• Sunday, 21 June 2020
  • Sasanasena Hansen
  • 0

Lagu ‘Lathi’ dari Weird Genius sedang viral nih. Lagu yang baru tayang di youtube dua bulan silam telah berhasil meraih lebih dari 54 juta view. Lakunya lagu Lathi melahirkan beragam trend dan komentar. Contohnya saja trend Lathi Challenge yang populer di tiktok.

Berbagai reaksi dari penikmat musik mancanegara juga turut memviralkan lagu ini. Tapi tentu tak hanya menuai komentar positif, komentar negatif pun juga banyak berseliweran. Salah satunya adalah anggapan bahwa lagu ini dapat mengundang setan.

Padahal bila kita tilik dan simak lirik lagu ini, kita tidak menemukan adanya kalimat negatif yang dapat mengundang setan. Memang sih, video klip yang dibuat menampilkan adegan seram penyanyi utama yang berubah karena keputus asaannya terhadap hubungan yang membuatnya menderita.

Lagu ini sendiri menceritakan hubungan toxic antara sepasang kekasih dimana wanita terbelenggu dan merasakan kesakitan yang mendalam. Karena sudah tidak tahan lagi dengan penderitaan yang dialaminya, dia berubah menjadi dingin dan tidak berperasaan.

Hal yang menarik dari lirik lagu ini adalah penggunaan pepatah Jawa yaitu “Kowe ra iso mlayu saka kesalahan, ajining diri ana ing lathi”. Kira-kira artinya “kamu tidak bisa lari dari kesalahan, nilai diri tercermin dari perkataan”.

Lathi adalah lidah. Dalam pepatah ini, nilai diri tercermin dari lidah atau perkataan. Memang benar, perkataan atau ucapan adalah salah satu hal yang paling sering kita lakukan sehingga kualitas diri seseorang dapat dilihat dari perkataannya.

Maknanya dalam. Misalnya, orang yang bertutur kata kasar, sering mengumpat, berbohong atau bahkan memfitnah orang lain menunjukkan kualitas diri orang tersebut yang rendah. Sebaliknya orang yang bertutur kata sopan, ramah, tenang, mawas dan tidak bergunjing menunjukkan kualitas diri yang terpuji dan terlatih.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering bukan menemui rekan kerja yang senang bergunjing atau mengobral janji. Menghadapi orang-orang seperti ini dapat menguras emosi kita. Pentingnya menjaga ucapan juga menjadi salah satu latihan utama dalam ajaran Buddha.

Ucapan benar merupakan salah satu aspek dari Jalan Mulia Berunsur Delapan – latihan buddhis yang membawa pada pencerahan. Dalam bahasa Pali, ucapan benar disebut samma vaca dan termasuk ke dalam kelompok sila/kemoralan.

Dalam penjelasannya, Buddha menguraikan definisi ucapan benar sebagai sikap pantang berbohong, memecah belah, berkata kasar, dan memperbincang obrolan kosong yang tidak ada gunanya (SN 45.8).

Selanjutnya dalam AN 5.198, Buddha juga menjelaskan lima faktor ucapan benar yaitu ucapan yang diutarakan pada saat yang tepat, yang diucapkan dalam kebenaran, yang penuh kasih sayang, yang bermanfaat, dan yang diucapkan dengan pikiran pada keinginan baik.

Sedemikian pentingnya menjaga ucapan atau lidah/lathi kita, Buddha menganjurkan cara pemurnian diri melalui ucapan benar, yaitu: (1) dengan meninggalkan/menjauhi ucapan salah, (2) dengan meninggalkan ucapan yang memecah belah, (3) dengan menjauhkan diri dari berkata kasar, dan (4) dengan menjauhkan diri dari obrolan kosong yang tidak berguna.

Memang benar bahwa berbicara adalah awal komunikasi dengan orang lain. Untuk itu kita harus mawas diri dan menjaga tutur kata kita. Lidah tidak bertulang dan bila kita terlalu sering membiarkannya berbicara seenaknya, kebiasaan itu akan terekam dan menjadi semakin sulit untuk diperbaiki.

Melatih ucapan benar dapat dilakukan mulai saat ini dengan selalu sadar terhadap empat cara pemurnian diri diatas. Dengan demikian diharapkan kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik – setidaknya dari tutur kata kita, mengingat kualitas diri seseorang tidak hanya tergantung pada ucapannya tetapi juga faktor lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *