• Sunday, 3 March 2019
  • Reza Wattimena
  • 0

Di dalam filsafat, Marxisme adalah cinta pertama saya. Saya masih ingat buku tulisan Franz Magnis-Suseno yang berjudul Pemikiran Karl Marx. Seingat saya, buku itu terbit pada 1999. Itu merupakan salah satu buku filsafat pertama yang saya baca sampai selesai.

Sewaktu itu, saya masih di bangku SMA. Saya masih ingat perasaan saya waktu itu. Pikiran begitu tercerahkan. Dada begitu berkobar oleh semangat untuk membuat perubahan. Sejak itu, saya menjadi seorang Marxis.

Jalan filsafat

Sejak kecil, saya tertarik pada tiga hal, yakni musik, olahraga basket, dan komputer. Persentuhan saya dengan filsafat mengubah semua itu. Saya memutuskan, bahwa musik, basket, dan komputer bisa dipelajari sendiri. Namun, untuk belajar filsafat, orang butuh guru. Dan guru terbaik, pada saat itu, adalah Franz Magnis-Suseno yang mengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.

Setelah berbicara dengan keluarga, saya memutuskan untuk belajar filsafat secara total. Di STF Driyarkara, saya berulang kali mengalami “ejakulasi intelektual”. Saya begitu banyak mendapat pencerahan dari para pengajar yang amat brilian, kritis, dan rendah hati (F. Budi Hardiman, Karlina Supelli, Mudji Sutrisno, B. Herry Priyono, Franz Magnis-Suseno). Saya tidak hanya mendalami pemikiran Marx, tetapi juga para pendahulu (Kant, Hegel) sekaligus para penerus Marx (Lukacs, Gramsci, Habermas, Adorno).

Saya percaya, perkawinan antara teori dan laku politik akan mendorong perubahan sosial di dalam kehidupan. Namun, dalam perjalanan, saya selalu merasa kurang. Ada kehampaan batin yang terus datang di tengah pergulatan teoritis dan laku politik. Ini semua bermuara pada depresi amat berat yang saya alami, ketika sedang belajar di Jerman.

Di hadapan derita batin yang amat kuat, semua teori runtuh. Bahkan, hiburan-hiburan batin filosofis ala filsafat Stoa, Arthur Schopenhauer, Friedrich Nietzsche, dan Martin Heidegger tidak juga membantu. Saya mengalami pembalikan yang tak terduga, baik di tingkat pemikiran dan terutama di tingkat spiritual. Saya menemukan Zen di Jerman.

Kebetulan, pada 2014 lalu, di Kota Muenchen, Jerman sedang mengalami jatuh cinta dengan Buddhis. Begitu banyak tempat dan komunitas meditasi. Kebetulan juga, salah satu profesor fisika di tempat saya belajar adalah seorang master Zen dari tradisi Rinzai Zen Jepang (namanya Stefan Bauberger). Saya langsung menghubungi dia, dan belajar darinya.

Jika ada yang tanya, di mana saya belajar Zen, saya langsung menjawab: Jerman. Itu tentu jawaban aneh. Jerman adalah rumah bagi teknologi dan filsafat (terutama pemikiran Marxis, Fenomenologi, Idealisme Jerman dan sebagainya). Lalu, mengapa ada Zen di sana? Hidup memang lucu terkadang.

Cinta pertama saya: Marxisme

Pada Januari 2019 ini, saya mengikuti seminar dua hari tentang Marx di Goethe Institut, Jakarta. Saya berjumpa dengan Daniel Loick, seorang pemikir kiri sejati, amat cerdas, dan sangat rendah hati, yang memberikan materi tentang Marx (terima kasih banyak Goethe Institut Jakarta). Dua hari berdiskusi dengannya, saya teringat cinta pertama saya, yakni Marxisme. Rasa kangen pun muncul di dada.

Marx, bagi saya, adalah seorang ilmuwan revolusioner dengan jiwa romantis. Ia memimpikan dunia yang terdiri dari orang-orang yang bebas, setara dan bersahabat satu sama lain. Ini mirip dengan cita-cita Revolusi Perancis, yakni kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan. Marx memimpikan dunia tanpa penindasan, tanpa kemiskinan.

Bagi Marx, akar kemiskinan adalah kehadiran sistem ekonomi kapitalisme yang akhirnya mempengaruhi politik dan budaya masyarakat Eropa pada masa itu. Kapitalisme memisahkan masyarakat ke dalam dua kelas yang saling bertentangan, yakni kelas pemilik modal (borjuasi) dan kelas pekerja (proletariat). Di permukaan, kedua kelas ini saling membutuhkan. Di kedalaman, kedua kelas ini saling bermusuhan, dan, dalam jangka panjang, akan saling meniadakan.

Cita-cita terdalam Marx adalah masyarakat tanpa kelas. Ini akan terjadi, setelah kelas pekerja bersatu, dan menghancurkan kelas pemilik modal melalui revolusi. Alat-alat produksi pun dikuasai bersama, dan tidak lagi dimiliki secara pribadi oleh para pemilik modal. Bagi Marx, ini akan merupakan kepastian sejarah, karena pertentangan kepentingan yang begitu dalam antara kelas pekerja dan kelas pemilik modal.

Para pemikir Neo-Marxis banyak melakukan penambahan ataupun pengurangan terhadap pemikiran Marx. Saya tidak akan membahas itu di sini. Ada dua hal penting yang kiranya bisa kita ambil dari Marx.

Yang pertama adalah semangat melakukan perubahan sosial untuk mewujudkan dunia yang lebih adil, daripada yang kita tempati sekarang ini. Yang kedua adalah bahasa dan konsep yang tetap bisa digunakan untuk memahami ketidakadilan yang terjadi (konsep alienasi, teori nilai lebih, basis-bangunan atas), baik di masa lalu, masa kini maupun masa depan. Di abad 21 yang semakin kompleks ini, pemikiran Marx, dan Neo-Marxis, tetap hidup, dan justru semakin relevan.

Sebelum revolusi: Zen

Pemikiran Marx memang amat revolusioner. Marx sendiri memang bermaksud untuk merumuskan dasar teoritis yang kokoh bagi laku revolusi yang mengubah seluruh sistem kapitalisme sampai ke dasarnya. Namun, dibandingkan dengan jalan Zen, revolusi Marx masih kurang radikal. Sampai saat ini, saya merasa, jalan Zen adalah jalan paling radikal dan paling revolusioner yang pernah ada.

Ada tiga hal yang menjadi alasan saya. Pertama, revolusi Zen adalah revolusi pemahaman tentang diri sendiri. Ini seperti membalikan semua pemahaman yang telah ada sebelumnya. Ketika orang menekuni jalan Zen secara tekun, perubahan terasa di berbagai unsur kehidupan, baik itu pikiran, hubungan dengan orang lain, cara bertindak, cara merasa bahkan sampai struktur biologis tubuh.

Baca juga: Zen dan Revolusi Industri Keempat

Dua, revolusi Zen akan mengusir segala bentuk penderitaan borjuasi. Penderitaan borjuasi muncul, karena orang terpaku pada kepentingan dirinya semata. Ia rakus, dan mau supaya dunia bekerja sesuai dengan kehendaknya. Penderitaan borjuasi adalah penderitaan sempit yang konyol dan memalukan. Ia dengan mudah bisa dilihat dari lahirnya generasi galau yang kesulitan hidupnya hanya soal patah hati, ataupun tak bisa membeli ponsel canggih keluaran terbaru.

Tiga, jalan tertinggi Zen adalah jalan Bodhisattva. Ini adalah jalan orang yang sudah memahami jati diri asalinya, dan kemudian hidup untuk kepentingan semua mahluk. Jalan ini jauh lebih radikal dari jalan revolusioner Marxis. Kepentingan diri, yang diselubungi kepentingan kelas pekerja, masih amat kuat di Marx. Pemikirannya juga masih hanya melihat manusia sebagai pusat alam semesta, dan mengabaikan bentuk-bentuk kehidupan lainnya.

Seorang Marxis-Zennist

Pada titik terdalam, jalan Marx dan jalan Zen adalah satu dan sama. Marx ingin mewujudkan dunia tanpa penindasan. Zen ingin mewujudkan dunia tanpa penderitaan. Jika disatukan, keduanya akan menjadi kekuatan perubahan yang amat besar.

Revolusi sosial politik, tanpa revolusi batin, akan bermuara pada tirani baru yang tak kalah mengerikannya. Sejarah sudah mengajarkan kita tentang hal ini. Uni Soviet mungkin adalah contoh paling baik. Sebuah sistem politik yang didirikan dengan ide luhur, namun dipelintir menjadi salah satu tiran politik paling mengerikan di dalam sejarah. Tidak ada Marxisme di dalam Uni Soviet. Itu yang harus dipahami.

Dengan revolusi batin di jalan Zen, kejernihan dan kebijaksanaan akan tumbuh secara alami. Revolusi sosial politik amat membutuhkan kejernihan dan kebijaksanaan semacam itu. Korban jiwa dan harta benda bisa sejauh mungkin dihindari. Sistem politik yang tercipta kemudian pun lalu didasari oleh kejernihan, dan bukan lagi oleh ambisi kekuasaan, seperti yang banyak terjadi sebelumnya.

Seminar bersama Daniel Loick di Goethe Institut Jakarta kemarin amat menyegarkan batin dan pikiran saya. Terima kasih atas semua pihak yang terlibat. Saya dikembalikan pada cinta pertama saya, namun dengan kaca mata baru yang lebih luas. Saya semakin revolusioner, sekaligus semakin jernih. Penderitaan tak hilang. Namun, penderitaan kini menjadi bermakna, karena memiliki kerangka yang lebih luhur dan luas, yakni kerangka Marxis-Zen.

Reza A.A Wattimena

Pelaku Zen, tinggal di Jakarta

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *