• Tuesday, 31 December 2019
  • Adica Wirawan
  • 0

“Hawa-hawa akhir” tahun sepertinya sudah mulai berembus. Tanpa terasa, sebentar lagi, kita akan menyambut tahun yang baru. Hal ini tentu membawa kegembiraan dan harapan. Kita tentu berharap bahwa akan lebih banyak lagi berkah yang diperoleh pada tahun berikutnya.

Harapan yang sama juga berlaku untuk semua “jenis” tahun baru. Maklum, sistem penanggalan yang dikenal oleh masyarakat berbeda-beda. Ada yang menggunakan sistem penanggalan Masehi, Hijriyah, lunar, dan sebagainya. Oleh sebab itu, tahun barunya pun berlainan waktunya.

Sebagai umat Buddha, kita mengenal sistem penanggalan buddhis. Berbeda dengan penanggalan Masehi, penanggalan buddhis memang mempunyai perhitungan tersendiri. Sebagaimana diketahui, penanggalan ini dihitung setelah Buddha parinibbana. Sejak saat itu, penanggalan ini dimulai dan setiap tahun, diperingati dalam Hari Raya Waisak.

Kalau tahun ini memasuki angka 2563, berarti 2563 tahun sudah berlalu setelah Buddha mangkat. Untuk sebuah ajaran, itu adalah waktu yang sangat panjang. Jarang-jarang ada sebuah ajaran yang terus dipraktikkan selama ribuan tahun, seperti ajaran Buddha!

Hal itu bisa terjadi bukan tanpa sebab. Kalau membaca Kitab Buddhavamsa, kita akan mengetahui bahwa ajaran Buddha Gotama memang lebih “awet” daripada Buddha-Buddha lainnya.

Dalam sebuah kesempatan, Buddha pernah menyampaikan bahwa ajaran yang Beliau babarkan paling lama akan bertahan hingga 5.000 tahun. Selebihnya ajaran Beliau akan pudar, tertutup, sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh Buddha berikutnya.

Alasan ajaran Buddha bisa bertahan lama ialah karena Beliau menjelaskan ajarannya dengan sangat rinci. Jika kita merujuk pada kitab angutara nikaya, akan terlihat bahwa Buddha mengajarkan Dhamma secara runtut, mendetil, dan bertahap.

Hal itu mesti dilakukan karena Buddha muncul ketika umat manusia umumnya masih diselimuti kekotoran batin yang tebal. Kegelapan batin memang bisa menjadi dinding, yang menghalangi seseorang untuk menyadari Dhamma yang sesungguhnya.

Hanya saja, ketebalan kekotoran batin masing-masing orang berbeda. Ada yang kotoran batinnya setipis “triplek”, ada pula yang setebal “beton”.

Untuk orang yang kekotoran batinnya sedikit, Buddha biasanya hanya akan menjelaskan ajarannya secara singkat. Buddha merasa bahwa lewat uraian pendek, orang tersebut akan langsung memahami maksud Beliau.

Bhante Bahiya bisa menjadi contoh untuk kasus tersebut. Sewaktu Bhante Bahiya datang menemui Buddha untuk meminta ajaran, Buddha hanya menyampaikan sebuah nasihat pendek, hanya beberapa kalimat saja. Namun, dalam waktu singkat, Bhante Bahiya dapat langsung mengerti penjelasan Buddha, dan merealisasi pencerahan.

Namun, bagi orang yang punya setumpuk kekotoran batin, uraian panjang umumnya diberikan. Ibarat Standard Operating Prosedure (SOP), semakin lengkap suatu uraian, semakin mudah dipahami isinya. Dengan penjelasan yang detil demikian, Buddha berharap orang tersebut akan lebih mudah menjalankan dan menyelami Dhamma setahap demi setahap.

Makanya, jangan heran, setelah parinibbana, Buddha mewariskan banyak sekali ajaran. Ajaran ini kemudian dirawat oleh para siswa Buddha dari berbagai macam mazhab, dan diteruskan turun-temurun hingga sekarang.

Sebelum didokumentasikan dalam bentuk tulis, dulunya, ajaran ini disampaikan secara lisan. Para siswa Buddha terus mengulang dan mengingatnya di dalam pikiran sebelum selanjutnya menyebarkannya ke umat lain lewat ceramah.

Biarpun sekarang semua ajaran Buddha sudah ditulis, pembabaran Dhamma secara lisan masih terus dilakukan. Seperti kata Buddha, sejak Beliau membabarkan Dhamma pertama kali kepada lima petapa sekitar 26 abad silam, roda Dhamma telah berputar, dan akan terus berputar puluhan abad berikutnya!

Pada tahun depan, ajaran Buddha memasuki tahun ke 2564. Di tengah pelbagai persoalan yang datang, seperti penurunan jumlah umat Buddha karena pindah keyakinan, atau konflik dalam organisasi buddhis, kita tentu berharap ajaran Buddha bisa terus lestari agar membawa berkat untuk semua makhluk.

Selamat tahun baru 2564 Buddhis Era!

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara