
“Terima kasih!”
“Iya, sama-sama!”. Terima kasih itu sederhana, diucapkan saat kita diberi sesuatu atau diberi pertolongan. Kalau dipikir-pikir, masa iya terima kasih hanya sekadar ucapan belaka?
Menjawab pertanyaan tersebut, Lamrimnesia mengadakan bedah buku “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” dengan tajuk “Makna Rahasia Terima Kasih” pada Sabtu, 27 Februari lalu. Lebih dari 90 peserta ikut serta dalam bedah buku online via aplikasi Zoom. Acara dipandu oleh dr. Hety, alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga merupakan praktisi Dharma.
Sebelum acara dimulai, Stevanny sebagai moderator tidak lupa mengingatkan para peserta untuk membangkitkan motivasi bajik terlebih dahulu. Peserta diajak untuk mengikuti acara dengan motivasi mengambil manfaat dari materi yang disampaikan untuk diri sendiri dan juga semua makhluk. Kenapa harus bermanfaat untuk semua makhluk ya? Berikut penjelasannya.
Sejarah ajaran rahasia latihan batin
Sebelum belajar sesuatu, ada baiknya kita mengetahui tentang sejarahnya, termasuk juga sejarah ajaran Latihan Batin yang dibahas dalam buku “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari” ditulis oleh Namkha Pel. Beliau adalah salah satu murid terdekat Je Tsongkhapa. Buku tersebut ternyata disusun berdasarkan instruksi latihan batin dari Guru Suwarnadwipa Dharmakirti dari Sriwijaya, lho!
“Kenapa judulnya seperti ini dan kenapa buku ini menjadi sangat menarik?” tutur dr. Hety.
Hal menarik dari buku ini adalah ajaran latihan batin yang bisa menerangi batin kita layaknya sang mentari. Biasanya kita hanya menjaga fisik supaya tetap sehat dan kuat dengan makan sayur dan olahraga. Tapi, kita lupa seringkali untuk menjaga kesehatan batin.
Bukti dari batin yang tidak sehat adalah mudah stres, gampang marah, bahkan bisa sampai depresi. Oleh sebab itu, batin kita juga perlu “olah raga”, salah satu caranya adalah dengan mempelajari instruksi Latihan Batin yang dijelaskan dalam buku “Latihan Batin Laksana Sinar Mentari.”
Dr. Hety mengungkapkan, “Ini instruksi rahasia, instruksi menukar diri. Rahasia karena ajaran sangat dalam dan bila diajarkan dengan bebas bisa disalahpahami”.
Buku latihan ini memuat tujuh poin instruksi batin yang terdiri dari: (a) praktik pendahuluan; (b) melatih bodhicita; (c) mengubah kondisi yang merugikan menjadi Sang Jalan; (d) latihan terpadu dalam satu kehidupan; (e) tolok ukur latihan batin; (f) komitmen latihan batin; dan (g) ajaran latihan batin.
Ketujuh instruksi yang diajarkan oleh Guru Serlingpa Dharmakirti abad X ini adalah ajaran rahasia yang berisi instruksi untuk menukar diri dengan makhluk lain. Menukar diri yang dimaksud adalah dengan membawa segala penderitaan yang ada dalam makhluk lain ke dalam diri sendiri sehingga kita bisa ikut merasakan penderitaannya dan memberikan semua kebahagiaan kepada makhluk lain.
Praktik “terima kasih” ternyata merupakan bagian dari praktik tersebut! “Terima” penderitaan semua makhluk, “Kasih” penderitaan semua makhluk. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
Langkah-langkah latihan batin “terima kasih”
Untuk mempraktikkan apa itu terima kasih tentunya kita perlu mengetahui langkah-langkahnya, di antaranya: (a) memeditasikan kesetaraan dengan makhluk lain; (b) merenungkan kesalahan dalam mementingkan diri sendiri; (c) merenungkan manfaat mementingkan orang lain; dan (d) memeditasikan terima kasih, terima penderitaan dan kasih kebahagiaan.
Memeditasikan kesetaraan dengan makhluk lain
“Kita dan makhluk lain sama-sama ingin bahagia dan tidak ingin menderita,” tutur dr. Hety.
Siapa pula yang tidak menginginkan kebahagiaan? Semua makhluk pasti ingin merasakan kebahagiaan. Bila ditelusuri lebih lanjut, kita lebih sering ingin merasakan kebahagiaan demi diri sendiri tanpa melihat kebahagiaan makhluk lain.
Kita lebih bahagia bila melihat musuh menderita, tanpa memikirkan bila penderitaan yang mereka rasakan menimpa kita. Maka dari itu perlu untuk memeditasikan kesetaraan dengan makhluk lain. Dengan cara ini, kebencian kita pada musuh-musuh kita akan berkurang.
Merenungkan kesalahan mementingkan diri sendiri
“Mementingkan diri sendiri bisa membuat karma buruk,” jelas dr. Hety.
Misal kita menginginkan suatu barang milik orang lain. Karena kita merasa kepentingan kita sendiri lebih penting dibanding orang lain, kita pun mencurinya dari orang lain dan membuat makhluk lain menderita. Bayangkan saja bila hal tersebut terjadi pada kita, kita pasti juga akan menderita. Tidak hanya itu, saat kita melekat dengan makanan, pakaian, dan reputasi pribadi, kita juga akan menderita.
Kemelekatan yang ada adalah hasil dari sikap mementingkan diri sendiri. Harus makan yang enak, kalau tidak enak tidak mau makan, menderita jadinya. Maunya pekerjaan dengan gaji tinggi, kalau tidak, tidak mau kerja, menderita lagi! Oleh sebab itu, perenungang atas kesalahan mementingkan diri sendiri harus dilakukan supaya praktik terima kasih bisa dijalankan dengan baik.
Merenungkan manfaat mementingkan orang lain
Karma baik bisa ditumbuhkan dengan cara merenungkan manfaat mementingkan orang lain.
“Kita mengibaratkan semua makhluk adalah ladang untuk menanam kebajikan,” tutur dr. Hety.
Jika kita mau melakukan karma baik, kita memerlukan sebuah ladang. Layaknya kita mau memanen padi, maka kita harus punya sawah untuk ditanami padi. Melalui bantuan orang lain, kita bisa memperoleh karma baik. Saat kita menolong orang lain dengan membeli makanannya, maka kita bisa memperoleh makanan dan memberikan kehidupan untuk mereka.
Melalui semua makhluk jugalah kita bisa mengembangkan bodhicita–kunci untuk meraih pencerahan yang lengkap dan sempurna. Misal praktik dana paramita, kalau tidak ada ladang berupa orang yang membutuhkan dan mau menerima pemberian kita, mana bisa kita memberi?
Memeditasikan terima kasih
“Memeditasikan terima kasih, terima penderitaan dan kasih kebahagiaan,” demikian kata dr. Hety.
Praktik terima kasih akan tertanam kuat dalam diri bila kita bisa memeditasikannya. Praktisi yang mahir bisa merenungkan bahwa mereka mau dan mampu menerima penderitaan makhluk lain dalam setiap tarikan napas. Sebaliknya, dalam setiap hembusan napas, kita perlu berlatih untuk mau dan mampu memberikan sebab-sebab kebahagian kepada makhluk lain.
Lebih lanjut, dr. Hety mengungkapkan bahwa ajaran terima kasih adalah ajaran luar biasa. Dengan cara ini, kita bisa melatih batin dengan latihan memberi. Mulailah dari hal kecil, lalu latih terus hingga mampu memberi segalanya sampai tidak ada yang bisa diberi.
Selain langkah-langkah dalam latihan “Terima Kasih”, dr. Hety menekankan dua poin penting yang berkaitan dengan terima kasih, yaitu praktik pendahuluan dan mengubah kondisi tidak menyenangkan menjadi Sang Jalan.
Praktik pendahuluan
Segala hal yang akan dilakukan perlu pendahuluan, termasuk juga praktik “terima kasih”. Sebagai manusia yang memiliki kehidupan berharga kita perlu berpikir untuk tidak menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk perilaku yang tidak baik. Kita harus siap-siap dan menggunakan waktu dengan baik apalagi kalau membahas kematian. Kira-kira bekal apa yang sudah kita siapkan untuk menghadapi kematian. Tentunya bukan harta atau takhta yang akan dibawa, tapi batin bersih yang akan menjadi bekal.
“Kita harus menggunakan waktu ini dengan sebaik mungkin untuk mempersiapkan kehidupan mendatang. Makanya pendahuluan itu penting,” tuturnya.
Tahapan praktik pendahuluan untuk latihan batin “Terima Kasih” ini bisa dipelajari di dalam buku sehingga tidak dijelaskan secara mendetail karena keterbatasan waktu. Namun, dr. Hety menekankan bahwa salah satu poin penting dalam praktik pendahuluan ini adalah memperkokoh pemahaman akan hukum karma.
Segala hal baik yang dilakukan bisa membuahkan kebahagiaan dan begitu pula sebaliknya, karma akan berkembang pesat, segala perbuatan harus kita tanggung akibatnya, serta karma tidak akan tertukar hasilnya. Pemahaman ini amatlah penting karena merupakan dasar untuk memahami dan mempraktikkan “Terima Kasih”.
Mengubah kondisi tidak menyenangkan menjadi sang jalan
Kondisi merugikan bisa saja menimpa kita tanpa kenal waktu. Entah kita kehilangan materi, kehilangan orang yang disayangi, ataupun berbagai penderitaan lainnya.
“Hidup kita pasti ada masalah. [Kita perlu] melihat masalah itu sebagai sesuatu yang positif bukan negatif,” tutur dr. Hety.
Ketika tertimpa suatu masalah, biasanya kita menyalahkan faktor eksternal seperti orang lain maupun kondisi alam. Namun, bila kita sudah memahami prinsip karma, maka kita bisa melihat segala masalah yang menimpa kita adalah sebagai wujud dari buah karma buruk kita sendiri.
Saat kita bisa menerima seluruh karma buruk dengan menyadari bahwa ini adalah karma kita tanpa harus menyalahkan orang lain, maka secara tidak langsung karma buruk sudah berkurang dengan sendirinya.
Kita juga bisa mengubah seluruh kondisi sulit menjadi jalan untuk kita mengolah batin menjadi lebih sabar dan mampu mencari jalan keluar dari suatu masalah. Saat kehilangan materi, kita tidak perlu menyalahkan orang lain tetapi carilah penyebab-penyebab yang membuat kita kehilangan materi.
Bisa dimulai dengan mengganti kunci rumah, menambah satpam, dan memasang CCTV. Di sisi lain, kita juga harus menghindari tindakan yang bisa menjadi sebab kemalangan dengan hukum karma, misalnya berlatih mengurangi kekikiran dengan praktik berdana tanpa pamrih.
Bahkan saat kehilangan pekerjaan kita bisa mengubahnya sebagai suatu hal yang positif. Ketika kita berada di posisi lemah, kita bisa tergugah untuk berubah menjadi lebih baik.
Kita bisa memaknai bahwa kehilangan pekerjaan bukan suatu hal yang harus diratapi, melainkan pengingat sekaligus kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri dengan mengembangkan bakat untuk menambah kemampuan demi mendapat pekerjaan yang lebih baik atau bahkan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Lebih jauh lagi, kita juga bisa belajar menumbuhkan empati terhadap orang-orang yang pernah mengalami penderitaan serupa.
“Nggak pernah menderita bakal bikin kita sombong,” imbuh dr. Hety.
Bila saja kita tidak pernah menderita, kita tidak akan pernah tahu apa artinya melatih batin menjadi tangguh. Mungkin saja kita akan terus berbangga dengan segala kondisi baik yang kita miliki. Jadi, kunci dari mengubah kondisi merugikan menjadi Sang Jalan adalah dengan mengubah cara pandang. Dengan cara ini, maka kita bisa belajar untuk menerima penderitaan diri sendiri dan semua makhluk untuk memberikan kasih agar kebahagiaan terwujud.
Kesimpulan
Terima kasih bukan hanya ucapan belaka. Ada makna mendalam dari terima kasih sebagai instruksi ajaran yang rahasia dari Guru Serlingpa Suwarnadwipa Dharmakirti. Terima bukan hanya kita menerima seluruh kebahagiaan tapi menerima juga penderitaan seluruh makhluk. Kasih menjadi kewajiban kita untuk turut memberikan kebajikan demi kebahagiaan makhluk lain.
Untuk mempraktikkan ajaran terima kasih, kita harus memeditasikan bahwa kita setara dengan makhluk lain, merenungkan kerugian mementingkan diri sendiri, merenungkan manfaat mementingkan makhluk lain, dan merenungkan “terima kasih” itu sendiri. Dalam mempraktikkan ajaran kita juga perlu menjalankan praktik pendahuluan dengan memahami karma dan mengubah kondisi merugikan menjadi Sang Jalan.
Marilah kita mempraktikkan ajaran terima kasih yang merupakan warisan Guru Suwarnadwipa Dharmakirti guna mengembangkan welas asih dan meraih bodhicita demi menolong semua makhluk dari penderitaan.