• Saturday, 12 May 2018
  • Wulandari
  • 0

Sylvia Boorstein, seorang psikolog dan guru yang memimpin meditasi. Ia menjawab sebuah kegelisahan.

Pertanyaan: Saya tumbuh besar di bawah bayangan perang nuklir. Saat ini, anak saya mengkhawatirkan masa depan dunia dikarenakan perubahan iklim dan Donald Trump – serta perang nuklir juga!

Sementara saya tahu bahwa Buddhis seharusnya melampaui harapan dan ketakutan, menurut saya tidak bagus bagi anak-anak untuk bertumbuh dengan perasaan putus asa dan bencana yang akan terjadi. Bagaimana saya dapat memberikan harapan kepada mereka mengenai masa depan ketika masa depan itu terlihat cukup suram?

Jawaban: Bahkan sebuah momen kecil akan kejernihan di pikiran yang dipenuhi dengan kebingungan dan energi kepedihan merupakan sebuah celah di awan yang mengizinkan sinar untuk menyinari. Temukan harapan bagi diri Anda sendiri dan kemudian anda akan dapat menginspirasikan anak anda. Ini adalah sebuah contoh.

Saya sedang menunggu lampu merah berganti, kaki saya menginjak rem dan pikiran saya bergejolak dengan kemarahan, kecemasan, dan keputusasaan.

Saya baru saja membaca berita pagi yang menyedihkan dan menonton komentar di televisi. Saya dijadwalkan di pagi itu untuk mengajarkan mengenai cara mengembangkan belas kasih di dunia yang gila, tetapi rasanya saya hanya akan berkhotbah kepada paduan suara. Keyakinan saya atas dasar kebaikan sedang diuji.

Hujan turun saat saya menunggu lampu merah. Lelaki tua yang bekerja sebagai penjaga lalu lintas mengenakan jas hujan kuning cerah dan tudung yang serasi dengan tutup helm.

Dia memiliki tanda berhenti merah yang besar di satu tangan dan sebuah payung di tangan yang lain. Dia memegang payung di atas kepala sekelompok dua atau tiga anak saat dia membantu mereka menyeberangi jalanan yang padat sambil memegang tinggi tanda berhenti sehingga dia bisa mengatur lalu lintas.

Sesuatu yang indah, tidak terburu-buru, perhatian seratus persen yang sepertinya dia berikan kepada tugasnya menarik perhatian saya, dan saya menyukainya. Pikiran saya menjadi jernih. Dengan mengenali keindahan di dunia, saya ingat bahwa rasa takut mengaburkan pikiran dan mencegahnya melihat solusi-solusi yang ada.

“Dunia akan baik-baik saja,” Saya berkata kepada kelas saya di Pusat Meditasi Spirit Rock. “Pikir dengan cara ini. Bayangkan dunia dikelilingi oleh hujan masalah. Setiap orang dari kita hanya memerlukan payung dan tanda berhenti serta keinginan untuk melindungi. Kita tidak perlu melakukan semua pekerjaan sendirian.” (lionsroar.com)

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *