
Tidak ada yang abu-abu di alam, khususnya dalam dunia binatang. Hukumnya jelas hitam putih, variasinya dapat berwarna-warni, nalurinya terarah untuk kelangsungan hidup individu sehingga populasinya dapat bertahan dan berkembang biak. Reaksi fisiologis lawan atau lari (fight or flight), diperkenalkan oleh Walter Bradford Cannon dari Harvard Medical School di awal abad ke 20.
Lawan atau lari melibatkan reaksi hormonal yang rumit yang dimaksudkan untuk mengatasi stres, mengurangi resiko ketakutan yang dapat menyebabkan kematian atau kepunahan populasi. Pada manusia, reaksi lawan atau lari dapat berputar-putar penuh intrik dan politik yang menghambat kemajuan masyarakatnya.
Pada suatu tempat, waktu, dan kondisi tertentu makhluk hidup termasuk manusia dapat melawan. Perlawanan dapat berarti perang yang melibatkan banyak individu dan memakan korban dari kedua belah pihak yang bersengketa. Para peneliti Buddhis mengatakan bahwa tidak ada pembenaran untuk perang dalam agama Buddha.
Buddhis dan perang
Umat Buddha tidak selalu memisahkan diri dari perang. Ada dokumentasi bersejarah bahwa pada tahun 621 para biarawan dari Kuil Shaolin di Tiongkok, bertempur dalam sebuah peperangan dan membantu mendirikan Dinasti Tang (618 – 907). Banyak orang Tiongkok kalau ditanya atau boleh memilih, maka akan memilih hidup di Dinasti Tang, salah satu zaman di Tiongkok yang paling damai sejahtera, hampir tanpa bencana alam yang berarti, juga seni dan budayanya berkembang dengan baik (golden age).
Menurut almarhum Venerable Dr. K Sri Dhammananda, seorang bhikkhu dan cendekiawan Buddhis, berkata: “Buddha tidak mengajarkan para pengikut-Nya untuk menyerah atau lari dari kenyataan, juga dari bentuk kekuatan jahat apa pun, baik yang berasal dari manusia lain atau supernatural”.
Pada bagian yang lain, Dhammananda mengatakan: “Umat Buddha seharusnya tidak menjadi penyerang bahkan dalam melindungi agama mereka atau hal lain misalnya keluarga. Mereka harus berusaha sebaik mungkin untuk menghindari tindakan kekerasan apa pun termasuk perang. Mereka dapat terpanggil untuk membela negara dari serangan luar, mereka tidak dapat disalahkan jika menjadi tentara atau terlibat dalam pertahanan. Namun, jika setiap orang mengikuti nasihat Buddha, tidak akan ada alasan untuk terjadi perang di dunia ini.
Adalah tugas setiap orang berbudaya untuk menemukan semua cara yang mungkin dapat untuk menyelesaikan perselisihan secara damai, tanpa mengumumkan perang untuk membunuh sesama manusia”.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, para biarawan Buddhis telah menjadi pemimpin aktivis politik dan sosial di Asia. Revolusi Saffron di Burma dan demonstrasi Maret 2008 di Tibet adalah contoh yang paling menonjol. Sebagian besar mereka berkomitmen untuk melakukan tanpa kekerasan, meskipun selalu ada perkecualian, dan selalu ada korban dari dua belah pihak yang bersengketa. Yang lebih meresahkan adalah para bhikkhu Sri Lanka yang memimpin Jathika Hela Urumaya, “National Heritage Party“, sebuah kelompok nasionalis yang sangat kuat yang menganjurkan solusi militer untuk perang sipil di Sri Lanka. Juga konflik Rohingya di Myanmar yang sedang berlangsung dan memakan banyak korban jiwa manusia.
Apakah perang itu selalu salah?
Bagi umat Buddha, perang adalah Akusala, yang artinya tidak terampil, tindakan tercela, jahat. Namun, umat Buddha seringkali ikut dalam peperangan. Apakah perang itu selalu salah? Apakah ada teori “perang yang adil” dalam Buddhis?
Barbara O’Brien seorang praktisi Zen dengan latar belakang dan pemikiran Barat, mencoba untuk mengulas masalah ini. Menurut pendapatnya, dilihat dari ruang, waktu, dan budaya, gagasan dan tindakan perang adalah bagian dari korupsi yang tidak bisa dimaafkan dari segi Dharma. Teori bahwa perang akan membawa suatu kedamaian hanyalah merupakan khayalan belaka. Setelah perang akan terjadi peperangan yang lain.
Agama Buddha menantang kita untuk melihat masalah perang, lawan atau lari, melampaui batas hitam putih, tidak sekadar pilihan benar atau salah. Dalam Buddhis, sebuah tindakan yang menabur benih karma berbahaya selalu disesalkan meskipun tidak dapat dihindari. Melakukan peperangan, membenci musuh merupakan racun. Dan setiap tindakan perang yang menabur benih karma berbahaya untuk masa depan disebut Akusala.
Moralitas Buddhis berdasarkan pada prinsip, bukan peraturan. Prinsip-prinsipnya adalah pernyataan dalam empat hal yang tidak dapat diukur yaitu cinta kasih, welas asih, sukacita simpatik, dan keseimbangan batin. Prinsip tersebut terkait pada toleransi antar manusia walaupun berbeda agama, aliran, dan pandangan. Bahkan keadaan yang paling ekstrem pun tidak dapat menghapus prinsip-prinsip tersebut atau membuatnya “benar” atau “baik” untuk dilanggarnya.
Perang melawan kemiskinan
Bayangkan dalam suatu negara, sudah berapa lama dan berapa banyak petani, peternak, nelayan juga masyarakat umum yang dikorbankan di negara yang katanya agraris, maritim tapi petaninya tidak punya tanah untuk bercocok tanam, sehingga masyarakatnya merana dan sengsara. Bahkan porsi roti terbesar dinikmati, dijarah beramai-ramai, dikorupsi oleh wakil-wakil rakyatnya secara terbuka.
Entah kapan perang untuk melawan kemiskinan dapat mulai diterapkan di segala bidang, termasuk untuk menepis kekhawatiran, kekacauan yang dihembuskan untuk kaum minoritas yang diancam, ditakut-takuti supaya tidak ikut berkarya dan tidak berpartisipasi dalam memajukan bangsa.
Seperti biasa dalam pertanyaan moralitas, saat memilih apakah akan melawan atau tidak, seorang Buddhis harus memeriksa motivasinya sendiri dengan jujur. Terlalu mudah untuk merasionalisasi seseorang memiliki motif murni padahal kenyataannya untuk keuntungan sendiri, atau pada kondisi takut dan marah. Kejujuran pada tingkat ini membutuhkan usaha dan kedewasaan yang luar biasa, dan sejarah mencatat bahwa bahkan para pemimpin agama dan aliran kepercayaan dapat berbohong kepada diri mereka sendiri.
Kembali ke dasar gerakan mau lawan atau lari itu tergantung dari masyarakat banyak bukan oleh segelitir orang yang senang kemapanan dan akan mendapat keuntungan pribadi. Puncaknya akan tercatat saat semua orang yang sudah muak akan bersedia melawan ketakutan, kemiskinan, kelaparan, dan kemapanan untuk perbaikan masa depan. Entah kapan kesempatan seperti ini akan muncul.
Bintoro Gunadi
Peminat sosiobiologi, lintas agama/aliran kepercayaan, dan ilmu pengetahuan.
Penggiat becocok tanam alami melalui daur ulang sampah organik. Pendiri www.burnabyredwigglers.com