Tiga tahun telah berlalu sejak wafatnya Yang Mulia Bhante Jinadhammo Mahāthera, salah satu bhikkhu paling senior di Indonesia. Bhante Jinadhammo berpulang pada 26 Januari 2023 di Vihara Borobudur, Medan, dalam usia 79 tahun. Meski waktu terus berjalan, keteladanan hidup dan pengabdian beliau dalam membabarkan Dhamma tetap dikenang oleh umat Buddha di berbagai daerah.
Peringatan tiga tahun wafatnya Bhante Jinadhammo menjadi momentum refleksi bagi umat Buddha untuk kembali meneladani nilai-nilai luhur yang beliau hidupi sepanjang perjalanan kebhikkhuannya. Sosok beliau dikenal luas sebagai bhikkhu yang sederhana, disiplin, dan teguh memegang Vinaya, sekaligus dekat dengan umat dalam keseharian.
Bhante Jinadhammo lahir dengan nama Sunardi di Boyolali pada tahun 1944. Setelah melalui proses pencarian spiritual dan pendalaman Dhamma, beliau ditahbiskan sebagai bhikkhu pada tahun 1970. Untuk memperdalam disiplin dan praktik kebhikkhuan, beliau kemudian menjalani pembinaan di Thailand. Lebih dari lima puluh masa vassa dijalani dengan penuh ketekunan, menjadikan beliau salah satu figur Sangha yang sangat dihormati di Indonesia.
Dalam perjalanan pengabdiannya, Bhante Jinadhammo aktif membabarkan Dhamma dan membina umat di berbagai wilayah, khususnya di Sumatera. Kehadiran beliau tidak hanya sebagai guru Dhamma, tetapi juga sebagai pembimbing rohani yang penuh kesabaran dan konsisten menanamkan nilai hidup benar melalui teladan nyata. Sikap sederhana, keteguhan dalam disiplin, serta kepedulian terhadap umat menjadi ciri khas yang melekat kuat dalam diri beliau.
Atas jasa dan dedikasi tersebut, Bhante Jinadhammo menerima penghargaan kehormatan dari Kerajaan Thailand pada tahun 2016. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas peran beliau dalam menjaga keluhuran ajaran Buddha serta kontribusinya dalam pengembangan kehidupan kebhikkhuan dan pembinaan umat.
Kepergian Bhante Jinadhammo pada tahun 2023 meninggalkan duka mendalam bagi umat Buddha di Indonesia. Namun, duka tersebut berangsur berubah menjadi tekad untuk terus melanjutkan nilai-nilai yang beliau ajarkan—hidup sederhana, berpegang teguh pada Dhamma, melayani umat dengan tulus, serta menjaga keharmonisan dalam keberagaman.
Hingga kini, ajaran dan keteladanan Bhante Jinadhammo terus dikenang dan dihidupi melalui praktik sehari-hari umat, baik dalam puja bakti, meditasi, maupun refleksi batin. Peringatan tiga tahun wafatnya beliau menjadi pengingat bahwa meskipun sosoknya telah tiada secara jasmani, Dhamma yang beliau hidupi dan wariskan tetap hadir sebagai cahaya penuntun bagi generasi setelahnya.
Artikel ini ditulis oleh: Dwi Lestari, Mahasiswa STABN Raden Wijaya yang magang di BuddhaZine















































































































































































