• Wednesday, 5 December 2018
  • Hendrick Tanu
  • 0

Tersembunyi dari cerita-cerita pejuang Jepang yang menolak penjajahan Jepang atas Indonesia, ada seorang biksu Soto Zen yang bernama Taisen Deshimaru Roshi.

Taisen Deshimaru Roshi adalah tokoh besar Buddhis yang membawa Zen ke negara-negara Barat seperti Eropa dan Amerika. Beliau adalah murid Kodo Sawaki Roshi yang terkenal itu. Puluhan pusat Zen di bawah silsilahnya telah tersebar di kedua benua, menghasilkan murid-murid bule yang terampil menyebarkan Dharma. Akan tetapi siapa sangka beliau ternyata pernah berkontribusi pada Indonesia di masa mudanya?

Seiring dengan dibomnya Pearl Harbour tahun 1941 oleh Jepang dan berkuasanya Marsekal Hisaichi Terauchi di Indonesia membuat Taisen Deshimaru muda dipaksa meninggalkan Jepang menuju kepulauan Sumatera tepatnya pulau Bangka. Sebelum berangkat ke Sumatera, Kodo Sawaki memberikan sebuah rakusu bertuliskan Namu Amida Butsu (Amitabha Buddha) pada Deshimaru. “Hargai pemberianku ini dan kau akan punya karma yang baik.”

Sang guru juga memberitahunya, “Kita akan kalah perang, negara kita akan hancur dan akan banyak penduduk yang mati, mungkin ini terakhir kali kita bertemu tapi di atas semua itu kasihilah semua manusia tanpa memandang ras dan bangsa.” Ajaran ini dipegang dengan baik dalam hati seorang Deshimaru.

Sesampainya di Bangka, Deshimaru Roshi mengajarkan meditasi zazen (zuochan) pada orang-orang peranakan Tionghoa, pribumi Indonesia bahkan orang Belanda. Melihat bahwa tentara Jepang seringkali menyiksa dan membunuhi orang-orang Bangka, hatinya tergerak apalagi karena nasehat sang guru untuk mengasihi semua bangsa. Selain mengajar Dharma, Deshimaru lantas aktif sekali melawan pergerakan Jepang bersama masyarakat Bangka. Ia acapkali menjadi mediator bagi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Perlawanannya ini dianggap Jepang sebagai pemberontakan dan para tentara menjebloskannya ke penjara untuk kemudian akan dieksekusi.

Di penjara, Deshimaru juga menghadapi banyak tantangan hebat karena terjangkit penyakit demam malaria ditambah dengan kurangnya asupan makanan. Meskipun demikian ia tetap tak bergeming melakukan meditasi zazen di dalam sel penjara.

Baca juga: Zen dalam Bencana

Menjelang eksekusi, seorang tentara Jepang mengirim petisi atas ketidakadilan yang diterima Deshimaru Roshi dan penduduk lokal. Tokyo menerima petisi itu hingga akhirnya sang biksu dibebaskan dan jenderal Jepang yang memenjarakan dan menyiksa Deshimaru dihukum mati.

Setelah bebas, ia kemudian diutus ke pulau Belitung untuk mengawasi tambang tembaga di sana. Naas, kapal yang dinaikinya ditembak oleh pesawat Amerika dan hancur. Di samudera Deshimaru mengapung selama sehari semalam. Beruntung esoknya kapal Jepang menemukannya dan ia diselamatkan. Ia ditemukan dengan tetap memakai rakusu (kasaya) yang diberikan oleh gurunya meski terombang ambing di tengah samudera.

Ketika perang tengah berakhir, Deshimaru dibawa tentara Amerika ke penjara perang di Singapura dan akhirnya dikembalikan ke negara asalnya. Di Jepang, Deshimaru bertemu kembali dengan Kodo Sawaki Roshi yang akhirnya memberinya transmisi Dharma.

Peran Indonesia di kancah zen internasional

Kisah keberanian Taisen Deshimaru Roshi melawan penjajahan Jepang terus dikisahkan oleh murid-muridnya di Barat. Sungguh langka bagi biksu Zen pada zaman itu untuk terjun langsung melawan ketidakadilan dan kekerasan yang dilakukan rezim bangsanya. Menyusul Taisen Deshimaru, Indonesia juga terus berkecimpung dalam perkembangan Zen dunia.

Setelah kemerdekaan, masyarakat luar negeri banyak berinteraksi dengan sukong Ashin selaku pewaris Zen Linji. Guru Rinzai Zen dari Belanda, Ton Lathouwers, mengunjungi Indonesia untuk belajar pada sukong pada tahun 1975. Setelah menerima transmisi ajaran dari sukong, Ton membangun pusat Zen (Maha Karuna Chan) di Belanda, Belgia dan Inggris.

Pada tahun 1970, guru besar Soto Zen (Caodong Chan) yaitu Dongchu Denglang mengunjungi Indonesia bertemu dengan Sukong Ashin. Guru Dongchu menghadiahi Tripitaka Mandarin pada Sukong dan mereka berikrar bersama mengembangkan Buddhadharma di Indonesia. Dan benar adanya karena ternyata 30 tahun setelahnya, silsilah Zen dari Huikong Shengyen murid Dongchu masuk di Indonesia dan menjadi komunitas Chan Indonesia yang untuk pertama kalinya di sejarah Indonesia berhasil menerbitkan buku Buddhis berbahasa Inggris dengan penerbit internasional untuk diresapi para peminat dan praktisi Zen di seluruh dunia. Inilah awal karya anak bangsa di kancah Zen internasional.

Hendrick Tanuwidjaja

Penggemar Zen dan siswa mindfulness

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *