• Tuesday, 11 November 2025
  • Ngasiran
  • 0

Oleh: Ngasiran

Dalam Puja Bakti Malam Uposatha Online yang diikuti oleh 46 partisipan, Bhante Adhicitto menyampaikan penjelasan mendalam mengenai AN 7.29 Dutiyaparihāni Sutta, yaitu sabda Buddha tentang tujuh hal yang membawa pada kemunduran dan tujuh hal yang membawa pada ketidakmunduran bagi seorang umat awam. Acara ini diselenggarakan oleh Wanita Theravada Indonesia, khususnya Bidang Pengembangan Dhamma, sebagai bagian dari upaya memperkokoh pemahaman umat terhadap ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Bhante Adhicitto membuka uraian dengan membacakan sabda Sang Buddha:

“Para bhikkhu, tujuh hal ini mengarah pada kemunduran seorang umat awam. Apakah tujuh ini? (1) Ia berhenti menemui para bhikkhu; (2) ia mengabaikan mendengarkan Dhamma sejati; (3) ia tidak berlatih dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi; (4) ia penuh kecurigaan terhadap para bhikkhu, apakah para bhikkhu senior, bhikkhu junior, atau menengah; (5) ia mendengarkan Dhamma dengan pikiran yang berniat untuk mengkritik, mencari celah kesalahan; (6) ia mencari orang yang layak menerima persembahan di antara pihak luar; (7) ia pertama-tama melakukan perbuatan [berjasa] di sana. Ketujuh hal ini mengarah pada kemunduran seorang umat awam.”

Bhante menjelaskan bahwa kemunduran batin seorang umat dimulai ketika ia menjauh dari lingkungan spiritual yang mendukung. Ketika seseorang berhenti menemui para bhikkhu atau enggan bergaul dengan orang bijaksana, ia kehilangan kesempatan untuk memperoleh bimbingan spiritual dan dukungan dalam praktik Dhamma. “Ketika kita menjauh dari para bhikkhu, kita menjauh dari bimbingan Dhamma. Hati kita menjadi mudah terpengaruh oleh pandangan duniawi,” jelas Bhante. Lebih lanjut beliau menegaskan bahwa mengabaikan mendengarkan Dhamma sejati membuat seseorang kehilangan arah dalam kehidupan batin. Tanpa asupan Dhamma, kebijaksanaan tidak dapat tumbuh. Demikian pula, tidak berlatih dalam moralitas yang lebih tinggi (adhisīla) akan melemahkan karakter dan menyebabkan penurunan spiritual.

Bhante juga menyoroti bahaya kecurigaan terhadap para bhikkhu, baik senior, menengah, maupun junior. “Ketika keyakinan (saddhā) mulai pudar dan digantikan oleh kecurigaan, maka pintu untuk belajar dan berkembang pun tertutup,” ujar beliau. Selain itu, mendengarkan Dhamma dengan niat mencari kesalahan membuat seseorang gagal menyerap esensi ajaran yang sejati. Umat awam yang mencari orang yang layak menerima persembahan di luar Sangha dan pertama-tama melakukan kebajikan di sana pun dikatakan sedang menempuh jalan kemunduran, karena hal ini menunjukkan melemahnya penghormatan dan keyakinan terhadap ladang jasa yang subur di dalam komunitas Dhamma.

Selanjutnya Bhante Adhicitto mengutip bagian lanjutan dari sutta:

“Para bhikkhu, tujuh hal ini mengarah pada ketidak-munduran seorang umat awam. (1) Ia tidak berhenti menemui para bhikkhu; (2) ia tidak mengabaikan mendengarkan Dhamma sejati; (3) ia berlatih dalam perilaku bermoral yang lebih tinggi; (4) ia penuh keyakinan terhadap para bhikkhu; (5) ia mendengarkan Dhamma dengan pikiran yang tidak berniat untuk mengkritik; (6) ia tidak mencari orang yang layak menerima persembahan di antara pihak luar; (7) ia pertama-tama melakukan perbuatan [berjasa] di sini. Ketujuh hal ini mengarah pada ketidak-munduran seorang umat awam.”

Dalam penjelasannya, Bhante menegaskan bahwa seorang umat yang menjaga hubungan baik dengan Sangha, rajin mendengarkan Dhamma dengan hati terbuka, dan menegakkan sila dengan tekun akan tetap kokoh di jalan kebajikan. “Ketika keyakinan terhadap Sangha tumbuh, hati kita pun menjadi teduh. Dari keyakinan lahirlah semangat untuk berlatih dan berbuat kebajikan,” tutur beliau. Dengan menumbuhkan keyakinan, keterbukaan, dan moralitas yang kuat, seorang umat awam menumbuhkan kekuatan batin yang menjadi benteng terhadap kemerosotan spiritual.

Menutup uraian Dhamma-nya, Bhante Adhicitto mengingatkan bahwa kemajuan spiritual tidak muncul secara kebetulan, melainkan melalui usaha sadar untuk menjaga prinsip-prinsip ketidakmunduran. Dengan mendekat pada Dhamma, menjalin hubungan baik dengan Sangha, serta berlatih dengan hati yang tulus, seorang umat awam akan “tidak jatuh dari Dhamma sejati,” sebagaimana sabda Buddha di akhir sutta. Pesan ini menjadi pengingat lembut bagi para peserta uposatha bahwa menjaga hubungan dengan para bhikkhu, mendengarkan Dhamma dengan hati terbuka, dan berlatih kebajikan dengan keyakinan adalah jalan menuju kestabilan dan kemajuan dalam kehidupan spiritual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *