
Sering kali manusia di zaman modern ini hidup terburu-buru. Pergi ke sekolah, ke kantor, melakukan aktifitas dengan beragam lika-likunya. Hal ini terkadang membuat kita menjadi overwhelming dengan kepenatan hidup. Bagi banyak orang, ini dapat menjadi penyebab stress yang bahkan dapat mengarah pada perilaku menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
Kekinian, untuk menanggapi hidup zaman modern yang serba cepat muncul sebuah solusi untuk memperlambat laju kehidupan kita. Istilahnya menjalani slow-paced life, sebuah kehidupan yang berjalan lambat. Dalam bukunya yang berjudul Slow: Simple Living for a Frantic World, penulis Australia Brooke McAlary menjelaskan bahwa pondasi hidup lambat selalu sama, yaitu untuk kembali pada hidup sederhana yang berkualitas tinggi,
mengevaluasi kembali “hal-hal keharusan” yang tidak diperlukan di kehidupan modern, dan berfokus pada komunitas kecil dan lokal.
Memilih untuk menjalani kehidupan yang lebih lambat adalah pilihan pribadi masing-masing individu. Toh tidak semua orang mendambakan kesuksesan besar dan berambisi besar untuk mencapai kesuksesan tersebut. Bagi banyak orang lainnya, kehidupan lebih lambat justru membantu mereka untuk mendapatkan kebahagiaan hidup. Tanpa ambisi yang besar, tanpa perlu direpotkan hal-hal eksternal yang mungkin mempengaruhi kualitas hidup kita, mungkin kita bisa menjadi lebih bahagia.
Pendongeng Yunani Aesop berkata bahwa hidup yang lambat dan mantap akan memenangkan pertandingan. Sama halnya dengan ini, ajaran Buddha sebenarnya cenderung berfokus pada aspek-aspek slow-paced life. Duduk diam bermeditasi untuk mengamati napas dan batin. Hidup sederhana jauh dari hiruk-pikuk duniawi. Berfokus pada apa yang ada di saat ini dan disini. Semua ini adalah bentuk-bentuk kita dalam menjalani kehidupan yang lebih lambat.
Uniknya, hidup yang lebih lambat membuat kita lebih sadar dengan setiap aktifitas kita. Hidup serba cepat hanya akan membuat semuanya menjadi blur atau kabur. Kehidupan semacam ini mempengaruhi kualitas hidup kita, seperti mudah marah, mudah lelah, mudah sakit dan merasa tidak berguna. Namun bila kita berjalan dengan penuh kesadaran, tanpa adanya distraksi-distraksi yang tidak diperlukan, semua indera kita akan menjadi semakin tajam. Kita akan dapat melihat dengan jelas apa yang ada di sekeliling kita – yang sebenarnya sedang menunggu untuk kita sadari dan amati.
Lantas bagaimana caranya untuk menjalani kehidupan yang lebih lambat ini? Berikut adalah beberapa tips yang penulis himpun dari berbagai sumber.
1. Melepaskan keduniawian. Di sini tidak berarti kita harus menjadi seorang bhikkhu/ni. Tapi sebagai manusia di zaman modern ini, kita perlu menyadari bahwa pikiran untuk melekat telah banyak menyengsarakan kita. Kemelekatan terhadap banyak hal-hal duniawi, seperti smartphone, kekayaan, ketenaran, dll. Proses menjalani hidup yang lebih lambat dimulai dari pikiran dan dapat dilakukan sekarang di manapun Anda berada. Belajarlah untuk melepaskan sesuatu yang tidak bisa kita genggam dan kendalikan.
2. Bermeditasi. Dengan teknik meditasi, kita diminta agar duduk diam dan mengamati batin kita. Tujuannya untuk menyadari fenomena yang terjadi di tubuh kita. Latihan ini membantu kita untuk lebih sadar dalam menjalani kehidupan yang lebih lambat.
3. Menerapkan prinsip minimalis. Hidup minimalis berarti kita lebih mengurangi ketergantungan dengan hal-hal yang sebenarnya tidak benar-benar kita perlukan. Selain itu, prinsip hidup minimalis juga berarti menghargai dan mendayagunakan apa yang telah kita punyai dengan sebaik-baiknya.
4. Tuliskan semua hal. Terkadang aktifitas kita terlalu banyak dan saking banyaknya kita sampai lupa apa yang harus kita lakukan. Hidup lambat adalah dengan menyadari ini dan menuliskan semua hal yang ada di pikiran kita. Kemudian kita dapat mengevaluasi hal mana yang memang harus dan tidak harus kita lakukan. Dengan menulis, kita dapat dengan mudah menentukan prioritas kita dan menjadi lebih bahagia.
5. Katakan TIDAK. Belajarlah untuk mengatakan tidak pada hal-hal eksternal yang menjadi distraksi bagi kehidupan kita. Kita tidak perlu ikut campur atau mencampur urusan orang lain. Fokus menjalani kehidupan inti di sekitar kita.
6. Putuskan bahwa Anda berbahagia dengan kehidupan kecil yang Anda jalani ini. Kehidupan kecil ini adalah oasis kedamaian bagi batin dan fisik Anda. Pertahankan dan lindungi oasis ini tanpa perlu terlibat dengan hal-hal eksternal lainnya.
Semoga dengan menjalani kehidupan yang lebih lambat dan lebih sadar, kita dapat menjadi lebih sehat dan bahagia.