• Saturday, 13 April 2019
  • Maharani K
  • 0

Apakah aku ini aneh karena mencintai seorang laki-laki?”

“Apakah sebegitu hinanya saya jika tidak dapat menjalin hubungan normal dengan wanita?”

“Lebih baik aku mati saja daripada dikucilkan orang-orang di sekitarku, dianggap rendah, dan tidak bisa membahagiakan orang tuaku dengan memberinya cucu dari seorang wanita?”

“Apakah menikah dengan wanita adalah jalan satu-satunya untuk menjadi bahagia dalam hidup ini?”

Pertanyaan-pertanyaan dan konflik batin dari seorang homoseksual ini akan sering muncul disertai dengan emosi kemarahan, protes, rasa tidak terima, merasa berbeda dan terintimidasi oleh masyarakat. Seorang individu yang mempertanyakan orientasi seksualnya mungkin mengalami kecemasan, ketidakpastian, kebingungan, dan rendah diri di antara banyak emosi lainnya. Ketika emosi ini tidak ditangani dengan benar, hal itu dapat menyebabkan depresi.

Homoseksual bukan hanya melulu soal hasrat seksual yang muncul terhadap sesama jenis, namun juga bagaimana seorang laki-laki memandang hubungan yang sehat antara pria dan wanita, identitas dirinya secara keseluruhan dan apa saja harapannya terhadap suatu hubungan kelak. Hal-hal tersebut dikombinasikan dan menjadi suatu pola pikir dalam diri seorang anak laki-laki, kemudian mempengaruhi rasa ketertarikannya terhadap lawan jenis/sesama jenis.

Konflik

Konflik internal dalam batin mereka yang terus bergumul, perlawanan akan norma-norma yang ada, belum lagi konflik di dalam keluarganya yang mungkin terus mempertanyakan dan mencurigai arah orientasi seksualnya, serta tuntutan untuk segera menikah dari orang-orang sekitar, semakin menjadi kompleks ketika kaum homoseksual ini dewasa.

Misalnya tertarik dengan saudara atau kakak laki-lakinya, lebih senang melihat tokoh laki-laki di film maupun majalah daripada tokoh perempuan. Lebih tertarik bermain mainan-mainan yang feminin seperti anak perempuan, dan merasa lebih gampang bergaul dengan perempuan daripada dengan laki-laki.

Ketertarikan mereka terhadap laki-laki dirasa berbeda dibandingkan ketertarikannya dengan perempuan, yang mana mereka merasa perempuan dianggap hanya cocok sebagai teman biasa saja, namun ketika ditanya tentang keinginannya untuk menjalin sebuah hubungan yang lebih serius, seperti pacaran, mereka akan menjawab ingin menjalin hubungan dengan laki-laki.

Kebanyakan wanita merasa tertipu setelah memasuki dunia pernikahan dengan seorang homoseksual, yang ketika masa pacaran tidak terlihat sama sekali identitas yang sesungguhnya.

Terapi

Berbagai macam terapi psikologis masih dapat dilakukan, selama pria tersebut masih memiliki keinginan untuk menjalin hubungan normal kembali dengan seorang wanita. Motivasi untuk berubah adalah hal terpenting yang harus dimiliki untuk dapat ‘sembuh’ kembali.

Terkadang tekanan yang berat di masa remaja mereka untuk tetap bertahan melawan bullying terhadap orientasi seksual mereka, kecemasan-kecemasan dan konflik internal dalam diri karena kelainan tersebut, kemudian stres yang dialami sekarang ketika norma masyarakat menuntut mereka untuk menikah di usia tertentu, justru memperparah situasi yang mereka alami, dan membuat mereka semakin putus asa dan tidak dapat menolong dirinya sendiri untuk dapat ‘sembuh’. 

Para profesional seperti psikolog dapat menggunakan berbagai pendekatan untuk melakukan psikoterapi terhadap seorang homoseksual. Pendekatan yang dilakukan dapat melalui berbagai metode, seperti terapi kognitif, yaitu mengangkat kesadaran si klien mengenai kondisi mereka, dan mengapa perubahan itu penting bagi diri mereka dan masa depannya, dengan mengajak si klien berbincang dan berpikir, diharapkan akan muncul sebuah insight atau kesadaran mengenai arti penting menjalin hubungan secara normal dengan lawan jenis.

Baca juga: LGBT, Sebuah Sudut Pandang Psikologi

Setelah tahapan terapi kognitif, berikutnya dapat dilakukan pendampingan untuk perilaku/behavior therapy pada klien. Karena kesadaran dan pola pikir untuk berubah sudah ada, sekarang saatnya untuk melakukan tindakan-tindakan nyata dalam keseharian klien agar perubahan tersebut segera terwujud. Misalnya mulai menjalin relasi dan melakukan pendekatan dengan seorang wanita.

Terapi emosi dapat melalui beberapa pendekatan seperti hipnoterapi, empty chair therapy, forgiveness therapy, resources therapy, dan lain sebagainya. Intinya adalah mengeluarkan ganjalan-ganjalan dan luka hati yang ada di dalam, menyembuhkannya, dan kemudian mencari sumber-sumber daya yang dapat menguatkan klien untuk berubah menjadi lebih baik.

Tidak ada jaminan pasti bahwa setelah melakukan serangkaian terapi ini, seorang homoseksual pasti akan dapat langsung berubah dan kemudian jatuh hati dengan seorang wanita.

Terkadang diperlukan masa rehat, penyadaran diri dan introspeksi yang lebih mendalam mengenai harapan dan cita-cita hidupnya, sebelum melakukan perubahan dalam hubungan cintanya dengan lawan jenis. Namun tidak ada yang tidak mungkin selama manusia mau berusaha dan memiliki keinginan untuk ‘sembuh’ meskipun dengan motivasi yang berbeda-beda.

*Bagi yang hendak mengajukan konsultasi psikologi, silakan kirim ke [email protected]

 

Maharani K.,M.Psi

Psikolog keluarga, Hipnoterapis, dan Trainer

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *