• Wednesday, 13 April 2016
  • Andre Sam
  • 0

Di desa nan asri, masyarakat setempat hendak melakukan hajatan. Hajatan itu mensyaratkan  menebang beberapa pohon. Ada beberapa pohon yang akan ditebang, jumlahnya kurang lebih lima. Ada pohon yang di dekat sebuah joglo, ada pohon yang di dekat rumah kepala desa, ada pohon yang di dekat rumah tokoh agama, ada pohon di samping rumah mantri desa.

Kesemua pohon itu dapat ditebang dengan lancar, hanya ada satu pohon besar dan letak pohon tersebut di depan pintu masuk desa. Pohon itu telah berdiri puluhan tahun menjaga desa dan memberi oksigen pada kehidupan seluruh desa, keteduhan bagi masyarakat, tempat perlindungan bagi burung-burung.

Masyarakat berulang kali menebang pohon tersebut, konon katanya pohon itu memang bukan sembarang pohon. Pohon itu adalah pohon penjaga desa, kemudian menyebarlah desas-desus, jika ada yang berusaha menebangnya sekali lagi, pohon itu akan meminta tumbal tidak tanggung-tanggung, berupa nyawa manusia!

Lantas adakah yang berani mengajukan diri untuk menebang pohon tersebut, sementara syarat hajatan desa adalah menebang lima pohon yang telah ditentukan? Apakah sebaiknya hajatan tersebut ditunda? Atau malah dibatalkan saja?

Berita itu sampai juga ke seorang pemuda yang masih tangkas, ia merupakan tetangga dari desa tersebut. Pemuda ini di kampungnya memang tidak terkenal, ia biasa-biasa saja tanpa ada yang perlu dilebihkan atau dikurangkan. Ya, biasa-biasa saja, seperti layaknya pemuda desa.

Ia mendatangi pohon yang akan ditebang. Beberapa orang menasihati untuk tidak usah membantu dengan menebang pohon, daripada nyawanya melayang sia-sia. Ia memiliki tujuan sederhana, hanya satu: membantu masyarakat.

Setelah hening sesaat, ia mulai mengambil kampak. “Dug! Dug! Dug!” suara kampaknya mulai menebang pohon. Ibu-ibu yang melihatnya merasa khawatir, akan ada yang menjadi korban sekarang.

Suara itu “Dug! Dug! Dug!” itu terus berlanjut hingga pada akhirnya, “Braaaakkkk!!!” Pohon itu tumbang! Pohon itu telah tertebang dengan sempurna, sehingga masyarakat bisa melangsungkan hajatannya. Tinggal mereka tanam kembali pohon dalam jumlah lebih banyak dengan ukuran kecil sebagai pengganti pohon yang telah ditebang.

Selama beberapa minggu, si pemuda ini dipantau, apakah nyawanya akan melayang karena berbagai sebab atau tidak? Masyarakat desa dibuat ketar-ketir. Dan, nyawa si pemuda tersebut, tidak ada masalah. Ia masih hidup.

Pemuda ini kemudian menjadi terkenal di berbagai penjuru desa, pemuda penebang pohon angker! Setiap mendengar namanya, penduduk desa langsung mengenalinya terkait keberhasilannya dalam menebang pohon. Meski demikian ia tetap rendah hati.

Hingga pada suatu saat, ia diminta untuk menebang pohon yang terbesar di sebuah kecamatan, karena dinilainya pohon itu terlalu besar, ia mulai meminta uang sebagai pengganti lelah. Padahal sebelum-sebelumnya ia tak pernah meminta dan tak pernah mau diberi uang. Kini, lain ladang lain belalang.

Pemuda ini sudah tak lagi seperti dahulu. Di bawah pohon terbesar se-kecamatan itu ia berusaha hening. Ia kesulitan untuk hening, yang terlintas dalam benaknya adalah berapa banyak untung yang akan ia dapatkan dari menebang pohon ini?!

Kemudian, “Dug! Dug! Dug!” kampak andalannya mulai bekerja, dalam hatinya terlintas, “Aku memang hebat!” Keakuannya muncul. Dalam kurun tujuh jam, pohon terbesar se-kecamatan itu tidak menunjukkan perubahan apa-apa, selain luka lecet. Ia tetap kokoh dan berdiri.

Pemuda itu terus berusaha menebang hingga seminggu lamanya. Namun upayanya sia-sia. Penduduk mulai berubah pikiran, pemuda ini, kini dicap sebagai pecundang bermata duitan! Tidak berguna sama sekali.

“Kenapa bisa demikian?” tanya si pemuda itu pada sesepuh.
Jawab sesepuh desa, “Karena engkau tidak tulus dalam melayani, dan keakuanmu besar sekali.”

=================

Ayo Bantu Buddhazine

Buddhazine adalah media komunitas Buddhis di Indonesia. Kami bekerja dengan prinsip dan standar jurnalisme. Kami tidak dibiayai oleh iklan. Oleh sebab itu, kami membuka donasi untuk kegiatan operasional kami. Jika anda merasa berita-berita kami penting. Mari bordonasi melalui Bank Mandiri KCP. Temanggung 1850001602363 Yayasan Cahaya Bodhi Nusantara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *