua makhluk termasuk manusia akan terbakar oleh sakit, usia tua, dan kematian, dan hanya kebajikan yang bisa menolong. Apa pun yang diharapkan seseorang bisa tercapai apabila seseorang tersebut punya tabungan kebajikan. Dhamma yang selalu diingat dan dilaksanakan akan memberikan manfaat baik di kehidupan sekarang maupun yang akan datang.

2. Memberi dengan penuh hormat, karena berdana memberikan manfaat yang besar. Sesudah mempunyai keyakinan, hendaklah seseorang berdana dengan hormat. Hal ini berarti melakukan dana dengan kesungguhan hati. Manfaat berdana dengan penghormatan akan membuat seseorang di dengar perkataannya oleh orang lain dan mempunyai banyak pengikut.

3. Berdana dengan berusaha tepat waktu, artinya berdana di waktu yang tepat. Dengan kata lain berdana sesuai dengan yang dibutuhkan orang atau makhluk lain. Contoh berdana makan kepada orang yang lapar, memberi selimut pada orang yang kedinginan, memberikan hiburan bagi orang yang sedang sedih.

Buah dari berdana diwaktu yang tepat adalah keinginan bisa tercapai dengan tepat waktu. Megenai hal ini tentu perlu usaha untuk mencari kesempatan supaya dana yang diberikan sesuai dengan waktunya. Berdana tepat waktu akibatnya kita memeroleh apa yang kita harapkan tidak lama-lama.

4. Berdana tanpa keengganan. Jika sudah tumbuh niat berdana hendaknya segera dilakukan, terus diulangi dan diulangi sehingga perbuatan berdana menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan menjadi masalah besar kecilnya dana yang diberikan, hal terpenting adalah perbuatan berdana sesering mungkin.

5. Berdana tanpa melukai dirinya sendiri maupun orang lain. Dalam memberi tidak ada embel-embel untuk menyakiti dirinya atau orang lain. Sesudah memberi jangan diungkit-ungkit, itu sama saja menyakiti diri sendiri. Kebajikan tetap kebajikan, jangan sampai setelah memberi malah menyakiti diri sendiri.

Bahkan ketika orang yang diberi berperilaku tidak baik, semisal seseorang memberikan pertolongan kepada orang lain kemudian orang yang telah ditolong tersebut berlaku kurang baik lalu pemberi berpikir, “Dulu saya bantu kok sekarang begini, begitu,” ini namanya menyakiti diri sendiri.

“Iniah ajaran awal yang diparktikkan oleh perumah tangga. Intinya kebajikan akan kembali kepada diri kita, praktik kebajikan akan membawa kita pada akhir penderitaan. Maka ini butuh seni, memberi itu dasarnya cinta kasih dan kasih sayang, mengharap orang lain bahagia dan mengharap orang lain yang sedang menderita bebas dari penderitaannya,” tutup Bhante.

Wujud berdana

Berlanjut pada sesi pembicara kedua yaitu Venerable Ru In, seorang Bhiksuni lulusan Tsung Lin University yang lebih menjelaskan macam-macam wujud berdana. Hal ini menjadi penambah wawasan umat Buddha serta menambah dorongan serta kepercayaan diri umat Buddha untuk berdana sesuai kemampuannya.

Menurut Ru In, memberi tidak selalu berupa materi seperti uang dan barang-barang lainnya, namun memberi bisa dilakukan dengan banyak hal. Apapun pemberian yang dilakukan dan itu memberikan manfaat bagi orang lain adalah merupakan wujud praktik Dhamma Sang Buddha.

” Pemberian ini sangat penting pada masa sekarang dan tidak hanya dalam bentuk materi tetapi juga bisa berupa memberi tenaga, keahlian, kebijaksanaan, gemar membantu kegiatan vihara sebagai tenaga sukarelawan. Memberi pujian dan keindahan juga wujud pemberian. Memberi ibarat menanam bibit di dalam tanah. Yang menuai hasilnya adalah diri sendiri juga,” terangnya.

Secara umum Ru In mengelompokkan macam-macam dana :

a. Dana materi: segala barang yang berwujud. Memberi uang berarti memberi kemudahan kepada masyarakat dalam hal uang dan materi.

b. Dana Dhamma: pengetahuan, teknlogi, memberi kebenaran untuk mengajar orang lain.

c. Dana memberi rasa aman: menjunjung tinggi keadilan. Membuat semua orang di masarakat memiliki kedamaian dan kebahagiaan. Termasuk juga menjunjung tinggi kejujuran, memberi kepercayaan dan lain sebagainya.

“Sebenarnya agama Buddha itu sangat adil, kita menanam apa itulah yang akan kita petik. Semua yang kita lakukan akan kembali lagi kepada diri kita. Berdana ini bisa kita lakukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Berdana ini juga bisa membuat hati kita menjadi tenang,” imbuh Ru In.

Selaras dengan yang dipaparkan Bhante sebelumnya bahwa berdana juga hendaknya tepat waktu. Dengan cara lain Ru In mengungkapkan hal ini bahwa syarat utama pemberian adalah adalah adanya penerima.

“Syarat utama dalam memberi, jika ingin memberi kepada orang lain, harus ada seseroang yang menerimanya. Dalam hal ini tentu penerima adalah orang yang tepat menerima pemberian sesuai kebutuhannya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *