• Wednesday, 21 January 2026
  • Ngasiran
  • 0

Foto: Ngasiran

Jumat Pon, 16 Januari 2026, pagi hari, suara kentongan dari rumah Mbah Sukoyo—sesepuh Dusun Krecek—menggema ke seluruh penjuru dusun. Bagi warga, bunyi itu bukan sekadar penanda waktu, melainkan panggilan untuk berkumpul, mengingat leluhur, dan merawat kebersamaan.

Tak lama berselang, pintu-pintu rumah mulai terbuka. Para lelaki keluar sambil membawa tenong, wadah makanan dari bambu. Para perempuan mengemban tumpeng, sementara anak-anak mengangkat tikar. Dengan langkah perlahan, mereka menyatu dalam barisan yang bergerak menuju makam.

Prosesi berjalan khidmat. Di barisan terdepan, seorang Bhikkhuni berjalan berdampingan dengan Mbah Sukoyo, memimpin rombongan masyarakat yang mengenakan busana adat Jawa. Pagi itu cuaca cerah, seakan memberi ruang bagi perjalanan sakral menuju makam leluhur yang telah lama menjadi titik temu dua dusun: Krecek dan Gletuk.

Hari itu, bertepatan dengan Jumat Pon di bulan Rajab, masyarakat Dusun Krecek dan Dusun Gletuk melaksanakan upacara Nyadran. Tradisi ini telah dijaga secara turun-temurun oleh warga kedua dusun yang berbagi satu kompleks makam yang sama. Nyadran menjadi penanda hubungan yang tak terputus antara yang hidup dan yang telah tiada.

Keistimewaan Nyadran di tempat ini terletak pada cara tradisi tersebut dirawat dalam keberagaman. Dusun Krecek mayoritas dihuni umat Buddha, sementara Dusun Gletuk didominasi umat Muslim. Perbedaan keyakinan tidak menjadi sekat, justru menjelma ruang kebersamaan yang tumbuh secara alami.

Harmoni itu tampak jelas dalam rangkaian doa Nyadran. Ritual diawali dengan tahlilan yang dipimpin oleh umat Muslim. Setelah itu, suasana kembali hening ketika doa-doa dalam bahasa Jawa dilantunkan, disusul pembacaan paritta oleh umat Buddha. Doa-doa yang berbeda itu berpadu dalam satu tujuan: mendoakan leluhur dan menjaga keseimbangan hidup bersama.

Nyadran bukan sekadar ritual tahunan. Bagi masyarakat Krecek dan Gletuk, tradisi ini menjadi cermin cara hidup yang menempatkan toleransi bukan sebagai wacana, melainkan sebagai laku sehari-hari. Di tengah keberagaman keyakinan, mereka bertemu dalam nilai yang sama: menghormati leluhur, menjaga tradisi, dan merawat harmoni.

Di bawah langit pagi yang cerah, di antara nisan-nisan yang berdiri berdampingan, Nyadran kembali mengajarkan bahwa perbedaan dapat berjalan seiring—setenang langkah-langkah warga yang pulang membawa keteduhan setelah doa usai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *