
Fenomena ujaran kebencian, fitnah, hingga hoaks yang tersebar di media sosial bukanlah hal yang asing lagi bagi para pengguna media sosial. Apalagi bagi pengguna media sosial di Indonesia yang cukup banyak. Lewat media sosial siapa pun dapat menyampaikan informasi dan pendapat pribadinya secara terbuka.
Hal inilah yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan permusuhan apabila informasi atau pendapat pribadi yang disampaikan mengandung ujaran kebencian, fitnah, atau hoaks. Lebih parahnya lagi, media sosial dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan tindak kejahatan, sehingga para pengguna media sosial harus selalu berhati-hati dan waspada.
Fenomena ujaran kebencian, fitnah, hingga hoaks merupakan dampak negatif dari keterbukaan informasi di era digital saat ini. Buktinya adalah adanya Saracen yang merupakan pengacau keamanan siber, dan sekarang adanya MCA (Muslim Cyber Army) yang diduga bermotif politik dan memiliki banyak anggota di media sosial serta kelompok-kelompok lainnya yang sejenis.
Baca juga: Jauh-jauhlah dari Media Sosial Saat Marah
Keberadaan kelompok-kelompok seperti Saracen dan MCA tentu saja membuat masyarakat resah apalagi dengan isu-isu SARA yang dilemparkan ke media sosial yang berpotensi menimbulkan perpecahan dan permusuhan. Oleh karenanya, Polri bahkan membentuk Direktorat Siber yang bertugas untuk menangani kejahatan dunia maya.
Ujaran kebencian, fitnah, hingga hoaks berpotensi untuk menggoyahkan persatuan dan kesatuan bangsa. Bahkan dengan menggunakan ujaran kebencian, fitnah, hingga hoaks, suatu bangsa bisa dipecah belah dan dikuasai dengan mudah. Oleh karena itu, ujaran kebencian, fitnah, hingga hoaks tidak bisa dianggap sepele.
Taktik pisunavaca Ajatasattu untuk menguasai kota Vesali
Secara harafiah dalam istilah Pali, Pisunavaca diartikan sebagai ucapan yang menghancurkan kasih sayang di antara dua orang. Di masa lalu, raja-raja menerapkan taktik menipu untuk menciptakan perpecahan di antara musuh-musuh mereka yang bersatu, sehingga mereka dapat memperoleh kemenangan dengan mudah.
Raja Ajatasattu menaklukkan para Licchavi dengan menggunakan strategi ini. Pertama-tama Raja Ajatasattu mengusir menterinya yaitu Brahmana Vassakara dan berpura-pura menghukumnya atas suatu pelanggaran.
Vassakara kemudian pergi ke kota Vesali untuk menjalankan strategi penaklukan ini. Awalnya beberapa Pangeran Licchavi keberatan dan curiga dengan menetapnya Brahmana Vassakara di kota mereka, namun sebagian besar dari mereka percaya bahwa pengusiran Vassakara dikarenakan Vassakara membela mereka.Akhirnya mereka menyambut dan memercayakan pendidikan anak-anak mereka pada Brahmana Vassakara.
Untuk mendapatkan kepercayaan publik, awalnya Vassakara mengajar para pangeran muda dengan benar, sehingga para pangeran muda itu sangat menghormatinya dan menganggapnya sebagai guru yang dapat dipercaya. Setelah mendapatkan kepercayaan dari para pangeran muda ini, Vassakara menciptakan perselisihan dan kesalahpahaman di antara mereka dengan cara-cara yang halus.
Cara yang dilakukan Vassakara untuk memecah belah para pangeran muda ini adalah dengan menyebarkan hoaks dan fitnah di antara para pangeran muda yang mengakibatkan para pangeran ini saling berselisih dan bermusuhan. Para pangeran muda ini tentu saja langsung percaya dengan apa yang disampaikan oleh gurunya itu.
Akhirnya dalam waktu tiga tahun Vassakara berhasil memecah belah para pangeran muda ini sampai terpecah belah hingga tidak ingin melihat satu sama lain.
Kemudian Vassakara mengirim pesan kepada Raja Ajatasattu bahwa waktunya telah tiba untuk menyerang kota Vesali. Raja Ajatasattu bergerak menuju kota bersama pasukannya dan dengan mudah dapat menaklukkan kota Vesali, karena para pangeran tidak bersatu, dan tidak ada seorang pun yang keluar untuk mempertahankan kota.
Mereka diam di rumah tanpa melakukan apa-apa. Ini adalah contoh dari taktik memecah belah yang berdasarkan atas dasar fitnah atau Pisunavaca, yang mengarah pada kemenangan untuk menguasai suatu bangsa.
Mengatasi Fitnah
Buddha menjelaskan tentang cara menghindari Pisunavaca atau fitnah atau ucapan memecah belah. Cara penghindarannya adalah sebagai berikut:
“Orang yang berkomitmen untuk menghindari fitnah akan menghindari menyebar gosip. Ia merukunkan mereka yang terpecah belah. Kata-katanya memperkuat persatuan dari mereka yang telah bersatu. Ia senang melihat orang-orang dalam harmoni.
“Ia menyukai harmoni, oleh karena itu ia hanya akan memberikan peryataan yang cenderung mendorong hubungan yang harmonis.”
Untuk melakukan hal itu, nampaknya cukup sulit dilakukan, apalagi bagi seseorang yang sudah terbiasa bergosip. Seperti sebuah peribahasa yang mengatakan bahwa “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak.”
Peribahasa ini menyatakan kecenderungan seseorang untuk dengan mudah melihat kesalahan atau kekurangan orang lain, namun sebaliknya sangat sulit untuk melihat kesalahan atau kekurangan dirinya sendiri. Oleh karena itu, tidaklah pantas bagi kita untuk menfitnah orang lain.
Kita harus mulai melatih diri untuk tidak menceritakan keburukan seseorang kepada orang lain. Kita harus berlatih mengucapkan kata-kata yang bermanfaat dan cenderung mendorong hubungan yang harmonis. Selain itu, alangkah lebih bijaksana apabila kita memperbanyak intropeksi diri dan mengurangi bergosip serta mencela orang lain.
Akibat kamma memfitnah
Anguttaranikaya menyebutkan akibat kamma dari perbuatan memfitnah. Dikatakan bahwa orang yang suka memfitnah apabila sudah meninggal dapat terlahir kembali di alam rendah dan jika terlahir kembali sebagai manusia, ia akan terasing dari sanak saudara dan teman-temannya. Semakin banyak memfitnah, semakin berbahaya akibat dari kamma yang ia kumpulkan.
Baca juga: Mengungkap Kelahiran Masa Lalu
Mereka yang mengucapkan fitnah terhadap para bijaksana dan orang-orang bermoral akan membayar banyak atas kata-kata jahat mereka. Seseorang yang menghindari fitnah akan menikmati kebahagiaan surgawi dan ketika terlahir kembali di alam manusia ia akan memiliki hubungan yang berbahagia dan harmonis dengan teman-teman dan sanak saudaranya.
Oleh karena itu, mulailah menghindari Pisunavaca atau fitnah yang dapat minimbulkan permusuhan, kesalahpahaman, bahkan menimbulkan perpecahan bangsa. Karena sejatinya persatuan merupakan sebab kebahagiaan dan usaha perjuangan dari mereka yang telah bersatu merupakan sebab kebahagiaan.
Didik Susilo
Mengambil Progam Studi Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.