• Sunday, 14 March 2021
  • Hendry F. Jan
  • 0

Mentari sudah terbenam di ufuk barat. Langit mulai gelap, bintang-bintang mulai terlihat menghiasi angkasa. Ada beberapa bintang yang tampak berkelap-kelip seperti sedang bermain mata kepada siapa pun yang memandang langit. Suara jangkrik mulai terdengar. Suara yang sudah lama tak didengarnya, sejak ia memutuskan untuk meninggalkan desanya dan bekerja di kota. Kini suasana pedesaan kembali menemani hari-harinya.

Akhir tahun 2017 Fujiati memutuskan untuk merantau ke kota. Mencoba mencari suasana baru, setelah ibu, orangtua satu-satunya meninggal dunia karena sakit. Ayahnya sudah lebih dulu meninggal karena kecelakaan kerja saat bekerja sebagai tukang bangunan.

Dua orang adiknya, semua laki-laki, sudah SMP dan SMA. Keduanya sudah bisa mandiri, bisa mengurusi diri sendiri. Fuji harus merantau, mencari uang agar kehidupan adik-adiknya lebih baik. Supaya mereka bisa sekolah yang tinggi, tidak seperti Mbak-nya yang hanya tamat SMA.

Hari-hari pertama di kota berjalan lancar. Fuji dibantu Mbak Rani, teman satu desanya. Mbak Rani yang memberitahunya ada lowongan kerja di toko majikannya. Lumayan, jadi pelayan toko. Karena itulah Fuji berani merantau ke kota. Bekerja hari Senin sampai Sabtu, Minggu libur.

Fuji masih punya waktu untuk ikut pujabakti di vihara. Ia hanya sendirian ke vihara, Mbak Rani beragama Islam. Biasanya selesai pujabakti Fuji janjian dengan Mbak Rani, bertemu di mal, jalan-jalan hanya sekadar cuci mata, saling bercerita pengalaman kerja, dan ngobrol tentang keluarga di desa.

Kerjaan lancar-lancar saja, majikan baik, gaji lancar. Komunikasi dengan adik-adiknya tidak ada masalah di zaman internet dan medsos ini. Secara rutin ia dapat berkomunikasi lewat WA dengan kedua adiknya. Fuji bisa menyisihkan gajinya untuk dikirim ke adik-adiknya. Adiknya pun tau diri, mereka juga punya kerja sambilan merawat kambing milik tetangga, kadang membantu tetangga mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan.

Umur Fuji sekarang 20 tahun, wajahnya tidak cantik, tapi ia manis. Cukup banyak yang suka padanya. Ada empat pria beristri yang naksir pada Fuji. Mas Karno, ayah satu putri sering menggodanya, ada Hartoyo, ASN yang juga sudah memiliki satu putri, Anto, bandot tua dengan tiga putri, serta Meigianto, seorang suami yang sudah nikah lima tahun tapi belum memiliki anak. Yang single juga banyak.

Dari yang mulai mengajak kenalan, minta nomor ponsel lalu ngobrol via WA, ada yang mengirimkan hadiah, sampai ada yang menyatakan cinta dan mengajak menikah. Fuji hanya menganggap mereka teman. Satu prinsip yang dipegang teguh oleh Fuji, suaminya harus seorang Buddhis! Dan dari semua yang naksir, tak ada yang Buddhis.

* * * * *

Obrolan Fuji dan Mbak Rani terhenti. “Rani, apa kabar?” sapa seorang pria saat Fuji dan Mbak Rani sedang window shopping di mal. “Kabar baik, Mas,” jawab Mbak Rani. Ternyata pria yang bernama Pramudya atau disapa Mas Pram itu adalah saudara jauh Mbak Rani.

Dari perkenalan singkat itu, akhirnya Fuji sering berhubungan dengan Mas Pram. Kadang jalan bertiga di hari Minggu, lanjut chat via WA, dan akhir-akhir ini Fuji sering pulang kerja diantar Mas Pram. Saat pulang kerja, Mas Pram pasti melewati kost-nya Fuji. Fuji susah untuk terus menolak tawaran Mas Pram.

“Yuni memanggil,” begitu tulisan yang tertera di ponsel Fuji. Yuni adalah teman sekampung Fuji, ia juga pergi merantau. Yuni merantau jauh, ia sampai ke Pulau Sumatera, tepatnya kerja di Kota Jambi.

Lama mereka ngobrol ngalor ngidul karena lama tidak berkomunikasi. Yuni mengatakan ia akan kembali ke kampung halaman setelah merantau selama 5 tahun. Ini kabar menggembirakan bagi Fuji. Setitik cahaya terang menuntunnya untuk kembali ke kampung halamannya.

* * * * *

Keinginan pulang ke kampung halaman sudah sangat sering terlintas di benak Fuji. Fuji tetap bertahan, ia teringat adiknya yang butuh biaya untuk melanjutkan pendidikan. Ia betah bekerja, suasananya nyaman, majikannya baik, dan Fuji mulai memiliki banyak teman.

Tapi ada dua masalah pelik. Pertama, Fuji merasakan ada benih-benih cinta mulai tumbuh. Ia mulai jatuh cinta kepada Mas Pram dan Mas Pram tidak mungkin pindah keyakinan! Kedua, suasana di vihara yang tidak asyik. Keduanya sangat menyiksa.

Cinta datang tanpa diundang. Hampir tiap hari dibonceng Mas Pram, ngobrol, dan perhatian Mas Pram, tanpa disadari, benih cinta mulai tumbuh. Witing tresno jalaran soko kulino. Fuji pindah keyakinan? No way! Sebelum telanjur jauh, ini harus diakhiri. Kemudian soal sambutan umat di vihara. Memang sih seminggu hanya sekali ke vihara, tapi itu suasana yang ditunggu-tunggu. Mengikuti pujabakti, meditasi, bertemu dengan teman se-Dhamma.

Umat Buddha di vihara itu tidak welcome pada Fuji. Ia umat baru di sana, dari datang, hingga pulang, tak satu pun umat di sana yang menyapanya. Bukan bermaksud rasis, tapi inilah kenyataannya. Yang beda suku, ehm… Fuji jelas tak berani menyapa duluan.

Fuji menganggap dirinya beda kelas, satu kelas di bawah mereka. Lebih dulu melempar senyum pun tidak direspon dengan baik. Umat Buddha yang satu suku dengannya? Ada, tapi mereka berkelompok dan Fuji sama sekali tidak dianggap! Mereka sudah sukses di kota, dan sepertinya menganggap Fuji juga satu kelas di bawahnya. Menyedihkan!

Fuji memutuskan pulang ke kampungnya, seperti Yuni. Bedanya kalau Yuni pulang kampung karena tabungannya sudah cukup, Fuji karena masalah cinta dan tersisih dari pergaulan di vihara.

Tapi kabar dari Yuni cukup menyejukkan hati Fuji. Desa mereka sudah mulai maju. Pekerjaan tidak hanya bertani dan beternak. Industri kecil mulai berkembang. Industri kerajinan dari bambu dan industri kopi yang tengah booming, banyak menciptakan lowongan kerja. “Lebih baik di sini, rumah kita sendiri, …” Fuji bersenandung sambil menatap ke angkasa.

Bintang-bintang di langit yang seolah seperti anak kecil yang diminta orangtuanya, memainkan mata genitnya. “Ayo Nak, mana mata genitnya?” Bintang gemintang berkali-kali mengedipkan matanya kepada Fuji yang menatap langit.

* * * * *

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Hendry F. Jan

Hendry Filcozwei Jan adalah suami Linda Muditavati, ayah 2 putra dari Anathapindika Dravichi Jan dan Revata Dracozwei Jan.

Pembuat apps Buddhapedia, suka sulap dan menulis, tinggal di Bandung.

http://www.vihara.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *