• Friday, 27 April 2018
  • Nico
  • 0

“Agamamu Apa?” “Buddha.” “Oh, yang menyembah patung pakai lidi merah?” Apakah pembaca pernah mengalami hal tersebut? Jika ya, pembaca menjawab apa? Penulis hanya bisa diam mematung, berpikir, dan menjawab sebisa penulis (kejadian ini penulis alami saat Sekolah Dasar).

Buddhis minoritas

Belajar dari pengalaman, penulis akhirnya mulai mendalami agama saat duduk di bangku SMP. Tentu saja saat MOS (Masa Orientasi Siswa), saat perkenalan, yang beragama Buddha dapat dihitung dengan jari. Ya, betul. Penulis sendiri yang beragama Buddha. Maka dapat dipastikan tidak ada teman diskusi di sekolah.

Seperti deja vu, pertanyaan terulang kembali dengan tambahan “Siapa Tuhannya?” Bersyukur penulis sudah membaca beberapa buku yang berisi tentang Ketuhanan. Penulis menjawab dan “Menjelaskan”. Jadi, “Siapa Tuhan Agama Buddha?”

Tuhan dalam agama Buddha

Menurut Udana VIII: 3, di situ dijelaskan bahwa Tuhan bukanlah suatu makhluk adikuasa yang dilahirkan, dijelmakan, dan diciptakan. Jadi, bisa dibilang pertanyaan “Siapa?” bagi penulis sedikit tidak tepat. Karena konsep yang berbeda itulah yang membuat penulis agak sulit menjelaskan kepada “orang lain”.

Contoh kasus saat ada seminar lintas agama yang penulis lihat, seperti yang sudah diperkirakan, peserta yang beragama Buddha bisa dihitung dengan jari, tetapi bagian menariknya adalah saat moderator bertanya “Siapa Tuhannya?” Jawaban orang pertama adalah Kwan Im. Kedua? Buddha. Ketiga? Para Dewa. Terakhir? Orang terakhir menjawab, “Sanghyang Adi Buddha”. Kenapa berbeda-beda? Pembaca setuju dengan orang yang ke berapa?

Baca juga: Ketuhanan Yang Maha Esa

Saya tidak memihak, tetapi saya lebih setuju ke orang terakhir. Kenapa? Karena tertulis di buku (mengacu kepada Nibbana). Jadi bila pembaca mendapat pertanyaan ini, apa yang pembaca jawab?

Untungnya, sila pertama Indonesia adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa” bukan “Tuhan Yang Maha Esa”. Setidaknya dengan begitu, penulis masih bisa merasa aman untuk menjelaskan “konsep ketuhanan” yang berbeda ini.

Akhir kata, penulis berharap para pembaca segera memahami konsep ketuhanan dalam agama Buddha agar tidak ada kesalahpahaman dengan orang-orang.

Nico

Seseorang yang lebih suka berada di balik layar, tinggal di Tangerang.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara