• Friday, 21 May 2021
  • Sunyaloka
  • 0

Buddha sering berpergian bersama murid-murid monastikNya. Setidaknya ada Bhante Ananda yang selalu menemani Beliau. Masyarakat bisa mengenali komunitas Buddha karena melihat kelompok petapa yang pergi bersamaan, mengalir bagaikan sungai.

Suatu hari, Buddha memberi pesan kepada Ananda bahwa Ia akan berpergian sendiri beberapa hari. Bhante Ananda kemudian mengumumkan kepada beberapa senior seperti Bhante Sariputra dan Bhante Mogalyayana juga komunitas yang lain.

Mengusir
Buddha kemudian hilang tanpa bekas. Ia pergi ke sebuah hutan untuk menetap di sana. Tidak jauh dari situ ada sebuah dusun kecil. Pagi itu Buddha mampir ke dusun itu untuk memberi kesempatan pada penduduk guna berderma makanan.

Tiba-tiba sang pemilik rumah keluar sambil berteriak mengusir Buddha. “Hei pengemis, pergilah ke tempat lain, jangan ganggu aku!” Buddha pun pergi dengan tenang tanpa merasa terusik sama sekali.

Ternyata sang pemilik rumah itu mengalami kemalangan pagi itu. Kerbau yang selama ini membantunya bekerja di sawah tiba-tiba mati. Dalam keadaan frustasi membuat emosinya tidak stabil. Maka sumpah serapah juga keluar dari mulutnya pagi itu.

Buddha pindah ke rumah berikutnya untuk menerima derma makanan. Sang tetangga sangat terkejut, dia tahu bahwa itulah petapa agung, Siddharta Gotama, yang biasa disapa Buddha. Ia segera mengambil makanan dari dapur untuk diberikan kepada Buddha. Setelah menerima persembahan makanan, Buddha kembali ke hutan.

Berempati
Sang tetangga mendengar teriakan barusan, segera mampir dan menanyakan apa yang terjadi. Setelah bercerita panjang tentang kesedihannya tentang kerbaunya yang mati. Akhirnya tetangga itu mulai mengerti kenapa dia pagi-pagi sudah stres.

Lalu, dia pun bertanya, “Wahai sahabatku, saya tahu Anda sedih karena kerbau yang mati. Tapi tadi saya mendengar engkau mengusir seorang petapa yang memberi kita berkah untuk berderma makanan. Tahukan engkau bahwa yang kamu hardik adalah Petapa Gotama.” Dia langsung terkejut menjawab, “Heh?!!! Mana mungkin?! Petapa Gotama biasanya selalu bersama banyak muridnya, kok sendirian?!”

Tetangganya menjawab, “Nah itulah saya tidak tahu. Beberapa hari lalu saya mendapat kabar bahwa Petapa Gotama sedang berkelana sendirian, dan saya yakin yang tadi pagi kamu usir itu adalah Buddha.”

Mohon Maaf
Dia merasa bersalah telah mengusir Buddha, bahkan menggunakan kata-kata kasar. Dia begitu menyesal dengan perbuatannya. Keesokan harinya, dia membawa dana makanan untuk dipersembahkan kepada Buddha sekalian memohon maaf.

Dia cukup beruntung, dia bertemu dengan Buddha yang duduk dengan solid di bawah pohon besar. Dia segera sembah sujud di hadapan Buddha memohon maaf. “Wahai Guru, saya memohon maaf karena saya telah berbuat kasar kepada Guru.”

Buddha bertanya, “Kapan kejadian itu?” Dia menjawab, “Kemarin pagi waktu Guru memohon makanan di depan rumah saya, dan saya mengusir Guru dengan kata-kata kasar. Mohon Guru hukumlah saya, cambuklah saya atas semua kesalahan saya.”

Buddha menjawab, “Kemarin sudah tiada, yang saya tahu hanyalah hari ini. Jadi, tiada yang bisa saya maafkan.” Mendengar kata-kata dari Buddha, dia merasa lega, dia segera mempersembahkan makanan kepada Buddha dan memohon diri pamit. Ia kembali dengan hati damai dan tenang.

Racun Mematikan
Dalam hidup, banyak orang mengalami kesulitan memaafkan. Ada yang menyimpan dendam sampai berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, kadang bertahun-tahun. Dendam itu berubah menjadi racun mematikan buat diri sendiri.

Keberhasilan memaafkan adalah pencapain luar biasa, sebanding dengan keberhasilan memunculkan welas asih. Apa yang Buddha teladankan pada petani itu memberikan panutan indah, sebagaimana “Ing ngarso sung tolodo”.

Apabila Anda masih marah dan kesal atas kejadian kemarin, maka Anda sedang memberikan pupuk kepada benih kemarahan dan kekesalan sehingga dua benih itu tumbuh subur. Jika Anda adalah sang petani yang kehilangan kerbau itu, ada kemungkinan Anda juga akan galau dan stres.

Hidup selalu berubah dari momen ke momen. Jangan biarkan satu momen peristiwa mengurung Anda di situ. Memulai memaafkan diri sendiri adalah modal untuk memaafkan orang lain.

Memaafkan adalah aksi nyata menyanyangi diri sendiri, mencintai diri sendiri. Karena orang pertama yang perlu disayangi dan dicintai adalah dirimu sendiri.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *