• Tuesday, 25 May 2021
  • Yulia
  • 0

Ketika seorang pebisnis diberitahu hidupnya hanya tinggal seminggu lagi, dengan enggan ia berkelana menyusuri jalan sempit di Kathmandu demi mendapatkan keselamatan: roh pelindung sementara (dakini).

Sebuah tokoh penting dalam Ajaran Buddha Wajrayana, Dakini dilukiskan sebagai sosok yang memiliki beragam wajah dengan kekuatan spiritual misterius – sebuah tema yang diangkat dengan apik dalam Looking for a Lady with Fangs and Moustache (2019), sebuah film yang baru dirilis Lama Tibet-Bhutan dan Pencetak film Dzongsar Jamyang Khyentse Rinpoche. Dalam rilis filmnya Khyentse Norbu menyatakan:

[Dakini adalah] sulit diungkapkan, dipikirkan, dimengerti. Satu-satunya cara untuk menyampaikannya ke khalayak umum, Orang-orang biasa seperti kita, kita hanya menggunakan bahasa, simbol, maka ini sebabnya di Himalaya akan ada banyak bentuk Dakini.

Dakini

Dzongsar Khyentse Rinpoche menekankan, konsep dari Dakini sungguh sulit untuk dipahami apalagi di lukiskan, namun beliau dengan apik menjabarkan kerumitan nya dalam film ini. Dikenal sebagai Khyentse Norbu, beliau mengawali kariernya sebagai konsultan untuk pembuat film di Italia Bernardo Bertolucci dengan karyanya Little Buddha (1994), di mana beliau mensupervisi biksu Tibet untuk memastikan penampilan mereka nyata.

Dengan lima film yang sudah beliau kerjakan, beliau sudah menonjolkan ciri khas keaslian penampilan dalam proses pembuatannya. Beliau ahli dalam mengasah dan melukiskan cerita lokal dan talent nya, kontribusi beliau dalam memajukan industri film di wilayah Himalaya sangat penting, dan beliau memang menghindari gaya perfilman yang konvensional. Looking for a Lady with Fangs and Moustache merupakan contohnya. Kyetshe Norbu menyampaikan:

Walaupun beberapa karya film sekarang mencoba menghindari formula Hollywood dan Bollywood, saya ingin menuangkan dalam film ini keunikkan ekspresi dan cara bercerita Himalaya yang memang budaya, tradisi dan kebijaksanaan asli dari sini.

Kyetshe Norbu memperhitungkan dengan matang karya filmnya membangkitkan wilayah ini dalam gambarannya. Sebagai contohnya beliau hanya menggunakan aktor non-profesional dari Nepal. Hasilnya memberikan penampilan yang terasa asli.

Khyentse Norbu menyampaikan filmnya ini menampilkan “Seorang master asli yang dihormati dan berkualitas dalam bersikap tidak akan terganti dengan aktor manapun untuk melakukannya. ”

Asal dari keinginan ini adalah untuk menonjolkan keasliannya yang melampaui hiburan semata merupakan sebuah fakta dan film ini ditayangkan perdana sebagai bagian dari Serial Brainwave pada 8 April 2021.

Dimensi mistis

Dalam sebuah diskusi online yang diikuti dengan penayangan, Khyentse Norbu menyampaikan sebuah aspek penting dalam Ajaran Buddha yaitu kesetiaan. Melalui filmnya, beliau mencoba memotret dimensi mistis dalam hidup yang melengkapi kehidupan manusia yang sayangnya terkikis di masa Imperialisme dan Materialisme.

Sebuah eksplorasi akan peran Mistisisme Tibet dalam dunia serba modern ini, film ini berfokus dalam cerita krisis hidup tokoh utamanya, Tenzin. Dijuluki sebagai “Pria Modern” Oleh karakter pendukungnya, Tenzin dengan baik mengilustrasikan kekontrasan akan yang baru dan lama.

Meninggalkan warisan musik tradisional Himalaya dari keluarganya, demi membuka kedai kopi paling top di Kathmandu. Sementara plot kedua ini merupakan alat penunjuk – hubungan Tenzin dengan ibunya tidak rukun dan usahanya dengan kedai kopi tidak menunjukkan konflik yang kuat – Plot utamanya akan krisis hidup Tenzin sungguh menarik.

Ketika seorang Biksu meramalkan mimpinya adik perempuan Tenzin yang sakit bisa berarti kehadiran sebuah malapetaka, tokoh utama tidak mempercayainya dan rasa itu yang dibagikan kepada penonton. Walau Biksu peramal tersebut mengenakan jubah Tibet, beliau mengenakan kacamata hitam mewah, headphone besar yang bertengger di kepalanya, dan terus-terusan mengecek tablet nya yang menandakan sebuah nilai yang terkikis.

Nilai tambah nya adanya penggunaan alunan musik Himalaya dalam soundtrack nya, di sejajar kan dengan musik Internasional seperti Tom Waits, juga tayangan akan situasi umum, yang biasanya masih mengenakan pakaian tradisional dan juga ada yang mengenakan jas setelan, dan menjadi nyata bahwa Kathmandu menjadi sebuah bukti nyata percampuran dari yang lama dan baru.

Walau Tenzin tidak menyukai ramalan Biksu itu, secara bertahap pertanda nya tidak mungkin bisa di acuhkan: kehidupan sehari nya tersebar tidak hanya dari ramalan akan adik perempuannya, tapi juga sebuah makhluk dengan gigi taring dan hal-hal aneh yang menakutkan lainnya.

Indra perasanya juga terkena imbasnya dan Ia takut karena tiba-tiba kehilangan pendengarannya. Sinematografer Mark Lee Ping Bing melukiskan dengan indah dengan menciptakan sebuah suasana seperti mimpi yang menarik dan memberikan imajinasi kepada penonton untuk merasakan yang dirasakan oleh pemeran utamanya. Dengan itu, bisa dikatakan film ini menampilkan gaya sinematografi yang luwes dengan gaya yang halus namun dinamis.

Dalam kunjungannya ke Dokter, Tenzin dinyatakan sehat jasmani. Jadi pasti depresi, maka dari itu ia diberikan resep orang modern yaitu antidepresan. Kebiasaan akan menyediakan jawaban secara langsung sudah menumpulkan kemampuan untuk memproses pengalaman di Jiwa dengan apik digambarkan dengan kontras pada babak selanjutnya, kemudian seorang guru spiritual memberikan solusi yang sangat berbeda untuk Tenzin : ia harus mencari Dakini.

Namun bagaimana dan dimana mencari Dakini di masa sekarang ini? Di masa ini tidak ada pil ajaib yang bisa diminum, begitu juga tidak ada yang menyarankan ia untuk berobat dan menumpulkan pikirannya yang tidak tenang. Ia disarankan untuk mengikuti tandanya, untuk berpikir untuk dirinya, dan menjadi kreatif. Entah itu dengan napasnya, menyelam sambil minum air, atau bernyanyi di keramaian, Tenzin akan bisa tersembuhkan jika ia bisa merasa ceria. “Kamu harus berani. Dakini tidak percaya kepada orang yang tidak tulus,” Jelas guru itu.

Pendekatan ini merupakan pendekatan Ajaran Buddha: yang dituju adalah pola pikir dan bukan hasil akhir. Ketika Tenzin meragukan adanya Dakini, guru spiritualnya menghampirinya dan menyampaikan: “Kamu sudah mengacaukan dengan tidak mempercayainya. Itu disebut pandangan salah. ” Memang Dakini merupakan cara pandang yang fana. Khyentse Norbu menjelaskan, Dakini bukan siapa-siapa dan tapi penting secara terus-menerus.

Melalui tokoh utamanya, Looking for a Lady with Fangs and Moustache mendorong penonton untuk penasaran akan Dakini, dan utamanya, Mistis: apakah gadis penyeduh teh Dakini? Apakah temannya Tenzin, Kunzel seorang Dakini? Apakah Dakini seorang yang asing? Apakah Tenzin Dakini? Apakah saya Dakini? Perjalanan spektakuler ini, bersama dengan visual yang dreamy dan musik yang dipilih dengan hati-hati, berpotensi membangkitkan sebuah inspirasi untuk kesetiaan pada penonton yang akan membekas hingga beberapa hari.

Terjemahan dari: Nina Müller/Buddhistdoor Global

[MM]

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara