• Friday, 17 November 2017
  • Siky H Wibowo
  • 0

Biarlah seseorang mengorbankan hartanya, demi menyelamatkan anggota tubuhnya; Biarlah ia mengorbankan anggota tubuhnya, demi menyelamatkan hidupnya;

Tetapi biarlah ia mengorbankan hartanya, anggota tubuhnya dan segalanya, meskipun juga hidupnya demi kebenaran Dharma. (Khuddaka Nikaya, Jataka 28 : 147)

Menurut ajaran Buddha, sikap pengabdian akan dapat tumbuh pada setiap insan yang memiliki spirit alturistik. Altruistik adalah tindakan suka rela yang dilakukan oleh seseorang atau pun kelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa pun, dan tanpa memperhatikan kepentingannya sendiri.

Seseorang yang dapat melepaskan kepentingan pribadi dan memiliki kerelaan hati, akan dengan segenap hati melakukan pengorbanan, pengabdian demi panggilan Dharma yang lebih besar. Mengorbankan sifat mementingkan diri sendiri merupakan landasan dasar dari semua ajaran Buddha.

Semangat alturistik itulah yang akan melahirkan para pejuang Dharmaduta sejati. Semangat Bodhicitta merupakan benih budi pekerti dari para penakluk diri sendiri dalam jalur silsilah Jinakula (wangsa para penakluk). Dharmaduta sejati adalah mereka yang senantiasa berjuang menaklukkan musuh sejati di dalam diri mereka sendiri serta mendedikasikan hidupnya demi kebahagiaan liyan.

Membumikan ajaran

Sejarah Nusantara telah mencatat perjalanan panjang peradaban kerajaan-kerajaan Buddhis Nusantara, kehidupan kebiaraan yang berkembang menjadi Universitas Buddhis di Kedatuan Sriwijaya yang berhubungan erat dengan pusat pendidikan baik di Tiongkok maupun India.

Menyebarnya sistem pendidikan masyarakat dalam bentuk Padhepokan yang berlangsung dalam kisaran ratusan hingga ribuan tahun silam, telah memberikan pondasi berkembangnya pendidikan budi pekerti bagi bangsa ini dari generasi ke generasi.

Interaksi antar pola kekuasaan kerajaan berdasarkan Dharma yang berbasis ajaran Sadhana Raja Pelindung Dharma (Chakrawartin) hingga dinamika pengetahuan yang berada di dalamnya, telah menghasilkan jejak peradaban emas Nusantara. Jejak peradaban ini, dapat dilacak pada arsitektur percandian dan Kraton yang mengikuti kaidah pembangunan Mandala pada kitab Vasthu Sastra dan Silpa Sastra, jejak tradisi ziarah candi, pembabaran ajaran budhi pekerti melalui media wayang, tari-tarian klasik, drama musikal dan kesenian tradisional lainnya.

Mitulurgi pembuatan senjata serta kesusastraan lisan maupun tulisan yang diajarkan dan diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi dalam bentuk pepatah, peribahasa, cerita tutur mitologi atau legenda (folklore), manuskrip berupa penulisan kitab-serat turunan ataupun gubahan Sutra (bagian dari Tripitaka) oleh para Empu (pujangga) yang diguratkan pada rontal (daun tal) telah menjadi simbol pengetahuan kebijaksanaan leluhur Nusantara. Hubungan dengan Kekaisaran Tiongkok, Kerajaan Champa, Kemaharajaan India melalui jalur sutra laut hingga ke Yunani, Jasirah Arab, Turki bahkan sampai Romawi.

Tradisi pengetahuan dan interaksi kebudayaan inilah yang melahirkan peradaban Buddha Dharma Nusantara yang hingga saat ini telah mengakar dalam kesadaran kolektif masyarakat Nusantara. Membumikan ajaran berarti menggunakan kearifan lokal dan akar budaya Nusantara sebagai pendekatan pembabaran ajaran Buddha. Ajaran Buddha dapat disampaikan sesuai dengan corak dan cita rasa budaya setempat.             

Apakah akar budaya itu?

Akar merupakan bagian pokok pada tumbuhan selain batang dan daun yang biasanya terdapat di dalam tanah, yang tumbuh menuju pusat bumi atau menuju ke air meninggalkan udara dan cahaya untuk menyerap sari-sari makanan bagi keberlangsungan hidup tumbuhan itu sendiri.

Secara harafiah, kata “budaya” berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi  yang dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Kata budi sesungguhnya tidak hanya sekedar diterjemahkan sebagai akal bila ditinjau dari akar katanya yaitu “budh”.  Akar kata “budh” (terjaga, menyadari, memahami) sangat erat dengan kata “buddha “ yang berarti “yang telah sadar” atau “yang telah terjaga” atau “yang telah cerah”.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Budaya memiliki hubungan yang erat dengan pikiran, akal budi manusia seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat yang telah berlaku dan diwariskan secara turun temurun sejak jaman dahulu dan menjadi identitas ataupun jati diri dari sebuah masyarakat.

Untuk memahami apakah akar budaya itu, kita dapat mengumpamakan budaya itu sebagai sebuah pohon. Tentu saja pohon tidak dapat begitu saja tumbuh tanpa adanya akar. Semakin dalam akar menembus sela-sela ibu pertiwi untuk menyerap inti sari makanan maka semakin menjulang tinggi dan rimbunlah pohon tersebut. Semakin tinggi dan rimbun pohon tersebut, ia akan semakin mendekat dan berinteraksi dengan cahaya sang mentari.

Demikian pula dengan budaya, Budaya dapat tumbuh karena adanya akar yang menguatkan tumbuhnya peradaban dari sebuah bangsa. Semakin kuat akar itu membumi, semakin kuat pula karakter dan jati diri sebuah bangsa menuju cahaya pencerahan. Dengan pengertian tersebut, kita dapat memaknai akar budaya sebagai kearifan lokal masyarakat yang menjiwai setiap langkah hidupnya yang diekspresikan melalui kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat seperti nilai-nilai adiluhung gotong royong, toleransi, keselarasan dengan alam, bakti kepada leluhur, kepahlawanan dan sebagainya.

Semua tradisi agama yang berbeda-beda, mempunyai tanggung jawab yang besar untuk memberikan kedamaian dalam pikiran dan rasa persaudaraan bagi semua manusia

~ Dalai Lama XIV

 Semangat ajaran Buddha, semangat jalur spiritual pembebasan

Formalitas agama saat ini telah membuat berbagai sekat-sekat di antara manusia, yang semakin lama semakin jauh dari semangat ajaran. Bahasa kitab suci, aksesoris keagamaan, gelar kepanditaan, ritual, mahzab, metode, kultus guru sesungguhnya hanyalah pernak-pernik kulit dari sebuah ajaran.

Jauh sebelum ajaran tersebut melembaga menjadi sebuah institusi, para pendiri ajaran telah mewariskan jalan spiritual pembebasan yang bersifat “The Way of Life.”  Kisah tentang bagaimana Brahma Sahampati memohon Guru Agung Buddha untuk berkenan memutar roda Dharma demi kebahagiaan semua mahluk, sesungguhnya memiliki pesan yang menegaskan bahwa ajaran Buddha bukanlah ajaran yang digunakan untuk menjaring para pengikut (kuantitas) demi mementingkan tujuan-tujuan duniawi. Justru ajaran tersebut akan membawa manfaat dan kebahagiaan bagi para pencari (spiritual) dan bagi para bijaksanawan dalam batin masing-masing.

Ajaran Buddha adalah ajaran laku budi pekerti. Budi pekerti terdiri dari dua kata yaitu budi dan pekerti. Budi berarti sadar atau yang menyadarkan, pekerti berarti prilaku. Secara etimologi Jawa, budi berarti nalar, pikiran atau watak, sedangkan pekerti berarti penggawean, watak, tabiat, prilaku atau akhlak.

Sedangkan dalam bahasa Sanskerta budi berasal dari kata Budh, yaitu kata kerja yang berarti sadar, bangun, bangkit (kejiwaan). Kata budi pekerti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tingkah laku, perangai, akhlak. Budi pekerti mengandung makna perilaku yang baik, bijaksana, serta manusiawi. Di dalam istilah tersebut tercermin sifat, watak seseorang dalam perbuatan sehari-hari.

Dalam khazanah kearifan lokal Buddha Dharma Nusantara, terdapat kisah fabel yang bersumber dari kisah Jataka yang terpahat dengan indah pada relief candi Mendut. Candi Mendut, terletak tidak jauh dari Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, memiliki sejumlah relief yang menarik diperhatikan yang berisi ajaran-ajaran moral.

Yang menarik sebagaimana dikisahkan di Candi Mendut adalah tentang ‘’pemangsa’’ yang berpura-pura menjadi figur pemimpin yang religius. Alkisah Si Kucing berpura-pura menjadi seorang pemimpin agama dan tampil dengan jubah, bertongkat dan memegang mala (tasbih). Tujuannya tidak lain agar bisa mendekati para tikus tanpa dicurigai.

Namun, para tikus telah terlebih dahulu mengetahui niat jahat Si Kucing. Ketika Si Kucing mendekati mereka dengan gaya “orang suci”, para tikus menyapa dengan hormat, tetapi tetap mengambil jarak dan kemudian lari. Si Kucing, untuk meyakinkan tikus, juga mengatakan bahwa sebagai ‘’orang suci’’ tidak mungkin dia akan memangsa tikus.

Tetapi, seekor tikus yang cerdas memberanikan diri dan berkata kepada Si Kucing bahwa seorang suci sebaiknya juga membawa sebuah lonceng, selain tongkat dan untaian mala (tasbih). Untuk meyakinkan para tikus, maka Si Kucing pun mulai membawa loceng yang selalu berbunyi ketika dia berjalan. Dengan adanya bunyi lonceng tersebut para tikus akan segera lari bersembunyi setiap kali mendengar tanda kehadiran si Kucing jahat yang religius. (Sumber : Sabar Subekti, http://www.satuharapan.com/read-detail/read/kucing- jahat-bawa-
lonceng)

Ajaran Buddha hadir ke dunia ini bukan untuk mengubah budaya manusia, melainkan mencerdaskan dan memperkaya budaya tersebut dengan cinta kasih dan kebijaksanaan.

Membabarkan ajaran Buddha sebagai ajaran universal menggunakan akar budaya dan kearifan lokal untuk membumikan ajaran, serta menyajikan ajaran tersebut secara kontekstual untuk menjawab kebutuhan para pencari jauh melampaui sekat-sekat formalitas keagamaan merupakan sebuah tantangan bagi para pejuang Dharmaduta. Siapkah kita untuk menjawabnya?

 

Siky Hendro Wibowo

Pemerhati pendidikan dan buddhaya, tinggal di Tangerang.

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *