• Sunday, 11 February 2018
  • Lani Lan
  • 0

Some people need happiness to smile, other people will just smile to be happy.

Semua benda di sekelilingku tiba-tiba berubah menjadi sangat besar, waktu menjadi lambat dan mencekam.

“Hai Rico, gimana kabarmu?”

“Kok kamu jadi kurus, kok kamu tidak meneleponku lagi, kamu ke mana aja? Aku rindu kamu.”

“Rico, aku benci pertemuan kita, aku benci rasa penasaranku yang terjadi begitu saja.”

“Dan aku benci kalo kamu dan Filan adalah paman dan keponakan!!”

Beribu pertanyaan muncul di pikiranku. Bahwa kudapati diriku hanya bisa terdiam ditekan oleh keadaan. Aku tertawan oleh wajah Rico yang tidak mempedulikanku, yang terus memeluk Metta yang sedang menangis. Air mataku pun rasanya akan tumpah seketika, rumah sakit ini lebih mencekam daripada rumah duka.

Bandung

Cuaca Bandung yang dingin 20 derajat membuatku menggigil. Aku memeluk diriku sendiri dengan sesak yang masih menjeratku. Kemudian aku duduk menyandarkan punggungku di tembok di sebuah kursi panjang berwarna putih dengan mata masih tertuju pada Rico dan Metta.

Sebuah percakapan yang mengharu biru itu membuat hatiku berdebar tak karuan. Di saat begini, senyum Filan tiba-tiba hadir di pelupuk mataku, suaranya berbisik kalau semua akan baik-baik saja.

Pernah suatu ketika aku dan Filan ngobrol di telepon dari pukul 9 malam sampai pukul 3 subuh. Hanya untuk membahas sesuatu yang tidak penting, intinya sih aku ingin mendengarkan suaranya dan hasilnya aku dimarahin oleh kakakku, katanya gadis macam apa yang cekakak-cekikik lewat telepon sampai berjam-jam di tengah malam.

Padahal itu adalah sesuatu yang mengasyikkan ketika jatuh cinta di usia remaja, apalagi gratisan dari operator telepon, suka curang, dibuat tengah malam sampai menjelang subuh. Huftt…

Begini percakapannya.

“Filan kenapa aku bisa mengenalmu di antara miliaran manusia di bumi? Kalau boleh memilih sih, aku ingin kenal dekat dengan Lee Min Hoo saja deh,” tanyaku.

“Mungkin kehidupan yang lalu kita sudah kenal dan Lee Min Hoo gak pernah kenal kamu,” sahut Filan.

“Ha…ha… ha…,” aku terbahak.

“Eh seriusan loh! Kamu nyesel kenal aku? Kalo gitu kita pura-pura gak kenal aja gimana?” lanjut Filan.

“Ha-ha-ha. Tuhan baik banget mengirim kamu yang mau aku kenal ya,” aku senyum-senyum.

“Loh kok Tuhan sih? Yang baik itu aku karena mau kenalan sama kamu. Ha…ha… ha…,” suara Filan di ujung telepon membuatku bahagia dan selalu tersenyum.

Bahkan di saat genting seperti ini pun, aku masih bisa tersenyum mengingat Filan. Kini mataku dan mata Rico bertemu, hanya saling pandang, tak mampu saling menyapa. Kupu-kupu terbang begitu saja meninggalkan kami dalam kesunyian dengan pandangan mata kosong.

Saat ini hatiku benar-benar kosong, tidak ada secercah harapan yang kutanamkan pada Rico. Aku hanya memandangnya sebagai orang yang belum pernah kukenal, demikian halnya dengan Rico.

Meskipun banyak pertanyaan dan hujatan yang ingin kusampaikan dan mungkin saja Rico juga banyak penjelasan yang ingin diutarakan, namun waktu menguncinya sebagai alasan untuk jawaban suatu hari nanti.

Dokter keluar dari ruang UGD segera menghampiri Rico dan Metta. Dokter mengatakan kalau Filan sudah baik-baik saja dan harus istirahat total karena terlalu kelelahan dan lupa meminum obatnya. Saat ini Filan sedang tidur tidak boleh diganggu.

Akh! Lega. Itu artinya aku sudah bisa pulang dengan tenang. Aku hanya bisa melihat Filan dari jendela, ekpresinya jelek banget. Akan aku sampaikan kalau Filan sudah sadar nanti bahwa aku bisa mengejeknya sesuai fakta dan aku akan merasa menang telah melihat kelemahannya. Wah, jahatnya aku. Aish! Aku mau pulang saja.

“Metta, Kakak pulang dulu ya, besok kalau sempat ke sini lagi untuk jenguk Filan,” kataku sambil menepuk pundak Metta.

“Iya, makasih ya Kak,” jawab Metta mengangguk dengan mata masih bengkak.

“Mau aku anter?” Rico menawarkan diri.

“Gak usah, makasih,” jawabku singkat dan berlalu begitu saja. Rico mengikuti langkahku, namun aku tak peduli.

“Anna, maafkan aku!” bisik Rico yang samar kudengar di telingaku. Dan aku tidak ingin menoleh ke arahnya, melangkah terus menuju parkiran walau pada akhirnya aku mencari sosoknya dan hanya kudapati bayangan yang mulai menjauh pergi.

Sekarang aku mengemudikan sepeda motorku dari arah rumah sakit Boromeus Dago menuju jalan Merdeka yang diluruskan ke arah Taman Vanda.

Malam yang dingin dan sepi membuatku mengulang pertanyaan, kenapa dari miliaran manusia, aku justru mengenal Filan dan Rico? Atau sebuah takdir yang harus kujalani dari Tuhan? Tuhan itu muncul dalam berbagai bentuk.

Percayakah aku akan adanya Tuhan? Ya, Tuhan itu ada tapi bukan untuk memberiku soal ujian. Aku percaya Tuhan itu ada di setiap hati manusia untuk memunculkan sifat-sifat ke-esaan-nya.

Aku menarik napas panjang. Bagaimana dengan karma? Mungkinkah aku mempunyai sesuatu yang belum selesai di kehidupan yang lalu seperti kata Filan? Tidak serta merta semua disebut salah karmaku dan karmamu.

Di kehidupan yang kompleks ini, tidak semua bisa dijelaskan dengan logika, tapi bukan juga sebuah rahasia. Jangan banyak membantah dan jangan gampang menyerah. Mungkin ini adalah salah satu caraku untuk menjadi dewasa.

Ilustrasi: Agung Wijaya

Lani Lan

Penulis cerpen, guru sekolah Minggu di sebuah vihara, menyukai dunia anak-anak.

Hobi membaca, jalan-jalan, dan makan.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *