• Sunday, 29 March 2020
  • Yudhi H. Gejali
  • 0

Jawabannya, bisa berbeda dan bisa sama. Tergantung dari level praktisi meditasi dan praktik doanya. Izinkan saya menjelaskan ini secara perlahan.

Apa itu doa? Doa adalah tindakan untuk berkomunikasi dengan sosok yang dianggap transenden (entah Tuhan, Dewa, Buddha, Leluhur, dan lain sebagainya) tergantung dari aliran kepercayaan masing-masing. Tindakan untuk berkomunikasi ini didasari oleh kepercayaan bahwa Sosok Transenden tersebut mampu untuk mendengar, berkomunikasi, menolong, atau mengabulkan permohonan.

Apa itu meditasi? Meditasi adalah praktik untuk mengenali bagaimana batin kita sebenarnya berkerja. Esensinya adalah mengenali kesadaran, praktiknya adalah menstabilkan pengenalan tersebut. Dimulai dari yang paling sederhana yaitu menenangkan batin dengan membawa kesadaran untuk menyadari objek tertentu sehingga pikiran yang liar dan terpencar lama-kelamaan bisa tenang dan istirahat.

Kemudian melatih batin yang sudah mulai tenang tersebut dalam memgembangkan welas asih, dan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan pamungkasnya adalah mengenali hakekat sejati dari diri sendiri dan seluruh fenomena.

Doa dan meditasi sama-sama lahir dari suatu kebutuhan. Apa itu kebutuhannya? Kita merasa “kurang bahagia”, kita merasa “hidup kita seharusnya bisa lebih bahagia jika… bla bla bla….” Apabila doa pada umumnya dipahami sebagai tindakan mencari pertolongan dari sosok transenden di luar, meditasi melihat bahwa akar dari persoalan/ketidakbahagiaan/penderitaan kita bukanlah dari luar, melainkan kreasi dari batin kita sendiri.

Esensi

Refleks paling mendasar dari diri kita adalah lari dari penderitaan, dan mengejar kebahagiaan. Saat menderita, kita biasanya akan mencari perlindungan. Ada yang berlindung kepada Tuhan, ada yang berlindung kepada Buddha.

Ada yang berlindung pada Dewa dan leluhur, ada yang berlindung pada Kekayaan, ada yang berlindung pada logika, ada yang berlindung pada ilmu pengetahuan, ada yang berlindung pada nama baik, moralitas, dll dll dll. Kita semua mempunyai refleks ini. Jadi mau tidak mau, di awal, kita secara refleks “harus berlindung terhadap sesuatu.”

Apabila seorang atheis berlindung, dia berlindung dalam filosofi tanpa Tuhan. Doa mungkin bukan opsi untuk orang tersebut. Namun bagi seseorang yang religius yang mempercayai Sosok Transenden di luar sana, maka doa menjadi opsi bentuk mencari perlindungan.

Bagi seorang meditator, entah atheis atau religius, awalnya, kita melarikan diri dari masalah yang dibentuk oleh “pikiran monyet” dan berlindung dalam ketenangan batin yang diciptakan saat mengarahkan Kesadaran mengawasi objek tertentu. Tentu saja ini ketenangan semu, namun berguna. Dari sini pelan-pelan kebijaksanaan ditumbuhkan.

Mingyur Rinpoche pernah menjelaskan: praktik meditasi bisa dilakukan oleh siapa pun. Jika Anda religius, maka meditasi akan membuat kehidupan doa Anda menjadi lebih khusyuk, eling, dan bertumbuh dalam welas asih dan kebijaksanaan.

Jika Anda tidak religius? Sama saja. Meditasi tetap akan membuat kehidupan anda menjadi lebih eling, dan bertumbuh dalam welas asih dan kebijaksanaan.

Spiritualitas

Seperti halnya dengan aktivitas lain, doa juga adalah salah satu aktivitas. Dan aktivitas apa pun yang digabung dengan meditasi, akan menjadi “lebih hidup”. Bagi orang religius, yang menggabungkan doa dan meditasi, dia beli satu dapat dua. Doanya dapat, meditasinya dapat.

Namun seiring anda menggabungkan latihan meditasi dan doa, dan pelan-pelan kebijaksanaan karena latihan meditasi bertumbuh, maka kehidupan doa anda mungkin akan lebih berubah lagi. Anda tidak lagi sekadar lebih khusyuk dalam berdoa, namun anda mulai lebih awas dengan impuls-impuls dalam pikiran Anda.

Yang tadinya Anda cuma “minta dan memohon”, Anda mulai bisa masuk lebih dalam, Anda mulai bisa lebih jernih dalam menginvestigasi batin pikiran: “kenapa saya perlu ini? Kenapa saya mau minta itu?”, Anda mulai merasakan bahwa Kebahagiaan Anda lebih kokoh di dalam, kepuasan Anda tidak lagi tergantung dari objek yang Anda minta.

“Doa dikabulkan” dan “doa tidak dikabulkan”, sudah tidak begitu berpengaruh dengan kebahagiaan Anda. Anda merasa cukup, lengkap, dan sejahtera. Doa bukan lagi jadi minta-minta, tapi ekspresi rasa syukur. Doa bukan lagi mengakar pada “kebutuhan semu” melainkan pada ekspresi kejernihan di dalam.

Dan saat Anda lebih maju dalam latihan meditasi Anda, Anda akan masuk dalam kondisi pamungkas yaitu: “As It Is”, di mana “semuanya sudah lengkap sempurna di sini”. Tidak ada yang bisa membahasakan ini dengan lugas. Bahasa terlalu terbatas untuk menggambarkannya. Bagi seorang buddhis, ini adalah pencerahan. Dan bagi saya pribadi, ini adalah bentuk doa yang tertinggi.

Apakah ini yang mungkin mau dijelaskan dalam alegori bait suci bangsa Yahudi dulu di Perjanjian Lama? Di Pelataran luar Bait Suci masih sibuk ramai dengan ritual pembersihan diri dan korban, penghapusan dosa. Sedikit masuk ke dalam, yaitu Ruang Kudus, masih ada ritual meskipun lebih sedikit. Namun di bagian paling dalam, di balik tirai, yang paling sakral, Yaitu Ruang Maha Kudus (the Holy of Holies), No More Rituals, senyap. Di sana, Imam besar bangsa Israel hanya duduk bersimpuh, “sit still, and know”.

Ini juga mungkin yang coba digambarkan oleh Jalaludin Rumi dalam kalimat-kalimat indahnya, “I looked in temples, churches, and mosques. But i found the Divine within my heart.”, dan lagi “Out beyond the ideas of right-doing and wrong-doing, there is a field, I will meet you there.

Tulisan ini merupakan opini dan perenungan pribadi penulis sebagai murid praktik meditasi. Tidak mewakili institusi atau pemahaman agama mana pun.

0 comments on “Apakah Meditasi Sama dengan Berdoa?

  1. Hai dokter senang baca tulisannya, saya latihan TAT dan sejauh ini saya kadang kadang ngerasa pikiran bisa jadi sangat berlapis dan mudah berganti, dan menurut opini saya, itu salah satu hal yang bikin capek..

    Apa latian self healing juga termasuk bentuk latihan meditasi? Karena mengenali bagaimana batin kerja sebenernya bekerja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *