• Friday, 30 December 2016
  • Anwar Nagara
  • 0

Hidup sehari-hari tidaklah selalu mulus, seperti hiking di hutan, ada jalan setapak mulus, ada yang becek, dan juga yang berbahaya. Suka atau tidak suka, Anda tetap harus melewatinya, atau mencari rute lain. Manusia tampaknya selalu menghindari rute becek dan berbahaya. Bahkan tidak jarang sangat sibuk mencari alternatif lalu gonta-ganti rute sehingga berjalan putar-putar di situ saja.

Cuaca juga demikian, kadang cerah, kadang berawan mendung, dan kadang hujan. Suka atau tidak suka, Anda harus menerima cuaca apa pun. Tiada gunanya gundah gara-gara cuaca, toh itu di luar kendali manusia. Ketika cuaca cerah, mari menikmatinya. Ketika cuaca mendung, barangkali boleh siap-siap payung. Cuaca mendung belum tentu hujan loh. Apabila hujan datang, mari kita sambut dengan senyum.

Tanpa Membesar-besarkan
Pikiran manusia tampaknya juga mengalami kecenderungan serupa sebagaimana hiking di hutan maupun cuaca yang berbeda-beda. Kadang pikiran tenang, kadang pikiran biasa-biasa saja, dan kadang keruh. Seorang praktisi meditasi memperhatikan setiap perasaan yang muncul tanpa membesar-besarkannya. Ketika perasaan nyaman muncul, dia tidak mengikat perasaan itu; ketika perasaan netral hadir, ia sekadar mengawasinya; ketika perasaan tidak nyaman hadir, dia juga tidak menolak atau membencinya. Inilah kekuatan upeksha yang perlu dibangun dalam meditasi.

Pikiran memiliki tingkat proses super hektik, bahkan bisa ratusan ribu buah pikiran dalam setiap detik. Buah pikiran yang tidak bermanfaat ini lebih banyak berseliweran sana-sini dibandingkan yang bermanfaat. Kondisi ini mengakibatkan skenario, skema, negativitas, rasa takut, persepsi keruh, dan sebagainya.

Kendaraan Berlalu-lalang
Bayangkanlah diri Anda duduk di pinggir jalan mengamati kendaraan yang lalu-lalang, ada truk, bus, mobil, bajaj, bahkan ojek juga. Kadang ada mobil Mercy lewat, pikiran langsung terseret ke sana dengan membayangkan sungguh enak kalau punya mobil Mercy. Tidak lama kemudian lewat motor Harley Davidson, pikiran juga kembali lagi mengkhayal sungguh enak jika punya motor itu.

Anda membuat jalan raya pikiran mandek, macet, dan banyak tabrakan. Kegalauan, kegelisahan, keresahan mulai tumbuh dengan subur. Dalam dunia meditasi, ini disebut sebagai kondisi pikiran terseret ke masa depan dan mengarang cerita-cerita imajinatif.

Ada waktunya, tiba-tiba Anda sadar bahwa itu hanyalah mimpi-mimpi siang bolong. Kesadaran Anda kembali ke saat ini dan di sini, kembali ke pinggir jalan lanjut mengamati. Buddha menyebutkan bahwa masa depan belum juga tiba, masa lalu sudah pergi, lalu kenapa engkau mencemaskan masa depan dan menyesali masa lalu? Padahal hidup Anda hanya tersedia di saat ini.

Kuda Liar
Pikiran manusia diumpamakan sebagai kuda liar. Kuda ini sudah memiliki kebiasaan kabur ke sana dan kemari, namanya juga kuda liar. Anda tidak bisa memaksa kuda itu diam. Justru semakin Anda paksa semakin liar jadinya, bahkan acap kali memberontak dan membuat situasi tambah parah.

Menjinakkan kuda liar perlu trik. Dalam Sutra tentang Napas Berkesadaran disebutkan, mencurahkan perhatian pada napas seperti mengalungkan tali di leher kuda liar itu. Walaupun kuda liar itu lari ke sana ke mari tidak keruan, tapi dia masih dalam jangkauan. Berikan kesempatan kepadanya untuk berlari lebas.

Ketika kuda liar itu sedikit lebih tenang, maka tarik sedikit tali itu. Tariklah sedikit saja sehingga kadang kuda itu tidak merasa ada perbedaan. Ulangi tarikan itu hingga kuda itu mau istirahat di satu tempat. Tapi tenang saja, nanti dia akan lari lagi, lalu Anda sudah punya cara mahir untuk menarik dia kembali.

Menggiring Pikiran Kembali
Samatha merupakan teknik meletakkan pikiran pada satu objek kejadian saat ini. Napas hanyalah terjadi di sini dan saat ini, tampaknya ini juga menjadi alasan Buddha menjadikan teknik napas menjadi latihan fundamental meditasi.

Anda tidak mungkin lompat ke masa depan untuk bernapas, karena masa depan belum juga tiba. Anda tidak mungkin melompat ke masa lalu untuk bernapas, karena masa lalu sudah pergi. Napas selalu terjadi pada momen kekinian. Mencurahkan pikiran pada napas sama saja dengan mencurahkan pikiran pada momen kekinian.

Setiap kali pikiran tercurahkan kepada napas masuk dan keluar, maka pikiran sudah hadir di sini dan saat ini. Kondisi ini yang disebut sebagai mengistirahatkan pikiran, pikiran dan napas manunggal menjadi satu. Lalu pikiran akan kembali liar lagi, sama seperti sang kuda liar yang nanti akan beraksi lagi, tapi ingatlah bahwa sudah ada “tali” (baca: napas) di kuda liar itu. Anda bisa menarik sedikit tali itu agar kudanya sedikit lebih dekat dengan masa kini dan saat ini.

Momen Non-Meditasi
Lakukanlah berulang-ulang, cuaca apa pun itu, konsistensi dalam pelaksanaan ini yang akan menjadi kekuatan baru ketika berhadapan dengan kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang disebut dalam tradisi Zen bahwa momen meditasi formal memberikan pengaruh kepada momen non-meditasi. Asal Anda tahu cara menerapkannya, maka Anda bisa melakukannya di mana pun, apakah ketika sedang duduk, berdiri, berjalan, maupun berbaring.

Jika Anda terus melakukannya, maka kuda liar akan mulai berubah sikapnya menjadi sedikit lebih jinak, tapi mohon ingatlah bahwa ke-liar-an kuda itu masih sangat kuat. Ke-liar-an pikiran yang kadang disebut sebagai kebiasaan (Sansekerta: Vāsanā, Tibet: བག་ཆགས) sangatlah kuat, bukan barang sehari dua hari, sebulan dua bulan, setahun dua tahun bisa mentransformasinya, bahkan ini bisa menjadi tugas praktisi sepanjang hayatnya. Selamat mencoba.

Tulisan ini terinspirasi dari video berikut ini:

[youtube url=”https://www.youtube.com/watch?v=G-w6dKWBypI” width=”560″ height=”315″]

 

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Anwar Nagara

Dharmacharya dari silsilah Zen Master Thich Nhat Hanh, Plum Village, dikenal sebagai 真法子「Chân Pháp Tử」. Menerima Penahbisan samanera dari tradisi Theravada dengan nama 釋學賢 「Nyanabhadra」dari Y.M. Dharmavimala. Menerima penahbisan ulang sramanera dari silsilah Mulasarvastivada dari Y.M. Dalai Lama ke-14 di Dharamsala dengan nama Tenzin Donpal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *