• Monday, 15 April 2024
  • Surahman Ana
  • 0

Penulis: Andreian (An)

Rumah kembali sepi, Maya yang sedari tadi menahan kesedihan hanya duduk diam ketika semua tetangga sudah pulang. Malam ini memang malam yang kelabu bagi Maya, sebab ia baru saja selesai mengadakan acara patidana untuk memperingati empat puluh hari kematian ibunya. Rasa kehilangan yang mendalam tanpa disadari membuat air mata kembali mengalir di pipi Maya. Jika sudah begini, Rey sebagai tunangan Maya yang harus bersusah payah untuk membuat gadis itu kembali terhibur.

“Sayang.” Rey mencoba membuka suara.

Hening, Maya tidak menjawab, hanya tangannya yang kemudian bergerak mengusap air mata.

 “Sa-”

“Yang!” Maya memotong ucapan Rey. “Apakah kau cukup percaya diri menatap kematian?” Pertanyaan sulit itu muncul tanpa terduga.

Rey tidak segera menjawab, “Kenapa tanya begitu, Yang?”

Suara Maya bergetar karena menahan aliran perasaan yang kuat, “Aku sangat kehilangan ibu, Yang.”

“Sabar, setiap orang pada akhirnya akan sampai pada titik itu, kita harus siap menghadapinya.” Rey mendekap bahu Maya.

“Aku tidak mengerti, tetapi semenjak ibu tiada kehidupan ini menjadi begitu berbeda.”

“Berbeda?”

“Ya, hal yang semula menyenangkan dilakukan menjadi biasa saja. Mungkinkah kebahagiaan itu memang semu?”

“Kurasa itu wajar, Yang. Kau kan masih berkabung.”

Maya menghela napas panjang, “Ya sudah, sebaiknya kau pulang ini sudah malam. Terima kasih untuk bantuannya hari ini, Yang.”  

“Baiklah.” Rey bangkit dari tempat duduknya. “Bapak di dalam?” tanyanya.

“Sudah tidur, Yang.”

“Kalo begitu sampaikan pamitku.”

“Baik.”

Maya segera masuk ke kamar setelah Rey pulang. Suasana rumah yang sepi membuat pikiran gadis itu kembali mengenang sosok ibunya. Hubungan baik memang selalu membuat perpisahan terasa sangat menyedihkan, terlebih jika kematian datang tiba-tiba.

“Aku senang melihatmu tumbuh menjadi gadis yang baik.” Maya mengingat percakapan terakhir dengan ibunya di suatu siang.

“Kamu harus terus menjadi gadis yang baik ya, Nak. Pahamilah bahwa hidup ini hanyalah sementara, jika kau punya waktu manfaatkanlah untuk kebaikan. Ibu akan sangat bangga jika kau bisa memahami dan menjalaninya.”

“Baik, Bu.” Maya tersenyum tanpa menaruh rasa curiga. Hingga ketika senja tiba menciptakan panorama jingga yang eksotis, Maya tidak dapat membendung kepedihan kala menemukan ibunya terbaring tak bernapas di tempat tidur.

Maya menangis mengingat peristiwa itu. Banyak hal yang kemudian ia sesalkan, banyak juga yang akhirnya ia renungkan. “Sungguh pedih kehilangan ibu,” ujar Maya, “lalu dengan rasa sakit yang sedalam ini, mungkinkah aku kuat jika harus menghadapi kehilangan lagi?” Wajah bapak dan Rey muncul dalam pikiran Maya.

“Ibu, kepergianmu juga membuatku sadar bahwa Kematianku bisa datang sewaktu-waktu. Aku takut jika nanti tiba masanya, apa yang kuperbuat dalam kehidupan ini hanya akan menjerumuskan dalam lingkaran samsara yang lebih dalam. Aku juga takut bila kepergianku akan meninggalkan luka kehilangan bagi orang-orang terdekat seperti apa yang sedang kurasakan. Memang, aku sudah mengerti, Bu. Kehidupan ini tidak bisa menjanjikan keabadian, tetapi sekarang ini aku masih dipenuhi kelekatan. Haruskah aku mengambil jalan itu agar bisa terbebas?”

Maya menghela napas, berdiri dan mengambil ponsel di atas meja. Entah perasaan apa yang membuatnya begitu ingin menghubungi Rey. Namun ketika baru meraih ponsel, sebuah pesan dari Rey lebih dulu masuk.

“Besok aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, Yang.” pesan dari Rey.

Maya tidak segera membalas karena sesungguhnya tidak berminat untuk pergi, tetapi ia tidak tega jika langsung menolak ajakan itu.

“Mau ya?” Rey kembali mengirim pesan.

“Baik, Yang.” jawab Maya singkat setelah mempertimbangkan.

“Yang, sebenarnya aku ingin cerita.” Maya kembali mengetik, “Aku ragu bisa menikmati hidup dengan cara seperti ini, aku ingin menjadi …” Maya berhenti mengetik dan menghapus tulisannya. Gambaran kebahagiaan ketika bersama Rey membuatnya bimbang. Rencana masa depan yang mereka buat juga sudah sedemikian baik termasuk rencana sebuah pernikahan sederhana. Hal pada akhirnya membuat Maya kembali berpikir, tetapi jika mengingat kematian yang begitu dekat ia kembali takut akan membuat Rey mengalami sakit hati kehilangan, ataupun sebaliknya.

“Ya sudah, aku ingin tidur, Sayang juga tidur gih.” balas Maya setelah beberapa saat.

“Baik, Yang.”

Percakapan pun berakhir. Kedua orang itu jatuh tertidur dengan kesan, perasaan, dan harapan yang berbeda terhadap pertemuan besok. Rey yang malam itu tersenyum sebelum terlelap tidak pernah tahu. Esok, ketika matahari tenggelam, cahaya dan harapannya akan hilang bersamaan.

“Maya, kita pergi ke air terjun ya?” kata Rey sembari fokus mengendarai motor.

“Apa, Yang?”

“Kita pergi ke air terjun biasanya ya?”

Kali ini Maya mendengar, tetapi dia hanya diam. Rasa berkabung yang masih kuat membuat gadis itu merasa tidak nyaman jika bepergian ke tempat seperti itu.

“Yang?” Rey kembali memastikan.

“Baik, Yang.” jawab Maya pendek.

Perjalanan cukup jauh, Rey terus berusaha membuat obrolan meski Maya selalu menggagalkannya dengan respon yang datar. Menyadari hal itu sebenarnya Maya merasa tidak enak, sayangnya hati susah ditipu. Maya belum bisa bercanda seperti sedia kala. Bahkan ketika sampai di tempat tujuan Maya yang senang bermain air lebih sering diam dan merenung.

“Mengapa aku tidak bahagia padahal dulu aku selalu senang dengan ini semua?” pikir Maya ketika duduk di batu besar dekat pancuran. “Apakah kesenangan yang dulu itu hanya semu?”

“Pulang yok, Yang.” suara Rey membuat Maya kaget. “Setelah ini kita makan kupat tahu di warung biasanya lalu pulang.”

Maya hanya mengangguk setuju. Alam pikirannya benar-benar tengah tersesat dalam alur renungan yang sangat rumit. Ya, sangat rumit sampai-sampai kupat tahu terasa hambar bagi lidah Maya, perjalanan pulang pun berlangsung biasa saja. Hal itu membuat Rey terpaksa mengalah dan pasrah, hati gadisnya memang sedang tidak bisa ditawar.

“Sayang, aku ingin bicara.” Maya memulai pembicaraan setelah mereka sampai di ruang tamu, saat itu di luar matahari sudah redup pertanda malam akan segera menjelang. “Aku yakin kau sangat mencintaiku. Semua hal yang kau lakukan sangat tulus selama ini, bahkan hari ini kau berjuang keras untuk membuatku senang. Maaf atas sikapku, aku belum bisa seperti biasa.”

Rey tersenyum. “Iya, Sayang.”

“Aku berharap,” Maya melanjutkan, “kau tidak sedikit pun ragu bahwa aku juga sangat mencintaimu.”

“Aku percaya, Yang. Binar matamu mengatakan segalanya.”

Maya menitikkan air mata. Kesedihan yang teramat memilukan tergambar pada raut wajahnya.

“Sayang?” Rey mengusap bulir air mata itu dengan tangannya.

Suara Maya bergetar hebat, “Aku sangat mencintaimu, dan untuk mewujudkan perasaan cinta itu aku ingin meminta sesuatu.”

Rey berusaha menilai keadaan, bayangan pernikahan muncul dalam pikirannya. “Apa yang kau mau, Yang?”

“Aku ingin masa pertunangan kita berakhir.”

Rey tersenyum, dugaannya benar. “Kau ingin kita segera menikah?”

Maya mengalihkan pandang, tangisnya pecah, hatinya benar-benar hancur. “Sayang, aku ingin jadi atthasilani tetap!”

Rey diam seribu bahasa, napasnya terasa begitu sesak, dan seluruh tubuhnya terasa sangat ringan. Saat itu matahari telah tenggelam, cahaya dan harapan Rey juga ikut hilang bersamaan. Menjadi attasilani adalah pilihan untuk hidup selibat, tidak menikah. Artinya Maya ingin memutuskan tali pertunangan diantara mereka.

“Sayang!” Maya memekik.

Rey bangkit dari tempat duduknya dan segera melangkah keluar. Sekuat tenaga Maya mencoba menahan kepergian itu, tetapi Rey bisa menghindar dengan mudah.

“Sayang!” Maya kembali memekik saat tunangannya itu sudah melewati ambang pintu. Namun Rey terus berlalu tanpa memalingkan muka. Tidak lama suara motor meraung dari luar, Maya yang tidak sangup mengejar duduk terjatuh dengan air mata berlinangan.

Di jalan Rey memacu motornya menuju suatu tempat yang tidak ia duga, wihara. Mungkin naluri membimbingnya menuju tempat itu karena demi mendapat ketenangan dalam proses perenungan. Ya, keadaan saat ini memang harus direnungkan. Setibanya di sana Rey segera bersujud dan memuja di depan altar. Setelah itu ia duduk di beranda menikmati suasana sepi seorang diri.

“Ah, sudah berapa lama kau tidak ke sini?” Rey tersenyum. Terkadang manusia memang bisa menipu diri sendiri dengan tersenyum. Namun hal itu tidak pernah bisa berlangsung lama. Rey menitikkan air mata, pergulatan batinnya pun segera dimulai. Ia teringat momen indah malam itu.

“Maya?” suara Rey terdengar lirih. “Maukah kau jadi kekasihku?”

Pipi Maya memerah, matanya berbinar seterang cahaya rembulan yang terpajang cantik di langit malam itu. Adalah anggukan kecil teriring senyuman tersipu yang mewakili jawaban kesanggupan Maya atas permintaan Rey. Sungguh momen yang indah bagi Rey, tetapi keindahan itulah yang justru membuat hati semakin tidak rela jika cerita cinta harus mencapai titik ujungnya.

Kecamuk pikiran dan perasaan Rey menjadi tidak bisa terbendung, dalam kekalutan yang sepi sanubarinya mulai melontarkan pertanyaan dan pernyataan sarat makna. “Maya, seandainya kau bosan denganku. Aku pasti lebih mudah menerima maumu. Seandainya kau berpikir ada yang lebih cocok buatmu, aku pasti bisa menerima. Namun kau ingin kisah kita berakhir karena alasan cinta. Bagaimana mungkin aku bisa mencegahmu pergi dan melarang hatiku merana? Sulit bagiku untuk membayangkan bagaimana nanti jika kau sudah berjubah putih dan berkepala gundul. Lalu kita bertemu pada satu momen. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku bisa menahan gejolak ketika melihat itu semua? Apa sebaiknya aku lari saja?” Rey menyeka air mata.

“Aku pun takut jika setiap kali mengingatmu, kenangan-kenangan kita mencuat kepermukaan lagi? Lalu, apakah aku bisa jatuh cinta dengan wanita selain dirimu dengan kondisi seperti itu? Bagaimana jika pada akhirnya aku hanya akan melukai wanita lain dengan membuat mereka berharap bisa bersamaku sementara hatiku benar-benar telah jadi milikmu?”

“Ah, Sulit! Sungguh sulit untuk tidak berharap cerita kita akan berakhir pada sebuah bahtera pernikahan. Namun aku pun sadar, tidak mudah untuk menahanmu. Bukan karena aku tidak punya alasan, tetapi tujuanmu terlalu mulia untuk dihentikan. Mungkin jalan yang kau ambil ini bisa menjadi jalan kebahagiaan sejati.”

“Sial! Kau sungguh egois, Yang. Kau ingin mencari kebahagiaanmu sendiri. Tidak! Aku yang egois, seharusanya aku … tapi ….”

“Argh! Seandainya aku bisa marah aku pasti bisa lega. Namun aku tidak bisa, Sayang. Tidak masuk akal marah dengan alasan seperti ini.

Rey terus berkelahi dengan batinnya sendiri. Ada sisi yang membuatnya mau merelakan, tapi hasrat untuk memiliki jauh lebih besar. Kebingungan antara dua pilihan itu membuat Rey hanya fokus pada dirinya sendiri. Sebenarnya sedari tadi ada ratusan pesan dan puluhan telpon dari Maya. Namun Rey mengabaikannya. Ia belum siap berkomunikasi dalam bentuk apapun dengan Maya. Sebuah keputusan yang wajar tetapi juga tidak bijaksana, sebab Maya harus merasakan khawatir yang luar biasa. Sejak tangis pertamanya pecah, hingga detik ini air mata itu belum terbendung. Terlebih Rey tidak membalas pesan atau mengangkat teleponnya. Maya sampai harus menghubungi semua teman dan keluarga Rey demi mendapat kabar keberadaannya. Sayangnya usaha itu sia-sia, tidak ada satu pun yang tahu di mana Rey berada. Justru tindakan Maya membuat kepanikan dan menimbulkan beribu tanya di kalangan orang terdekat mereka. Akhirnya Maya semakin bingung karena banyak yang terus bertanya padanya soal apa yang terjadi. Pada puncak kekalutan itu akhirnya Maya memutuskan untuk mematikan ponsel. Ia pun bergegas menuju rumah Rey dengan motornya saat itu juga .

“Rey!” Maya memekik sembari mengetuk pintu.

“Rey!” Maya mengulangi lagi, masih tidak ada jawaban.

Setengah jam berlalu. “Rey!” Maya mengulang. Satu jam berlalu, “Sayang, kamu ke mana?” Maya tidak mendapat jawaban.

Maya pun bersimpuh di depan pintu sembari menangis selama beberapa waktu. Hanya kekuatan cinta yang membuatnya kuat berdiri sekali lagi dan pergi untuk melanjutkan pencarian. Menunggu hanya akan membuat waktu menjadi sia-sia, sebab Rey tidak menunjukkan pertanda akan segera pulang. Berusaha mencari mungkin akan lebih baik minimal bagi perasaan Maya sendiri.

Bermodal tekad Maya membiarkan hatinya yang membimbing perjalannya menuju setiap tempat yan mungkin Rey kunjungi. Namun hati Maya memang sudah tidak seutuhnya memiliki Rey hingga ikatan batin di antara mereka melemah. Rey tidak ada di semua tempat yang ia tuju, bahkan hanya kelelahan dan kekawatiran yang berhasil Maya temukan. Rey sepertinya memang lenyap dari dunia hingga membuat Maya kehilangan harapan. Pada titik itulah Maya memutuskan untuk mengakhiri upayanya, ia memilih menenangkan diri di suatu tempat.

“Rey!” Maya memekik ketika sampai di halaman wihara, ia melihat motor Rey terparkir di sana. Dengan cepat Maya berlari ke dalam ruang wihara.

“Sayang!” suara Maya pelan. Di dalam Rey sedang duduk bersila menghadap altar.

Sesungguhnya Maya ingin segera bicara dengan Rey dan menumpahkan semua rasa yang selama ini dia bendung. Namun kondisi Rey yang sedang bermenditasi membuat Maya tidak punya pilihan selain menunggu. Saat itu suasana wihara sangat sepi, sepasang tunangan duduk bersebelahan sembari bicara dalam diam, saling menatap meski kedua mata sedang terpejam.

“Maya.” suara Rey pelan tetapi tegas dan tenang.

“Iya, Sayang.” Maya menjawab tak kalah tenang, ada sedikit kelegaan dalam hatinya meski sedari tadi ia menunggu dengan gelisah.

Rey membuka mata dan mengeser tempat duduknya menghadap pada Maya. “Kau ingat, dulu kita bertunangan di depan altar ini bukan?”

Maya melakukan gerakan yang sama, saat ini mereka saling berhadapan.

“Aku sangat mencintaimu, Maya.” Rey kembali bicara, tangannya bergerak meraih tangan tunangannya itu.

“Aku tidak akan pernah lupa hari yang indah itu.”

Rey tersenyum mendengar jawaban Maya. Senyum yang begitu tulus dan mengandung makna yang sangat dalam.

“Maafkan aku, Maya.”

Hening, maya tidak menjawab, Rey juga tidak bicara lagi. Hanya suara jam dinding yang berbunyi nyaring di dalam ruangan yang sunyi. Tanpa disadari Maya mulai menitikkan air mata. Dan ketika dentang waktu sampai pada ujungnya, dentangan jam kedua belas tidak hanya menandai pergantian hari, Maya dan segala sisi kehidupannya juga ikut berganti. “Berbahagialah, Sayang.” Rey berdiri sambil tetap menatap wajah Maya. Sekali lagi ia tersenyum sebelum melangkah keluar sembari membawa sepasang cincin beserta semua cita, cinta, dan cerita di dalamnya …

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *