• Saturday, 23 February 2019
  • Victor A Liem
  • 0

Joglo adalah salah satu rumah tradisional Jawa yang memiliki falsafah yang mendalam. Rumah Jawa sebagaimana rumah pada umumnya mewakili status sosial pemiliknya. Namun yang dibahas di sini bukan mengenai itu. Rumah Jawa menyangkut dunia batin yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat Jawa.

Hal penting dalam joglo adalah soko. Soko ini pada umumnya berupa empat buah tiang penyangga bagian atap yang menjadi konstruksi utama dari bangunan. Tiang ini disebut juga sebagai soko guru. Tiang dalam joglo bukan di bagian samping atau dinding. Tapi terletak di bagian tengah yang menopang bagian atap.

Soko guru itu guru sakaning atau saka ingkang nyanggi guru. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya junjungan guru dalam falsafah Jawa. Tidak heran jika pada zaman dulu empat tiang utama diberi sesaji. Tiang utama menjunjung guru, ini ada kaitannya dengan ajaran mengenai guru sejati.

Baca juga: Tiba di Rumah Sejati Hidup di Momen Kekinian

Guru sejati sebagai pusat dan empat tiang sering dikaitkan dengan sedulur papat. Empat elemen penopang dan elemen kelima sebagai pancer. Pancer ini adalah kesadaran kita. Jadi, guru sejati itu bukan berada di luar tetapi dalam wujud kesadaran sejati dalam diri sendiri.

Dalam pewayangan, kesadaran sejati diwujudkan dalam Semar sebagai pembimbing atau pangemong. Hal ini merujuk pada kesadaran sejati yang mengatur pikiran, ucapan, dan perbuatan kita. Pentingnya kesadaran sejati yang membuat pikiran, ucapan, dan perbuatan menjadi harmoni. Nyawiji atau selaras menjadi satu dengan alam semesta adalah ketenteraman batin.

Kita diingatkan kembali bahwa kediaman itu sejatinya adalah untuk ketenteraman batin. Bangunan mewah, dan sebagus apa pun, itu semua bukanlah yang sejati. Yang sejati adalah rumah batin, yang mana kesadaran sejati berdiam dan memancarkan kedamaian pada alam sekitarnya.

Victor Alexander Liem 

Desainer batik tulis. Tinggal di Kudus, Jawa Tengah.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Victor A Liem

Penulis adalah pecinta kearifan Nusantara dan penulis buku "Using No Way as Way"
Tinggal di kota kretek, Kudus, Jawa Tengah. Memilih menjadi orang biasa, dan menjalankan laku kehidupan sehari-hari dengan penuh suka cita.