Oleh: Muhammad Mukhlisin, Direktur Yayasan Cahaya Guru, Penulis dan Editor Buddhazine.com
Kereta Argo Merbabu berhenti di Semarang ketika malam sudah turun sempurna. Saya turun bersama Mbak Dini, seorang teman dari Jakarta, membawa tas yang lebih ringan dari biasanya — karena kali ini saya sengaja tidak membawa banyak barang, hanya niat untuk memberi jeda pada diri sendiri. Febri, seorang pemuda Krecek, sudah menunggu di luar stasiun dengan senyum yang tenang, seolah tahu bahwa yang datang malam itu bukan sekadar tamu, melainkan orang-orang yang sedang mencari ruang untuk bernapas.
Perjalanan dari Semarang menuju Dusun Krecek selalu menjadi ritus kecil bagi saya. Jalanan yang perlahan menyempit, lampu-lampu kota yang menghilang satu demi satu, digantikan gelap yang pekat dan suara jangkrik yang mulai bersahutan. Di titik itu, Jakarta terasa jauh — bukan hanya secara jarak, tapi juga secara rasa. Kesibukan, tenggat, semuanya seperti tertinggal di rel kereta yang saya lewati beberapa jam sebelumnya. Meskipun begitu, notifikasi handphone terkadang masih menonjok-nonjok pikiran saya.
Krecek adalah dusun kecil yang mungkin tak banyak dikenal orang. Tapi bagi sebagian orang yang pernah singgah, dusun ini menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: ketenangan dan kehangatan, layaknya kopi tubruk di pagi hari. Di sinilah Ngasiran, sosok yang puluhan tahun hidup dan berkarier di Jakarta, memilih untuk kembali menanam akar. Ia menggagas Krecek Mindfulness Meditation — sebuah program sederhana yang mengajak orang-orang kota untuk sejenak berhenti, duduk, dan pulang ke dalam diri sendiri.
Malam itu, di tengah program tersebut, saya berkesempatan duduk berhadap-hadapan dengan Muhammad Zaim, akrab disapa Kang Zaim. Seorang pakar dan praktisi meditasi yang telah mengembara ke berbagai penjuru dunia, kini menetap jauh di Jerman. Ada sesuatu yang tenang dari caranya duduk, caranya menjawab pertanyaan, jeda-jeda kecil sebelum ia bicara, seolah setiap kata yang keluar sudah lebih dulu ia rasakan dalam diam.
Dari perbincangan yang mengalir pelan itu, terkuaklah sebuah perjalanan panjang. Dari krisis batin seorang anak muda yang gelisah, hingga menjadi murid langsung Thich Nhat Hanh di Plum Village, Prancis.
Bermula dari Kegelisahan Spiritual dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab
Tidak semua perjalanan spiritual dimulai dari ketenangan. Sebagian justru lahir dari keretakan, dari pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk tanpa jawaban, hingga akhirnya membentuk keretakan yang cukup besar untuk membuat seseorang berhenti dan mencari jalan lain.
Begitulah awal mula Kang Zaim. Sejak kecil, ia menyimpan begitu banyak pertanyaan tentang agama dan Tuhan, pertanyaan yang bagi banyak orang mungkin dianggap tabu untuk ditanyakan, apalagi diucapkan. Bagaimana caranya bertemu Tuhan? Bagaimana melihat-Nya secara kasat mata? Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengendap, tak pernah benar-benar tuntas, hingga suatu ketika ia merasa lelah, bukan lelah fisik, melainkan lelah yang jauh lebih dalam, lelah pada agama yang selama ini ia anut tanpa pernah menemukan jawab.
Di tengah kelelahan batin yang begitu berat itu, sesuatu bergerak dari dalam dirinya. Bukan nasihat dari luar, bukan kata-kata orang lain, melainkan suara batinnya sendiri yang tiba-tiba begitu jelas: carilah seorang biksu, dan belajarlah meditasi.
“Jadi saya belajar meditasi itu bukan berdasarkan kata-kata ilmuwan, kata buku, kata ini, kata itu, tetapi murni dari dalam batin saya. Suara batin saya itu berbicara pada diri saya, cari seorang biksu dan belajarlah meditasi,” kenang Zaim, suaranya pelan namun mantap, seolah kalimat itu sudah ia ulang ribuan kali dalam dirinya sendiri.
Ia pun mulai menekuni meditasi vipassana dan samatha, jauh sebelum ia mengenal istilah “mindfulness” yang kini melekat erat dengan namanya. Retret pertamanya membekas dalam, memberinya pengalaman tentang kedamaian batin yang barangkali belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dari sanalah ia mulai, dalam kata-katanya sendiri, “kecanduan” — terus mengikuti retret, keluar-masuk wihara, seolah mengejar kembali rasa damai yang sekali ia cicipi dan tak ingin ia lepaskan.
Di Plum Village Bertemu Guru, Menemukan Kata “Mindfulness”
Titik balik yang sesungguhnya datang pada penghujung 2010. Zaim mengembara jauh ke Plum Village, sebuah biara Zen di pedesaan Prancis yang didirikan dan diasuh langsung oleh Thich Nhat Hanh, salah satu guru meditasi paling berpengaruh di dunia, sosok yang bahkan pernah dinominasikan untuk Hadiah Nobel Perdamaian oleh Martin Luther King Jr.
Di sanalah, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zaim mendengar kata “mindfulness” — bukan dari buku, bukan dari seminar, melainkan langsung dari mulut sang guru sendiri.
Namun yang paling membekas bukan sekadar istilah baru itu. Ada satu pesan dari Thich Nhat Hanh yang terus dipegang Zaim hingga hari ini, jauh setelah ia meninggalkan Plum Village: bahwa belajar mindfulness, belajar Zen, tidak mengharuskan seseorang menjadi seorang Buddhis. Justru sebaliknya, belajar Zen akan menjadikan seseorang pribadi yang lebih baik. Muslim yang lebih baik. Kristen yang lebih baik. Yahudi yang lebih baik. Bahkan ateis yang lebih baik. Semua itu bisa terjadi tanpa harus berpindah keyakinan, tanpa harus menanggalkan identitas yang sudah melekat sejak lahir.
“Saya tidak pernah merasa convert ke apapun,” tegas Zaim. Tapi ia tidak menutup-nutupi bagian tergelap dari perjalanannya. Ia mengakui, dengan jujur dan tanpa beban, bahwa dalam proses pencariannya ia pernah menyatakan diri keluar dari Islam. Ia bahkan pernah menjadi ateis — bukan karena kehilangan iman pada sesuatu yang lebih besar, melainkan karena jengah, lelah mendengar para penceramah yang hanya menyuarakan intoleransi, yang hanya berteriak tentang fanatisme sempit tanpa pernah menawarkan ruang untuk bertanya.
Namun justru dari titik terjauh itulah, dari proses melampaui yang paling gelap sekalipun, Zaim menemukan sesuatu yang tak ia duga: nilai-nilai universal yang selama ini tersembunyi rapi di dalam tradisi Islam sendiri. Ia kembali memeluk agamanya, tapi dengan cara pandang yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Salat yang dulu ia lakukan karena rasa takut, karena mengejar pahala, kini ia jalani dengan ikhlas. Tanpa embel-embel apa pun. Baginya, momen salat kini menjadi ruang jeda, sama seperti duduk hening dalam meditasi, sama seperti menarik napas panjang di tengah dusun yang sunyi.
Rindu yang Tak Pernah Padam
Kini menetap jauh di Jerman bersama istrinya, Zaim mengaku kepindahannya bukanlah sesuatu yang ia rencanakan dengan sengaja. Ia menyebutnya sebagai kehendak semesta — sesuatu yang bergerak di luar kendalinya, yang ia hanya bisa “sendiko dawuh”, tunduk dan mengikuti.
Semua bermula dari rencana pulang ke Indonesia, setelah menjalani lima tahun sebagai biarawan Zen. Saat itu, tekadnya sudah bulat: mencari tempat di tengah hutan, membangun ruang untuk berbagi latihan meditasi bagi siapa saja yang membutuhkan. Tapi sebelum benar-benar pulang, ia memutuskan berkeliling Eropa terlebih dahulu, Belgia, Spanyol, dan akhirnya, Jerman. Di sanalah, tanpa pernah ia rencanakan, ia jatuh cinta pada seorang perempuan Jerman. Sejak saat itu, katanya, semesta seperti berbisik: tempatmu di sini.
Namun jarak ribuan kilometer tak pernah benar-benar memutus ikatannya dengan tanah kelahiran. Ada sesuatu dalam dirinya yang tetap terpaut kuat pada Indonesia, sesuatu yang bisa ia rasakan setiap kali membaca berita tentang kerusakan lingkungan, tentang ketimpangan sosial di tanah air. Emosinya selalu lebih dalam, lebih menyentuh, dibanding ketika ia membaca berita serupa dari negara lain.
Setiap tahun, Zaim menyempatkan diri pulang. Tapi kepulangannya bukan untuk mengunjungi keluarga, bukan pula sekadar nostalgia. Ia pulang untuk berbagi laku spiritual, mendampingi beberapa grup meditasi online, mengisi retret singkat, dan salah satu tujuan tetapnya adalah Dusun Krecek ini, tempat program Krecek Mindfulness Meditation digagas oleh Ngasiran, yang juga menjabat Direktur Eksekutif Buddhazine.
Malam itu, di tengah dusun yang gelap dan sunyi, dengan suara jangkrik yang tak pernah berhenti bersahutan, cerita panjang Kang Zaim, dari kelelahan batin seorang anak muda, hingga menjadi murid Thich Nhat Hanh di Plum Village yang jauh, terasa menyatu dengan alasan saya, dan barangkali banyak orang lain, terus kembali ke Krecek. Mencari jeda. Mencari ruang hening. Di tengah dunia yang tak pernah benar-benar berhenti berlari.[MM]





















































































































































