Oleh: Bhante Sri Pannyavaro Mahathera
Ada seseorang yang melihat arca Buddha tidak begitu besar berada di suatu tempat di tepi jalan. Pada waktu itu sedang turun hujan. Orang ini melihat juga ada sebuah sepatu bekas di dekat arca itu. Ia memungutnya, mengoyak sepatu itu lalu dikerudungkan pada kepala arca Buddha yang kehujanan.
Catatan atas peristiwa itu apa adanya –persis seperti yang dilihat– bagi sebagian orang disebut: sejarah. Catatan itu hanyalah mencatat peristiwanya saja –apa adanya– tanpa menafsirkan apa motivasi orang yang mengerudungkan sepatu bekas di kepala arca Buddha.
Sudah tentu, apabila catatan itu lebih jeli akan menjadi lebih baik: ada orang yang mengoyak sepatu bekas, mengerudungkan di kepala arca Buddha, hujan sedang turun rintik-rintik.
Kemudian ada lagi orang kedua lewat di depan arca Buddha yang berkerudung sepatu bekas itu. Ia berhenti dan spontan membuang sepatu bekas dari kepala arca Buddha. Lalu ia melanjutkan perjalanannya.
Peristiwa kedua ini –orang yang membuang sepatu bekas dari kepala arca– juga dicatat apa adanya. Itu pun catatan peristiwa. Itu fakta sejarah. Apa motivasi orang yang melepaskan sepatu bekas itu, tidak ada orang lain yang tahu, selain ia sendiri –kecuali kalau ia bercerita.
Apakah orang pertama yang mengerudungkan sepatu bekas di kepala arca Buddha dan orang kedua yang melepaskannya –dua-duanya atau salah satunya– adalah umat Buddha, juga tidak diketahui.
Jadi, catatan peristiwa yang tampak dan dicatat apa adanya itu adalah fakta sejarah. Fakta sejarah yang ditulis teliti apa adanya tidaklah pernah salah, karena memang kenyataannya begitu.
Akan tetapi, tafsir sejarah bisa bias, bisa salah.
Orang pertama yang mengerudungkan sepatu bekas di kepala arca Buddha yang kehujanan itu dianggap –ditafsirkan– tidak pantas oleh orang kedua yang melepaskan sepatu. Ini adalah penghinaan, menurut orang kedua! Akan tetapi, apakah benar orang pertama memang melakukan penghinaan, belum tentu!
Fakta sejarah tidak salah. Akan tetapi, tafsir sejarah bisa salah. Pikiran banyak orang bisa menafsirkan satu peristiwa yang dicatat sebagai fakta sejarah menjadi sangat berbeda-beda.
Berhati-hatilah menafsirkan. Jangan serampangan mengomentari suatu peristiwa, apalagi memviralkan sesuatu yang belum pasti.












































































































































































































