• Friday, 2 August 2019
  • Ravindra
  • 0

Generasi millenial belakangan ini telah menjadi trending topik utama dalam berbagai media masa maupun media sosial, jika Anda sering melihat berita-berita yang di-share oleh sahabat, saudara atau bahkan pacar di grup-grup WA atau aplikasi lainnya maka Anda pasti sudah tidak asing lagi jika mendengar atau membaca link berita, “Generasi Millenial Buddhis mendukung (A) untuk menjadi menteri atau Generasi Millenial Buddhis mendukung (B) untuk menjadi tokoh politik”.

Jujur saja dahi saya langsung berkerut ketika baca berita-berita seperti itu, apakah generasi millenial Buddhis hanya mengondisikan dirinya sebagai “rumah bordil” tempatnya elit-elit memperkosa idealismenya hanya untuk hasrat-hasrat politik semata.

Sudah seharusnya dan sepantasnya bahwa generasi millenial Buddhis harus menjadi patron dalam pengembangan dan perjuangan politik keumatan, bukan politik praktis yang transaksionalisme dan kita tentunya dibuat buram melihat apa sesungguhnya yang mereka perjuangkan, benarkah kepentingan umat atau hanya kepentingan pribadi dan kelompoknya saja.

Soe Hoek Gie dalam bukunya Catatan Seorang Demonstran menyebutkan, “Tapi sekarang aku berpikir sampai di mana seseorang masih tetap wajar, walau ia sendiri tidak mendapatkan apa-apa. Seseorang yang mau berkorban buat sesuatu, katakanlah, ide-ide, agama, politik atau pacarnya. Tapi dapatkah ia berkorban buat tidak apa-apa”.

Di sini, Soe Hoek Gie sangat jelas dan tegas dalam memaknai ajaran Buddha tentang kemelekatan. Mampukah kita berkorban buat tidak apa-apa atau dalam kalimat sederhana ialah mampukah kita berjuang tanpa pamrih, lagipula jika memang tokoh-tokoh yang di naikan oleh generasi millenial itu konkrit perjuangannya untuk umat, saya yakin dengan ataupun tanpa genit-genitan di media pun ia pasti akan dipilih oleh kekuasaan.

Bukankah sudah banyak contohnya bahwa pemangku kebijakan dari umat kita sendiri pun ternyata tak bisa mengakomodir seluruh kepentingan keumatan dan cenderung tersandera oleh kepentingan elit partai politiknya.

Namun tidak berarti pula saya anti politik yah, sebab politik dalam kamus Aristoteles merupakan sebuah konsep negara dan kekuasaan secara ideal, di dalamnya berbicara mengenai kebaikan bersama menuju terciptanya kebahagiaan (Eudaimonia) dan kebaikan bersama dapat terwujud melalui pengetahuan yang baik tentang politik tersebut.

Itulah mengapa sejak awal saya menekankan bahwa kewajiban sesungguhnya bagi kelompok Millenial adalah terjun langsung ke akar rumput keumatan untuk mengetahui dan memetakan kebutuhan dan masalah-masalah umat di daerah-deerah.

Bahkan, tak sedikit pula organisasi mahasiswa Buddhis yang ruang geraknya hanya di sekitar istana, gedung kura-kura, dan rumah elit-elit politik saja, mereka bahkan mungkin tak tau jika banyak umat Buddha yang sedang berjuang melawan kerasnya benturan zaman dan meningkatnya tren pindah agama yang membuat menyusutnya statistik umat kita dari tahun ke tahun.

Persoalan-persoalan inilah yang mutlak harus menjadi target-target perjuangan millenial sebagai aset agama untuk membangun kejayaan kembali umat Buddha di Indonesia. Terutama strategi mengembalikan kejayaan peradaban Buddha melalui pembangunan infrastruktur dan suprastruktur vihara-vihara di perdesaan, vihara sebagai aspek utama dalam kaderisasi umat selain keluarga tentunya harus menjadi fokus seluruh pemangku kebijakan dalam menentukan arah dan skema pembangunan agama Buddha kedepan. Tentu, kuncinya adalah membangun dari desa.

Walaupun berada di tengah himpitan kemelekatan millenial perkotaan akan kemewahan dan politik praktis serta kemegahan rumah-rumah ibadah, Masyarakat Desa Bumiayu, Blitar mengajarkan saya soal betapa pentingnya kesederhanaan dan keharusan merawat persaudaraan antarumat di seluruh Nusantara, kebahagiaan dari raut wajah mereka sangat terpancar ketika kami beberapa orang pemuda menyusur ke desa-desa untuk berkalyanamita dan mendengarkan langsung keluh kesah umat-umat di sana.

Tentunya ini bukan dalam rangka program apa-apa, biaya pun kami dari kantong pribadi, selain terinspirasi oleh semangat Buddha dalam membabarkan Dharma kami pun terinspirasi oleh pengabdian para founder Buddhazine yang tak pernah lelah turun ke umat dan malah lebih bermanfaat dan progresif ketibang organisasi mahasiswa Buddhis yang melebeli dirinya progresif dan anak kandung reformasi itu.

Di sana kami melaksanakan kebaktian-kebaktian dengan kesederhanaan yang intim dan sarat akan nilai-nilai spiritualitas yang tinggi, persis seperti apa yang diajarkan oleh sang Buddha yaitu kesederhanaan dan anti kelas (kasta).

Perdesaan menjadi nirwana bagi isi kepala saya yang sudah belasan tahun dihegemoni oleh cara berpikir kota, mulai dari hegemoni moral hingga intelektual dalam berkehidupan sehingga ketika sampai pada gerbang desa-desa, saya merasakan sesuatu yang berbeda, sepertinya Buddha berada dalam setiap senyum masyarakat Buddhis di perdesaan yang sangat mendamaikan. Lantai-lantai viharanya pun sejuk dan cerah bahkan lebih cerah daripada bualan soal kursi menteri yang digaungkan kelompok millenial bokingan.

Terima kasih keluarga besar umat Buddha Bumiayu Blitar yang memberikan kami izin menginap di rumah-rumah warga selama berhari-hari serta seluruh ilmu yang di ajarkan implisit maupun eksplisit, terutama untuk Pak Kades Bumiayu Blitar yang sangat kreatif dan inovatif dalam membangun desa serta selalu mengayomi umat Buddha disana.

Tak terkecuali Mas Lasipun beserta istri, Mas Is dan keluarga, Mbah Joyo, Pak Min serta seluruh keluarga baru saya di sana hehehehe 🙂 Semoga karma baik mempertemukan kita kembali untuk mewujudkan Buddha Nusantara yang jaya.

Untuk kawan-kawan millenial Buddhis di seluruh Indonesia, mungkin kemarin kita terlalu romantis sikapi kesepian dan terlalu sering pandangi langit gelap. Ayolah kawan, kita bangkit sekarang!

Kita tinggalkan kesunyian, kita terjun ke semua medan perjuangan. Kita teriakan lagi pekik-pekik perdamaian, kita tulis lagi prosa-prosa paling garang dan sajak-sajak paling tajam. Kita hidupkan lagi akar-akar juang rakyat dan terus menyalakan pijar dari pada selalu mengutuk kegelapan.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *